Blog: Jurnalisme Perasaan

Ibu itu terpaksa harus menjual salah satu anak kembarnya yang baru dilahirkan karena ia tidak mampu membayar biaya persalinan. Di bawah sorotan kamera, sambil berlinangan air mata si ibu mengungkapkan rasa kecewanya. Sang reporter pun bertanya Kecewanya kenapa, bu?

Dalam peristiwa lainnya, seorang reporter radio melaporkan dari lokasi rubuhnya sebuah hotel akibat gempa di Padang: “Saudara, saya sedang bersama seorang bapak yang anaknya terperangkap di reruntuhan hotel ini. Pak, bagaimana perasaan bapak?

Selamat datang di era “Jurnalisme Perasaan”. Ini istilah yang saya gunakan setiap kali melihat ada wartawan yang mengajukan pertanyaan yang bukan hanya standar, tapi sangat tidak relevan,  tidak pada tempatnya dan dari segi jurnalistik sangat amat mubazir. Pertanyaan yang paling sering saya temukan adalah ya itu tadi.. “Bagaimana perasaan anda?” hehe

Memang seringkali ketegangan tiba-tiba menyerang saat harus berhadapan live dengan nara sumber di lapangan, apalagi kalau itu dilakukan mendadak demi aktualitas berita.

Dalam keadaan seperti ini, salah satu tips yang paling ampuh (paling tidak dari pengalaman saya) adalah pakai ilmu orang biasa saja lah. Jangan bayangkan diri anda seorang wartawan, soalnya kadang kita terjebak untuk mengajukan pertanyaan yang dalam persepsi kita harus bernilai jurnalistik.. hallah.. hehe.

Dalam kasus harus berhadapan dengan si ibu yang harus menjual salah satu anak kembarnya, kadang ketika kita menjadi orang biasa, pertanyaan yang muncul pun jadi biasa. Bukan pertanyaan seorang wartawan. Coba pikirkan kalau anda kenal orang itu, apa yang kira-kira anda akan tanya kalau harus berhadapan dengannya?

Mungkin pertanyaann bisa jadi: “Ikut prihatin, bu. Tapi apa ibu ndak coba minta keringanan rumah sakit? Apa tidak coba minta bantuan dulu? Apa ibu tahu alamat orang yang membeli anak ibu?” dan lain sebagainya yang malah mungkin bisa kita kembangkan lebih baik. Ya paling tidak itu lebih baik daripada menanyakan “Kecewa kenapa bu?” atau “Bagaimana perasaan ibu?”

Bayangkan ketika jari anda tidak sengaja teriris pisau sampai berdarah-darah dan sakitnya luar biasa, dan ada yang bertanya: “Sakit ya?”.

Ya, kadang pertanyaan yang paling bagus adalah pertanyaan biasa saja. Pertanyaan orang biasa. Bukankah pendengar kita juga orang biasa..?

Salam!


 

Komentar yang dipindah dari hosting lama:

2 Comments »

23 July 2010 at 3:18 am

thanks pencerahannya, mas Jaf.
Menurutku, jurnalisme “perasaan” itu adalah dampak “tuntutan” newsroom thd jurnalis di lapangan agar selalu menghadirkan drama. lagi2 karena ilusi bahwa drama (tangisan dll) selalu bisa menghasilkan rating..
btw, saya suka semua tulisan Mas Jaf. Nuhun pisan…

27 July 2010 at 7:04 am

Thanks Ochan..

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *