Ah, Teori

Teori lahir dari praktek, bukan sebaliknya. Inilah beberapa “teori” radio itu.

Radio 2.0

Integrasi dunia teknologi informasi dan ulasan situs-situs menarik dari dunia radio siaran.

Programa

Belajar dari program-program dan stasiun radio-radio menarik. Semoga terinspirasi.

Sosok

Belajar dari tulisan dan ulasan dari sosok-sosok inspiratif di dunia radio.

Suara

Rekaman-rekaman suara yang diunggah ke web. Ada yang menyebutnya podcast.

Home » Programa, Sosok

Belajar Bercerita dari Tuan Daisey

Submitted by on 18 January 2012 – 9:10 pm2 Comments | 2,531 views

Ada satu hal yang –menurut saya- perlahan mulai hilang, dari dunia radio di Indonesia: kemampuan bercerita! Apa maksudnya bercerita? Coba tanya diri Anda sendiri. Apa yang Anda harapkan dari mendengarkan seseorang bercerita?

Menarik? Pasti dong! Tapi menarik tidak melulu dari isi ceritanya. Menarik bisa dari cara bercerita. Menarik bisa dari sisi keberhasilan si pencerita membantu pendengarnya menciptakan sebuah gambaran atau imajinasi di benak kita lewat kemampuan deskripsi, pengaturan intonasi suara dan emosi. Singkat kata, sebuah kombinasi kreatif yang bisa membuat pendengarnya bak anak kecil yang betah berlama-lama duduk ternganga mendengarkan sebuah dongeng.

Nah, pagi tadi dalam perjalanan ke kantor saya dibuat ternganga selama sekitar satu jam mendengarkan seorang tukang cerita hebat beraksi lewat salah satu episode podcast acara radio bertajuk “This American Life.” Ini sebuah program radio publik di Amerika yang telah disindikasikan di 500 radio di Amerika dan didengarkan oleh 1.8 juta pasang telinga.

Dalam episode ke 454, mereka mendatangkan Mike Daisey dan ceritanya berjudul “Mister Daisey and The Apple Factory”. Tuan Daisey ini seorang ahli monolog dari Amerika sana. Dalam episode itu dia bercerita tentang pengalamannya berkunjung ke sebuah pabrik yang memproduksi ponsel kondang iPhone di kota Shenzen, Cina.

Tuan Daisey mengaku seorang penggila segala macam hal yang diproduksi oleh perusahaan milik almarhum Steve Jobs. Namun suatu hari, setelah melihat foto karyawan pabrik iPhone di Cina, ia penasaran untuk datang langsung dan melihat bagaimana ponsel kesayangannya itu diproduksi. Apalagi saat itu banyak beredar berita tentang kasus bunuh diri para karyawan di pabrik itu karena konon tidak mendapatkan perlakuan yang layak sebagai seorang pekerja.

Tidak mudah untuk melakukan investigasi jurnalistik di pabrik yang dijaga ketat itu. Tapi ia punya beberapa cara sendiri, termasuk berdiri di depan pabrik dengan seorang penerjemah dan bicara dengan beberapa pekerja saat mereka keluar. Sebuah teknik jurnalistik yang bagus.

Tapi yang jauh lebih tidak mudah lagi adalah ketika ia mengemas hasil investigasinya itu dalam sebuah pementasan monolog. Namanya juga monolog, tidak ada orang lain, tidak ada insert rekaman nara sumber ini dan itu, apalagi tayangan-tayangan video. Yang ada hanya dia dan ceritanya. Tapi hasilnya adalah cerita yang sangat menarik, bak menonton sebuah hasil investigasi jurnalistik yang berkelas sekaligus bak mendengarkan sebuah dongeng yang mencengangkan dan terus berbekas di dalam benak. Saking berbekasnya, saya sampai kembali mempertanyakan fanatisme saya sendiri pada produk iPhone. Bagi saya itulah titik keberhasilan seorang pencerita, ketika ia bisa menggugah perasaan apalagi tindakan pendengarnya.

Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari si Tuan Daisey ini. Para penyiar bisa belajar cara mengemas sebuah informasi menjadi cerita menarik (baca: menarik tidak melulu lucu! Bisa juga menegangkan, bisa juga dramatis!) Bahkan untuk para reporter lapangan, coba simak baik-baik program ini, pelajari cara deskripsinya, caranya bercerita. Bayangkan kalau Anda harus membuat laporan investigasi yang panjang tanpa soundbyte tapi menarik. Bisakah? Bisa! Dengar saja kalau tidak percaya.

Ya memang program ini dikemas dalam Bahasa Inggris, tapi banyak yang bisa kita pelajari untuk jadi inspirasi dalam pekerjaan kita sehari-hari di radio.

Sila dengar selengkapnya di sini (gratis kok):
http://www.thisamericanlife.org/radio-archives/episode/454/mr-daisey-and-the-apple-factory

Transkripnya juga tersedia disini (meskipun saya saran lebih menarik mendengarkan ceritanya langsung):

http://www.thisamericanlife.org/radio-archives/episode/454/transcript

Selamat belajar! Semoga Anda terinspirasi!

- Tokyo, 19 Januari 2012
—————–
Tautan terkait:

:: Tentang Mike Daisey di Youtube:
http://en.wikipedia.org/wiki/Mike_Daisey

:: Situs resmi “This American Life”
http://www.thisamericanlife.org

:: Bonus video lucu, menampilkan salah satu pementasan si Tuan Daisey dan insiden yang dia alami ketika para penonton walk out dari pementasannya bahkan ada yang menyiram skripnya dengan air :p
http://www.youtube.com/watch?v=-IeMtQ-SZtA

-rh

Popularity: 1% [?]

Tags: , , , ,

2 Comments »

  • Fairy says:

    Hi Rane,

    I’m enjoying what I’m hearing so far from Mr Daisey’s monologue, glued to every word he says! Thank you for sharing. Truly can learn a lot from this riveting storyteller.

    Hi Fairy, Thanks for visiting. He’s a great story teller isn’t he.. So inspiring

  • Qno says:

    Pak Rane, I can totally see you doing similar thing. Don’t ask why.

    And I loved the monologue too. Emang kangen deh denger cerita2 radio begitu dan ngayal :D.
    *masa kecil di antara brama kumbara :D

    Rane: Tx Qno.. This is the reason they call radio the “Theatre of Mind” :D

1 Pingbacks »

  • [...] lalu saya menulis tentang sosok Mike Daisey, seorang seniman monolog di Amerika. (baca artikel: Belajar Bercerita dari Tuan Daisey). Ceritanya belum lama ini dia mementaskan monolog tentang “liputannya” ke pabrik Apple di Cina [...]

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.