[Klipping] Di Radio, Aku Dengar Janji-janjimu…

KALAU saja almarhum seniman Gombloh pencipta lagu Di Radio masih hidup, mungkin dia akan mencipta lagu baru soal radio juga. Kali ini, mungkin isinya mengenai janji kampanye para capres yang memenuhi seluruh stasiun radio. Demi meraup suara sebanyak-banyaknya, para tim sukses calon presiden memang melakukan dengan berbagai cara. Bukan hanya melalui poster dan baliho yang mudah dilihat; stiker, spanduk, dan pamflet yang gampang dibaca; orasi dan diskusi bla-bla-bla yang gampang banget didengar; gerak-gerik unik yang bisa dilihat di televisi, tetapi juga bisa melalui suara percakapan yang gampang didengar di radio.

NAH, kalau selama sebulan ini capres dan cawapres sibuk banget berkampanye ke daerah maka sebagai pengganti kehadirannya di daerah tertentu yang sulit dijangkau, tim sukses kampanye mencari terobosan dengan membuat rekaman iklan yang disiarkan melalui radio ataupun televisi.

Secara sederhana, iklan radio tampaknya bisa dipandang efektif membujuk jutaan pemilih karena pasangan Wiranto dan Salahuddin Wahid, Megawati Soekarnoputri dan Hasyim Muzadi, Amien Rais dan Siswono Yudo Husodo, Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhamad Jusuf Kalla, atau Hamzah Haz dan Agum Gumelar tidak perlu capai-capai datang ke daerah-daerah terpencil. Kesibukan rekaman yang dilakukan salah satu tim sukses kampanye itu terlihat di Studio 25 di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Akhir pekan lalu, tiga pasangan lelaki dan perempuan asal Nusa Tenggara Barat diajak salah satu agen periklanan ke studio rekaman itu. Agen iklan tersebut mendapat pesanan dari tim sukses kampanye untuk sekaligus membuat 15 iklan kampanye.

Suara yang direkam itu bernuansa aneka macam bahasa daerah di Indonesia. Karena dana kampanye terlambat dicairkan, proses rekaman pun harus dipercepat dengan cara disebar di berbagai studio rekaman di Jakarta.

Audisi pun segera dimulai. Meski berkemampuan beriklan pas-pasan, enam pemuda yang mampu berbahasa suku bangsa Bima masuk ke dapur rekaman. Latihan dialog dilakukan cukup singkat. Lalu, tiga orang masuk ke ruang rekaman dan berceloteh mirip bahasa gaul daerahnya.

Pemeran Andi bertanya, “Babau pili kaimu Susilo Bambang Yudhoyono?” (terjemahan dari teks asli berarti: mengapa kamu memilih Susilo Bambang Yudhoyono?)

Dengan spontan, pemeran Susi langsung menjawab, “Susilo Bambang Yudhoyono gagah sih!”

Hampir empat jam, rekaman suara itu dilakukan. Mulai dari memperbaiki kata yang terkesan kaku hingga menjadi bahasa gaul yang enak didengar. Bolak-balik para pengisi suara mencoba bertutur kata. Terkadang gelak tawa di antara mereka pun terjadi.

Tak hanya mereka, petugas yang merekam suara mahasiswa itu pun tertawa geli. Sebetulnya memang susah-susah gampang. Rekaman yang dilakukan berulang kali itu kelak cuma mengudara paling lama satu menit. “Waktu segitu juga sudah kelamaan,” ujar Yoga, petugas Studio 25.

MENGINGAT kejernihan suara menjadi patokan utama penyampaian pesan, bagaimana rekaman itu bisa mencapai hasil maksimal? Dan, bagaimana pula penghitungan biaya yang dibutuhkan untuk membuat satu paket rekaman itu?

Tri Riyadi (48), pemilik Studio 25, mengatakan, suara fals dan cempreng memang harus diolah sedemikian rupa. Kesabaran menjadi modal utama demi memberikan hasil rekaman yang memuaskan bagi agen periklanan maupun pemirsa yang mendengarkan iklan tersebut.

Studio ini memang sedikit menangguk keuntungan dari riuh-rendah kampanye capres dan cawapres. Dari 15 rekaman yang ditawarkan agen periklanan, studio ini diberi kepercayaan menggarap sebanyak enam paket masing-masing untuk daerah NTB, Nusa Tenggara Timur, Papua, Banten, Maluku, dan Kepulauan Riau.

Setiap paket, kata Tri, paling tidak ditawarkan maksimal Rp 3 juta. Tawaran harga itu harus diperhitungkan dengan biaya penerjemah, banyaknya orang yang direkam, dan biaya rekam itu sendiri.

“Kalau dihitung-hitung, untungnya sih tipis. Tapi, ya asyik saja bisa berperan serta dalam menyukseskan pemilu,” ujar Tri.

Dari pengalaman sejak berdirinya pada tanggal 25 Oktober 1999, studio ini spesialis merekam iklan komersial, seperti episode Tarzan bersama Jean masuk sebuah department store dalam program jumbo sale, rekaman sabun mandi, rokok, obat generik, dan sebagainya.

Tentunya, artis juga kerap datang ke studi itu. Namun, hasil rekaman itu bukan hanya diudarakan di radio, tetapi juga disiarkan di televisi. Dari pengalaman bekerja selama bertahun-tahun di studio rekaman profesional lainnya di Jakarta, Tri kini merasa yakin akan usaha kecil-kecilannya itu.

Soal proses rekaman yang harus mirip dengan bahasa daerah tertentu, Tri berusaha mengajak orang asli dari daerah-daerah tersebut. Alternatifnya, dia menghubungi penanggung jawab anjungan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). “Wah, mencari orang asli juga enggak mudah. Penanggung jawab anjungan terkadang sudah bukan orang asli daerah itu. Kebanyakan malah sudah dipegang orang Jawa,” kata Tri.

Waktu terus bergulir. Kampanye sudah dimulai awal Juni lalu sehingga sistem kerja cepat pun dilakukannya. Tak mendapat hasil dari anjungan TMII, Tri mencari orang asli yang mau direkam itu ke kantor perwakilan daerah di sudut-sudut Jakarta.

Alhasil, semua orang daerah itu sanggup direkam. Biar agak fals dan cempreng, suara itu bisa disulap hingga enak didengar. Paling tidak, warga daerah terpencil menjadi cepat memahami materi kampanye itu melalui radio.

Kini, rezeki kampanye pun bergulir. Dan, suara bintang iklan dadakan pun bisa terdengar. (STEFANUS OSA TRIYATNA)

(KOmpas, Senin, 21 Juni 2004

Previous post
Next post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *