Akun ‘Abal-abal’ dan Kemalasan Kita

Belakangan ini saya makin yakin banyak akun ‘abal-abal‘ di Facebook yang memanfaatkan kemalasan kita untuk memeriksa keabsahan atau tujuan sebuah posting di media sosial sebelum membaginya. “Abal-abal‘ di sini dalam penafsiran saya bisa berarti palsu, bisa juga berarti sengaja dibuat untuk tujuan tertentu yang bukan dengan niat berbagi informasi yang benar. Bisa jadi politis, bisa jadi untuk kepentingan lain, termasuk kepentingan bisnis. Berikut ini adalah teori saya setelah sekian lama melakukan riset kecil-kecilan di Facebook. Silahkan kita diskusikan atau dibantah jika menurut Anda tidak benar.

Pertama, coba perhatikan link yang disebarkan. Biasanya hasil share dari akun Facebook yang tidak jelas (ini akan saya bahas di poin berikut) atau dari situs web yang lebih tidak jelas lagi. Patokan saya mudah saja, lihat apakah ada penjelasan tentang apa dan siapa situs web itu. Kalau tidak ada ya patut dicurigai niatnya, dong.

Kedua, sempatkanlah menelusuri dulu akun Facebook yang menyebarkan informasi itu. Ada beberapa ciri yang saya temukan:

  1. Isi profilnya (about) tidak jelas dan nama akun juga sering asal-asalan.
  2. Seringkali profil dan gaya bahasanya tidak sejalan. Misalnya: nama dan foto yang menggambarkan bocah ABG, tapi gaya bahasanya orang dewasa. Seringkali profilnya juga menampilkan foto wanita-wanita seksi untuk menarik perhatian. Kebanyakan foto-foto ini diambil sembarangan dari internet, entah itu hasil Googling ataupun dari akun Facebook lain.
  3. Akun Facebook tersebut baru dibuat beberapa bulan terakhir, apalagi jika berdekatan dengan sebuah peristiwa besar misalnya aksi unjuk rasa, kampanye dll.
  4. Isinya mayoritas bernada provokatif, cenderung menggunakan gaya bahasa yang sama dengan kebanyakan akun serupa.
  5. Dalam satu hari akun Facebook ini bisa posting sampai belasan kali dalam rentang waktu berdekatan, tak jarang bahkan rentangnya hanya beberapa menit saja. Mengapa ini bisa jadi ciri penting? Saya hanya menggunakan logika saja. Untuk apa posting sampai berkali-kali dalam rentang waktu berdekatan. Itu jarang dilakukan oleh pemilik akun biasa.

Nah, pertanyaan selanjutnya yang mungkin muncul di benak kita adalah: Buat apa mereka bikin akun Facebook ‘abal-abal’ itu?

  1. Bisa jadi memang ada niat memprovokasi atau malah mungkin sekali ada yang mengkoordinir untuk satu tujuan. Coba perhatikan daftar teman/ friends mereka. Ada kecenderungan teman-teman mereka gayanya pun sama, bahkan saling share posting.
  2. Ada juga yang memang ingin ikut terlibat dalam hingar bingar di media sossial tapi  tidak mau pakai identitas sendiri. Bukankah kalau berlindung di balik topeng di media sosial (baca: anonim) kita lebih bebas bicara apa saja. (Buat saya ini sudah penyakit hahaha)
  3. Ada kemungkinan mereka ini adalah “Peternak” akun Facebook. Nah, ini yang menarik. Ya, belakangan hari banyak yang sengaja memanfaatkan kemalasan kita untuk cek and re-check atau memeriksa kebenaran sebuah informasi sebelum membaginya, untuk kepentingan kantong mereka sendiri.Para peternak akun Facebook ini memang sengaja rutin membagi informasi yang bombastis dan kontroversial supaya cepat menambah jumlah follower dan keaktifan interaksi. Setelah cukup banyak dan aktif, baru akun itu dijual dengan iming-iming “akun aktif” dan “banyak follower“.

    Cobalah lakukan pencarian Google dengan kata kunci seperti “jual akun Facebook“. Anda akan menemukan banyak sekali yang menjual akun media sosial itu dengan harga berbeda-beda tergantung keaktifan dan jumlah follower. Nantinya si pembeli tinggal mengubah nama akunnya. Harap dicatat, hingga saat ini Facebook membolehkan kita ganti nama akun satu kali saja.

    Pertanyaannya, Memangnya buat apa membeli akun Facebook atau akun media sosial lainnya? Ada macam-macam tujuannya. Bisa jadi untuk dipakai kampanye, atau untuk tujuan politis lainnya. Tapi yang biasanya ditawarkan adalah untuk berjualan.

    Daripada susah payah merintis dari awal mending beli yang sudah aktif dan banyak follower.” Kurang lebih begitu iming-iming para peternak Facebook ini untuk menarik pembeli.

Sampai di sini, masih yakin apa yang Anda bagi di Facebook itu adalah informasi penting sekali dan sejalan dengan apa yang Anda percayai atau perjuangkan? Jangan-jangan Anda cuma dimanfaatkan orang untuk tujuan politis atau malah bisnis?

Tidak ada salahnya berhati-hati dalam membagi informasi di media sosial. Lagipula apa susahnya untuk sekedar check and re-check?

Saya jadi teringat jawaban seorang teman waktu diingatkan untuk cek dulu sebelum share: “Gue sibuk, nggak punya waktu buat Googling,” jawabnya.

Ya kalau sibuk,  jangan punya akun Facebook.

Tabik!

*Ditulis ulang dari status panjang di Facebook saya di sini.

Previous post
Next post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *