Blog: Belajar dari Kematian Jacintha

Peristiwa ini berlangsung jauh dari Indonesia, tapi orang radio manapun yang mengetahui kabar ini rasanya bisa dibuat bergidik. Semua berawal dari sebuah acara lucu-lucuan di radio di Australia.

Suatu hari, Mel Greig dan Michael Christian, dua penyiar radio 2DayFM di Sidney
Australia bersama tim produksi siaran mereka memutuskan untuk bikin acara lucu-lucuan seperti yang mungkin mereka biasa lakukan setiap hari saat siaran.

Tapi rupanya itu bukan hari biasa. Mereka menghubungi sebuah rumah sakit di Inggris tempat Kate Middleton, istri Pangeran Inggris, William dirawat. Greig berpura-pura jadi Ratu Inggris dan Christian menjadi Pangeran Charles. Semua berjalan lancar. Telepon mereka diterima oleh seorang juru rawat di rumah sakit itu yang bernama Jacintha Saldanha, dan kemudian menyambungkan ke juru rawat lain di ruang rawat Putri Kate. Akhirnya mereka terlibat obrolan yang lucu. Lucu karena dialog Inggris kedua penyiar Australia itu jelek sekali, lucu karena dialog mereka konyol, lucu karena si perawat menjawab dengan serius. Lucu!  Tapi semua jadi tidak lucu ketika tidak lama berselang, tersiar kabar kalau juru rawat yang pertama menerima telepon itu, Jacintha, meninggal dunia. Diduga keras ia bunuh diri karena malu dan merasa bersalah.

Saya bergidik mendengar kabar ini. Bergidik karena dulu semasa siaran pagi di Jakarta, kami sering membuat acara lucu-lucuan seperti ini. Menelpon seseorang, mengerjainya dan ujung-ujungnya, kami, orang yang dikerjai dan pendengar semua terbahak. Lucu! Tapi siapa pernah menyangkan kelucuan kedua penyiar Australia itu berujung maut. Tidak ada yang pernah menduga. Rasanya tak seorangpun yang bisa menduga. Lantas siapa yang harus disalahkan? Kedua penyiar tadi? Anda orang radio pasti bisa merasakan bahwa itu adalah ekspresi kreatif mereka. Bahkan sebuah jajak pendapat di Australia mendapati 2/3 pembaca mereka menganggap Greig dan Christian tidak bisa dipersalahkan. Sementara media Inggris dan banyak pihak lagi jelas-jelas menyalahkan kedua penyiar itu atas meninggalnya Jacintha. Saya sendiri tidak pada posisi berpihak. Saya hanya mengajak teman-teman sesama orang radio untuk melihat sebuah fakta, bahwa apa yang kita anggap lucu-lucuan ini bisa berujung fatal. Mungkin ini satu dari satu juta kemungkinan, tapi kasusnya sudah ada! Saya hanya bisa mengucapkan turut berduka untuk keluarga Jacintha, dan sekaligus juga turut simpati atas nasib Greig dan Christian yang pastinya tidak berniat melakukan itu.

Lantas pelajaran apa yang bisa kita petik dari peristiwa ini? Ini pelajaran teramat berharga. Seperti yang mereka ceritakan kepada BBC, kedua penyiar ini bilang mereka sama sekali tidak punya niat jahat. Bahkan apa yang mereka lakukan ini sudah pernah dilakukan oleh banyak penyiar radio lainnya. Kita di Indonesia pun sering mengerjai pendengar dengan cara ini walau tidak segila ini. Yang lebih gila juga ada. Masih ingat ketika jaman pemilihan Presiden AS tahun 2008 silam, ada dua penyiar terkenal dari Kanada yang menelpon salah satu calon Presiden, Sarah Palin dan mengaku dari Presiden Perancis Nicolas Sarkozy. Mereka berhasil dan semua terbahak.

Apes! Ini penjelasan yang paling sederhana terhadap apa yang terjadi pada Greig dan Christian. Apes se apes apesnya. Saya pernah menulis soal ulah dua penyiar Kanada yang mengerjai Sarah Palin dan disitu saya memuji-muji persiapan mereka yang super matang serta juga kreatifitas mereka. Mereka bahkan sudah pernah berhasil mengerjai orang-orang hebat dunia seperti Bill Clinton, Celine Dion, Britney Spears dan lain-lain. Tapi kini ada pelajaran lebih penting di balik kreatifitas itu: bahwa kita harus bisa mengantisipasi bahwa tidak semua orang akan tertawa. Tidak semua orang akan bisa mengapresiasi hal itu sebagai bentuk kreatifitas. Bahkan kita juga harus siap mengantisipasi apa yang terjadi kalau masalah menjadi kacau. Siapkah kita? Ini pelajaran penting pertama.

Radio 2DayFM sendiri langsung meminta maaf. Mereka bahkan harus diacungi jempol karena bertanggung jawab dan bahkan kedua penyiarnya itu mereka berikan sesi konsultasi dengan para psikolog karena ini pasti akan sangat memukul mereka. Pelajaran pejaran kedua: apa yang dilakukan penyiar di udara adalah tanggung jawab stasiun radio. Tapi perlu dicatat juga bahwa kedua penyiar ini terang-terangan mengaku siap menerima resiko apapun atas perbuatan mereka. Ini sesuatu yang patut diacungi jempol!

Pelajaran ketiga, persiapan siaran harusnya bukan hanya difokuskan pada apa yang akan dilakukan saat mengudara, tapi juga apa dampaknya. Ini mungkin belum biasa dilakukan di Indonesia, tapi di banyak media di dunia, mereka sudah paham sekali bahwa resiko sebagai media adalah bisa dituntut oleh pendengar. Siapkah kita dengan tim kuasa hukum untuk mengantisipasi hal ini? Radio 2DayFM mengaku sudah menyiapkan tim untuk membela kedua penyiar mereka.

Pelajaran ke empat: Dalam wawancara dengan BBC, Greig dan Christian mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan ini tidak langsung mengudara. Perlu waktu beberapa saat untuk memutuskan apakah hasil itu akan diudarakan atau tidak. Disnilah tim produksi akan memikirkan apakah itu layak mengudara atau tidak? Etis atau tidak? Ada yang tersinggung atau tidak? Apa dampaknya bagi pendengar, pengiklan dan stasiun radio sendiri? Dan banyak pertimbangan lain. Setelah mendengar hasil rekamannya yang banyak beredar di youtube, saya menduga bahwa tim produksi menganggap ini super lucu. Mereka sendiri mengakui tidak ada informasi penting (kondisi medis pasien) yang bocor, sehingga memutuskan untuk mengudarakannya. Saya sendiri menganggap ini lucu. Hanya saja akan lebih bagus kalau suara si perawat disamarkan. Walaupun itupun belum tentu mengubah keadaan seperti yang telah  terjadi. Jadi pelajarannya adalah, kalau mau live percayakah Anda bahwa kelucuan ini tidak akan kelewat batas? Bahkan radio 2DayFM saja tidak melakukannya secara live.

Pelajaran ke lima: kelucuan itu tidak universal. Selalu akan ada pihak yang menganggap ini tidak lucu. Masih ingat kasus sebuah televisi swasta Indonesia baru-baru ini yang meniru sebuah tayangan asing dengan mengerjain orang di wc yang tiba-tiba terangkat ke udara? Orang yang sedang ada di dalam WC belum sempat memakai celana dan itu jadi bahan tertawaan. Kalau Anda ada di posisi orang itu, tertawa kah Anda?

Pelajaran ke enam: masih banyak aspek kreatifitas lain di radio yang tidak terkait dengan mengerjai orang. Masih banyak sekali! Kelucuan memang jadi dagangan yang bagus buat menarik pendengar. Tapi bukan satu-satunya!

Ini hanya beberapa hanya beberapa hal yang rasanya patut jadi pelajaran penting buat kita orang radio. Saya yakin banyak pelajaran lain yang tidak kalah berharga yang bisa didapat dari kasus ini. Silahkan kalau mau berbagi pendapat di kotak komentar di bawah ini, supaya kita bisa sama-sama belajar.

Turut berduka buat Jacintha dan keluarganya, begitu juga buat Greig dan Christian yang pastinya entah kapan akan bisa melupakan tragedi ini dan meneruskan karirnya di dunia radio.

Salam Radio!

——

Tautan terkait:

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *