Bunga dari Bella

Secara pribadi saya tidak kenal dia dan adiknya. Saya juga tidak kenal sang ayah kecuali dari lagu-lagunya yang saya suka. Begitu juga sang ibu yang saya hanya kenal sebatas senyumannya yang pernah menghiasi kalender di kamar waktu masih remaja dulu. Senyum yang waktu itu sudah cukup membuat jantung muda saya berdebar-debar dan susah tidur.

Wajarlah ketika beberapa puluh tahun kemudian saya berdebar-debar lagi melihat si ibu kembali jadi sorotan. Namun debarannya lebih karena kesal bahkan marah melihat ulah-ulahnya yang aneh di media sosial. Saya tak henti bertanya, kok bisa ya dia jadi konyol begitu? Saya jadi rajin menelusuri berbagai akunnya di media sosial.

Nah, hari ini salah satu anaknya mengunggah foto bunga anggrek ungu di akun Instagramnya disertai pesan panjang lebar untuk orang-orang ‘kepo’ seperti saya.

“Kami memang tidak bisa memilih lahir dari orang tua yang seperti apa, tapi kami bisa memilih jadi orang yang seperti apa,” begitu antara lain tulisnya.

Walaah, sifat ‘kepo’ saya makin terpicu dan berbagai skenario muncul di kepala, mencoba menduga-duga apa yang sebenarnya tengah terjadi dalam keluarga mereka saat ini. Apalagi ketika dia menulis bahwa perbuatan ibunya adalah tanggung jawab si ibu sendiri dan jangan dikaitkan dengan anak-anaknya. Dia juga berpesan untuk lebih baik kita “menyampah” di akun ibunya ketimbang di akun dia, sang adik atau ayahnya.

Kepo! Kepo! Kepo! Topik diskusi saya dengan teman-teman di berbagai group WA dan grup media sosial lainnya jadi berkembang luas membahas macam-macam skenario dan bertukar informasi seolah kami kenal baik keluarga mereka, seakan hidup mereka adalah hidup kita. Setiap titik koma tulisan itu kami ulas seolah sebuah dokumen yang menyimpan rahasia penting negara.

Sampai kemudian di salah satu grup WA seorang teman mengajak melihat pesan si anak itu dari sudut pandang lain, sudut pandang yang buat saya rasanya tidak populer karena kurang seru.

Begini, dalam tulisannya si anak sejak awal meminta kita untuk lebih baik “unfollow” atau memblok akun ibunya daripada buang-buang waktu ikut mencaci maki dan menyerang orang. “Lebih baik menghindar dari orang-orang negatif yang bisa bikin kita jadi lebih jelek juga,” tulisnya.

Ah, saya memang punya sifat selalu ingin tahu urusan orang lain apalagi figur publik, apalagi artis yang setiap jengkal kehidupannya selalu terbuka lebar buat diintip oleh siapapun.

Ketika saya melihat si artis bahagia, pergi umrah dengan seluruh keluarga sampai pembantu sekalipun diajak, bisa keliling dunia naik jet pribadi entah punya siapa atau berfoto melenggak-lenggok di tempat-tempat terkenal di luar negeri, saya malah kesal dan mengarang macam-macam skenario pembenaran. Lantas ketika mereka dirundung bencana dan cobaan, saya juga tak kalah kesal. Masih untung saya tidak melampiaskan kekesalan itu lewat caci maki di media sosial seperti sejumlah orang lainnya.

Ah, jangan-jangan kehidupan mereka itu seperti panasea, ramuan ajaib yang membuat saya terhibur dan melupakan segala kesulitan hidup saya sendiri?

Tapi apa ramuan itu memang benar-benar manjur?

Saya lantas kembali membaca ulang salah satu bagian dari tulisan si anak itu: “Kami memang tidak bisa memilih lahir dari orang tua yang seperti apa, tapi kami bisa memilih jadi orang yang seperti apa.”

Hmm.. saya memilih jadi orang seperti apa ya?

Bojongkulur, 5 Mei 2017
– Saya

*Terima kasih untuk bunganya ya, Mbak Bella..

**Repost dari Facebook.

 

18222419_10155546640316337_5786161560691245854_n

Previous post
Next post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *