Klipping: Hebohnya Menggeser Frekuensi Radio

Sumber: Kompas, Minggu, 25 Juli 2004

MINGGU terakhir bulan Juli ini ada kesibukan baru yang dilakukan sebagian pengendara mobil di tengah kemacetan lalu lintas Jakarta. Sambil menunggu kesempatan kendaraannya bisa bergerak, mereka mengisi waktu untuk mengatur ulang memori frekuensi radio di mobilnya.

Inilah salah satu hal yang mesti dilakukan masyarakat pendengar radio. Sebab, mulai tanggal 1 Agustus nanti semua stasiun radio harus menempati frekuensinya masing-masing sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi tentang Pengalihan Kanal Frekuensi Radio Siaran FM, tertanggal 5 Maret 2004.

Mereka yang suka mendengarkan lagu-lagu tahun 1970-1980-an lewat Radio M97 (Monalisa) pada frekuensi 97.05 harus memindahkannya ke frekuensi 97.10. Para penggemar lagu-lagu lama yang biasanya setia pada Radio Delta FM di 99.50 mesti menggeser jarum radionya ke angka 99.10, dan pendengar lagu dangdut di CBB pada frekuensi 107.55 harus beralih ke 105.40.

Pendengar yang sangat memerhatikan soal lalu lintas Jakarta, yang sulit diprediksi keadaannya itu, biasanya mengetahui informasi soal kemacetan lewat radio Sonora pada gelombang 100.90. Kini mereka mesti mengganti gelombangnya menjadi 92.00.

Remaja pendengar radio yang selama ini “mangkal” di radio Prambors dan Mustang pun harus mengubah jarum radionya. Prambors yang selama ini menempati gelombang 102.30 beralih sedikit ke angka 102.20, radio Mustang bahkan mesti pindah jauh dari frekuensi 100.55 menjadi 88.00.

Kalau para pendengar radio harus menyesuaikan diri lagi dengan frekuensi yang selama berpuluh-puluh tahun ini sudah dihafalnya di luar kepala, atau menata ulang memori pada radionya, maka kesibukan yang mesti dilakukan para pengelola stasiun radio lebih rumit lagi.

“Kami tidak hanya harus mengganti peralatan teknis, mulai dari antena pemancar dan segala tetek-bengeknya, tetapi juga hal-hal yang nonteknis, seperti kop surat, kartu nama, papan nama, dan berbagai bentuk promosi lainnya. Hal yang juga tak kalah repot dan memerlukan biaya banyak,” kata Susan Masmir, Direktur Eksekutif PT Radio Sonora.

Menggiring pendengar

Keputusan untuk menata kembali kanal frekuensi radio siaran FM (Frequency Modulation) oleh pemerintah tersebut, menurut Ir Bambang P Rachmadi, Manajer Promosi Ramako Grup, sebenarnya sudah disosialisasikan kepada para pengelola stasiun radio FM sejak sekitar setahun lalu.

“Penataan kembali pemakaian frekuensi ini sudah merupakan isu lama. Penataan ini dilakukan menyeluruh, secara nasional. Kami sebenarnya bisa memahami pentingnya penataan kembali pemakaian frekuensi ini, namun ketika saatnya tiba ternyata pelaksanaannya memang cukup merepotkan dan makan biaya lumayan besar,” kata Bambang yang juga Sekretaris PRSSNI Jakarta ini.

Bamsye, nama panggilannya, mencontohkan, Ramako Grup yang antara lain memiliki radio Ramako, Mustang, dan KIS FM antara lain harus mengganti apa pun yang berkaitan dengan operasional semua stasiun radio tersebut. Mulai dari mobil operasional sampai membuat jingle baru.

“Memang sih pada satu sisi penataan frekuensi ini bagus, karena ujung-ujungnya demi meningkatkan kualitas siaran dan mengurangi distorsi,” cetus Bamsye. Akan tetapi, seperti ditambahkan Susan Masmir, hal ini juga berarti pengelola stasiun radio harus melakukan investasi kembali untuk menata kembali peralatan pemancar radionya.

“Untungnya jangka waktu penyesuaian frekuensi ini cukup lama, jadi kami bisa mengantisipasi keadaan yang bakal timbul. Misalnya, kami sudah berusaha menggiring para pendengar terhadap perpindahan frekuensi radio ini. Meskipun ketetapan hitam di atas putihnya baru keluar tanggal 5 Maret lalu. Bagaimanapun membangun image radio jauh lebih sulit daripada sekadar penyesuaian teknis peralatan pemancarnya,” tutur Susan.

Untuk menggiring pendengar, radio Sonora, misalnya, antara lain melakukan kegiatan yang diusahakan berhubungan langsung dengan para pendengarnya, seperti mengadakan “Sonora Fun Walk”. Kegiatan berjalan kaki bersama yang mengambil rute Silang Monas Barat Daya – MH Thamrin – Bunderan HI – Sudirman dan memutar di Setiabudi dengan berbagai hadiah.

Perpindahan frekuensi mau tak mau berimbas pula pada biaya promosi stasiun radio. Bagaimanapun, perpindahan frekuensi ini membutuhkan sosialisasi dan usaha untuk mengikat maupun memperbesar pangsa pendengarnya. Tanpa bersedia menyebutkan jumlah rupiahnya, Bamsye mencontohkan, untuk pembuatan jingle radio saja dia mesti memesan kembali jingle baru sampai ke Amerika Serikat (AS).

“Padahal, untuk satu stasiun radio saja, kami memerlukan sekitar 40 karakter jingle untuk berbagai program. Nah, kalau dalam waktu bersamaan semuanya harus diganti, artinya kan besar sekali biaya yang mesti dikeluarkan. Ini belum termasuk kreativitas tinggi dan waktu yang diperlukan untuk melakukan semua itu,” kata Bamsye.

Tak beda dengan Sonora, Ramako juga mengadakan kegiatan untuk mengingatkan pendengarnya pada perpindahan frekuensi radionya. Menurut Bamsye, kegiatan yang dilakukan disesuaikan dengan karakter masing-masing radio dan pangsa pendengarnya.

“Kalau untuk radio Ramako kami mengadakan berbagai seminar. Tetapi, untuk pendengar radio Mustang, ada program gathering lewat acara seperti city rally dan pertunjukan band karena pendengar Mustang adalah kalangan remaja,” ujarnya menambahkan.

Sumber daya manusia yang bekerja di stasiun-stasiun radio itu pun-terutama para penyiarnya-harus menyesuaikan diri (lagi) dengan frekuensi baru. Kalau penyiar radio Bens, misalnya, terbiasa dengan pengucapan gelombang 92.85, maka mulai tanggal 1 Agustus nanti mereka tak boleh salah, harus mengatakan radio Bens dengan frekuensi 106.20.

Sedang untuk perubahan teknisnya, kata Bamsye, pihaknya masih menunggu kedatangan peralatan pemancar baru yang harus diimpor. Maka, sambil menunggu peralatan baru, stasiun radio yang dikelolanya menggunakan peralatan pengganti sementara buatan lokal seharga sekitar Rp 150 juta untuk setiap stasiun radio.

Kenapa tidak memakai peralatan buatan lokal saja? “Kami kan harus menjaga telinga para pendengar. Bagaimanapun, selain program yang menarik, kejernihan suara menjadi hal penting untuk pendengar radio,” ujar Susan yang kini tengah sibuk memasang peralatan pemancar barunya seharga sekitar 60.000-70.000 dollar AS itu.

Inilah kerepotan dan harga yang mesti “dibayar” para pendengar maupun pengelola stasiun radio, demi menyesuaikan diri dengan rencana induk frekuensi radio siaran FM yang dikeluarkan Menteri Perhubungan Agum Gumelar MSc bulan April 2003 lalu.(XAR/CP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *