Blog: Karena Radio…

Hari ini tagar #karenaRadio sempat menjadi trending topic di Twitter. Kalau dilacak ke awal sekali, sepertinya tagar ini dimulai oleh akun Twitter radio @TraxFMJKT pada pukul 7:32 pagi tadi lalu kemudian diikuti oleh banyak sekali orang radio dan juga penggemar radio.

Menarik membaca tagar-tagar itu dan ah saya juga jadi tertarik ikut meskipun tidak di Twitter. Sudah 3 bulan terakhir ini saya vakum di sana. Jadi mohon maaf sekali karena tulisan berikut ini bakal sangat personal, karena sebagian besar hidup saya memang  adalah #KarenaRadio.

#KarenaRadio saya rela mengawali karier di radio dengan berangkat kerja pukul 3 pagi di Radio Bahana untuk menjadi penulis berita yang merekam berita-berita dari beberapa siaran radio internasional dengan gaji Rp.75.000 yang habis dalam waktu setengah bulan saja haha

#KarenaRadio saya dapat kesempatan mengudara ketika atasan ketika itu meminta saya masuk studio dan siaran hanya karena penyiar yang harusnya bertugas tidak masuk. Sebuah kesempatan yang membuka jalan saya lebih luas lagi di dunia radio. Saya masih ingat sekali kata-katanya ketika itu: “Gue tahu lu sering bajak lagu di studio sebelah. Berarti udah tahu dong cara operating radio. Sana siaran!” hahahaha!!! Terimakasih tak terhingga kepada salah satu legenda radio Indonesia, alm. Zainal Marasabessy yang sangat saya hormati.

#KarenaRadio saya kemudian menjadi pembawa acara pagi yang populer ketika itu bersama seorang teman baik, dan merupakan salah satu momen yang paling tidak akan pernah saya lupakan dalam sejarah  hidup di radio ketika acara tersebut sempat menduduki peringkat ke 3 di Jakarta. Alhamdulillah.

#KarenaRadio saya bertemu dengan sosok alm. Om Jack yang mengubah total cara pandang saya tentang media dan radio khususnya. Dialah orang yang paling berperan membentuk cara pandang saya tentang radio hingga saat ini dan semua itu berangkat dari pola pikir yang sangat sederhana: “Menjadi Orang Biasa yang Tidak Biasa.” Dialah yang mengajarkan saya bahwa radio itu adalah sebuah medium ekspresi seni. Radio is an art. Semoga Allah melimpahkan berkahNya kepadamu, Om Jack. D

#KarenaRadio saya kenal dengan wanita yang kemudian menjadi istri saya. Suatu hari saat masih siaran di radio Bahana di tahun 1995, dia muncul di kantor kami yang ketika itu masih di daerah Pengadegan, Kalibata. Dari situ saya kemudian berkenalan, jalan bareng dan di tahun 1999 kami menikah dan kemudian dikaruniai seorang Putri yang sepertinya punya minat juga pada dunia radio hehe

#KarenaRadio saya kemudian sempat merasakan bekerja di Quadrant, sebuah jaringan pemberitaan yang dirintis oleh Masima Corporation yang terkenal dengan radio Delta FM, Female dan Prambors. Jaringan berita itu sudah mati tertelan zaman. Tapi di sanalah ilmu jurnalistik radio saya ditempa langsung di lapangan, tepat di era ketika Indonesia tengah dalam masa peralihan dari era Orde Baru ke Era Reformasi. Ini adalah era ketika radio mulai kembali muncul di pentas dunia jurnalisme di Indonesia. Satu guru lagi yang sangat berperan di era ini adalah Pak Djohan Teranggi. Dari beliau saya belajar banyak tentang radio sebagai sebuah theatre of mind. Ah, beruntung saya bertemu orang-orang hebat ini..

#KarenaRadio saya mendapatkan kesempatan memulai ‘debut internasional’ dengan bekerja di Radio Singapura Internasional di akhir tahun 1999 dan ternyata betah sampai hampir 10 tahun di sana. Alasan utama kenapa saya betah adalah karena di radio itu saya mendapatkan kebebasan untuk berkarya, membuat berbagai macam program, bahkan di radio itu pula saya terlibat memelopori pembuatan website dan terlibat aktif di era ketika media sosial mulai muncul ke permukaan dan konon mengancam media-media “tradisional”. Bahkan sebuah kebanggaan bagi saya ketika podcast radio tersebut mencatat prestasi dengan jumlah unduhan lebih dari 6000 hanya dalam kurang dari sebulan setelah diluncurkan. Semua kebebasan ini saya dapat di sebuah radio yang sering dicibir sebagai radio ‘propaganda’nya pemerintah Singapura itu hehehe.

#KarenaRadio saya sempat merasakan menjadi editor di sebuah radio berbahasa Inggris di Singapura setelah Radio Singapura Internasional tutup, dan bahkan sempat ditugaskan untuk meliput konflik politik di Thailand serta melaporkannya dalam bahasa Inggris dan Melayu.

#KarenaRadio saya dapat berbagai kesempatan bertemu dan melakukan wawancara dengan berbagai orang mulai dari selebriti sampai pemimpin dunia. Paling tak terlupakan adalah ketika saya berhadapan dengan pendiri Singapura, mendiang Lee Kuan Yew, PM Singapura Lee Hsien Loong, Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta dan mantan Presiden AS Jimmy Carter.

#KarenaRadio saya sempat merasakan bekerja di salah satu radio internasional tertua di dunia: Radio Jepang, NHK World. Sebuah pengalaman selama lima tahun yang tidak akan terlupakan, terutama ketika Jepang dilanda gempa paling hebat dalam sejarah dunia. NHK juga yang mengajari satu unsur penting pada diri saya yaitu kedisiplinan!

#KarenaRadio mimpi saya untuk suatu saat bicara di Radio Republik Indonesia dan mengucapkan kata “Sekali di Udara, Tetap di Udara” terwujud ketika diundang untuk bicara dalam rangka Hari Radio Internasional di tahun 2013. Sayang entah atas ide siapa, semboyan legendaris itu kini berganti jadi “Jaringan Berita Nasional”. Padahal tanpa dijelaskan semua tahu bahwa RRI adalah satu-satunya radio dengan jaringan berita nasional terluas di Indonesia. Ah sudahlah..

#KarenaRadio, khususnya karena kecintaan saya pada radio publik, saya pernah mencalonkan diri menjadi salah satu anggota Dewan Pengawas Radio Republik Indonesia meskipun banyak teman sempat memperingatkan bahwa itu adalah jabatan yang sangat politis dan sangat tidak cocok dengan jiwa saya. Toh saya sempat masuk dalam 15 besar yang dipilih oleh Presiden untuk menjalani fit and proper test di DPR. Namun ya mungkin benar kata beberapa teman. Posisi itu adalah posisi yang sangat politis dan begitu sampai di DPR semuanya tergantung pada peta politik di rumah rakyat yang terhormat itu. Well, itu pengalaman sangat berharga buat saya dan saya tuliskan semua di sini sebagai bentuk pertanggung jawaban publik saya.

#KarenaRadio, saya merasa kemampuan menulis saya jadi lebih meningkat karena di radio kami dituntut untuk membuat naskah siaran yang lebih bertutur dan itu sangat mempengaruhi tulisan-tulisan saya!

#KarenaRadio saya akhirnya berkesempatan bertemu dengan satu lagi sosok legenda di dunia radio: Nuim Khaiyyat! Saya sempat wawancara satu jam lebih dengan beliau dan ini menjadi dasar untuk buku saya tentang radio yang diluar perkiraan memerlukan waktu lama untuk saya tulis dan terbitkan. Semoga segera terwujud.

#KarenaRadio saya punya banyak sekali teman pendengar radio yang hingga kini masih akrab. Merekalah orang-orang paling penting bagi dunia radio.

#KarenaRadio walau kini saya sudah tidak bekerja di radio, tapi hati dan jiwa ini tetap radio. Sekali di udara, tetaplah di udara!

#KarenaRadio saya tetap punya obsesi untuk terus belajar dan berbagi lewat situs web ini sekaligus membuktikan kata-kata Freddie Mercury dalam lirik lagu Radio Ga-ga: “Radio Someone Still Loves You!

Demikian!

Selamat Hari Radio!!

Bojong Kulur, 11 September 2016

-Rane

2 thoughts on “Blog: Karena Radio…

  1. Perkenalkan Om Rane, sy saleh mendengarkan siaran om pertama kali tahun 99 melalui gelombang SW radio singapura internasional dikampung sy dibone hingga 10 tahun kemudian saat Om mengumumkan penutupan siaran itu ditahun 2009 klo tdk salah kala itu sy dikepulauan buton, Jendela ilmu dan wawasan yang om tularkan selama ini menuntun sy menuju singapura, insya allah tahun depan ingin melihat jepang. Doa2kan supaya bisa juga ke Amrik ya… #karena radio dan honest storytell nya …inspirasi dan motivasi menuntun kita melewatibperadaban menuju kemajuan… selamat hari radio….

    1. Salam kenal kembali Pak Achmad Saleh. Senang sekali bisa berkenalan. Insya Allah saya doakan semoga semua tercapai cita-cita ta. Semangat ki !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *