[Klipping] Podcast, Masa Depan Penyiaran yang Belum Pasaran di Indonesia

Belum lama ini,  CNN Indonesia menampilkan sebuah artikel menarik tentang Podcast yang mereka sebut sebagai “Masa Depan Penyiaran yang Belum Pasaran di Indonesia.”

Tulisan ini sepertinya adalah bagian dari serial tulisan tentang radio di Indonesia, namun mengajak melihat radio dari sudut pandang lain yaitu podcast. Menarik sekali karena jarang sekali podcast menjadi sorotan media di Indonesia. Karena itu layaklah diklipping di sini (dengan menyertakan sumber aslinya, tentunya).

Namun demikian ada satu saja komentar dari sekian banyak komentar gue lainnya dari artikel ini. Satu saja dulu lah.

Kenapa harus pakai rujukan Amerika, sih?

Okelah, bisa jadi ini adalah bukti saking belum populernya podcast di Indonesia sampai wartawan media sebesar CNN Indonesia saja tidak tahu (untuk tidak disebut kurang mendalam risetnya lah, atau malah kurang gaul? hehe..).

Artikel ini memang menyinggung soal podcast yang kini kembali bangkit, tapi sayang sekali yang dijadikan rujukan kebangkitan itu adalah Amerika. Kalaupun ada satu pelajaran yang bisa kita petik selama ini dari kemajuan teknologi digital adalah bahwa setiap negara punya keunikan yang semakin sulit untuk dibandingkan.

Di Amerika podcast sudah sangat mature karena sudah melewati perjalanan yang teramat panjang sejak tahun 90-an bahkan ada yang menduga sejak tahun 80-an. Wajar saja karena Amerika adalah tempat lahirnya podcast. Tapi ketika sudah merambah negara lain, dia akan menyesuaikan diri dengan konteks kehidupan masyarakat di daerah tersebut, dan itu juga terjadi di Indonesia.

Kalau saja si wartawan mau sedikit riset ekstra, misalnya cukup dengan mencari kata kunci “Podcast Indonesia” di Google, atau melakukan pencarian di iTunes (yang bisa jadi merupakan rujukan podcast terbesar di dunia), makan sudah akan muncul podcast-podcast asal Indonesia. Mau lebih dalam lagi risetnya, maka si wartawan akan menemukan fakta menarik bahwa podcast di Indonesia itu sejarahnya jauh berbeda dengan Amerika.

Oke, mohon maaf, Tidak adil rasanya mengadili si wartawan dengan cara ini. Mungkin justru dia ingin menunjukkan bahwa podcast belum dikenal di Indonesia. Mungkin si penulis ini gemas saja karena setelah sekian lama -sejak awal 2000 pastinya- dia merasa ngoceh sendiri di Podcast, tiba-tiba di awal tahun ini menemukan satu persatu podcast Indonesia bermunculan bak jamur di musim hujan.

Ini jelas fenomena menarik sekali kalau saja mau diamati secara seksama.

Jadi memang sepertinya kita harus berterima kasih pada artikel ini. Silahkan baca selengkapnya di bawah ini atau langsung lah main ke laman aslinya di CNN Indonesia di sini: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180401031240-241-287315/podcast-masa-depan-penyiaran-yang-belum-pasaran-di-indonesia

Catatan: Buat yang penasaran ingin tahu apa saja podcast asal Indonesia, silahkan coba cari di Soundcloud.com atau di direktori podcast Indonesia yang gue lagi kembangkan. Sejauh ini gue sudah mendata paling tidak 50 podcast Indonesia yang aktif dan satu persatu akan gue tambahkan di direktori Podcast Indonesia yang ada di sini.

~~~

Podcast, Masa Depan Penyiaran yang Belum Pasaran di Indonesia

Resty Armenia, CNN Indonesia | Minggu, 01/04/2018

Jakarta, CNN Indonesia — Format siaran terus berkembang seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi dan kompleksitas kebutuhan manusia. Beberapa tahun belakangan, muncul siaran audio melalui internet yang biasa disebut podcast.

Merujuk artikel Guardian pada 2004 silam, jurnalis Ben Hammersley menyebut bahwa poddatang dari pemutar media digital ciptaan Apple, iPod. Sedangkan cast adalah kependekan dari broadcast atau siaran. Namun, kini podcast bisa diputar dari pemutar media apapun.

Sepintas podcast terdengar seperti radio. Pendengar akan disuguhi serial audio berisi obrolan penyiar akan suatu topik dan diselingi musik-musik pilihan. Namun, sebenarnya keduanya lumayan berbeda.

Tak seperti radio yang memiliki jadwal untuk program-programnya, pendengar bebas mendengarkan podcast kapan saja mereka mau dan topik apa yang mereka ingin dengarkan. Sederhananya, podcast seperti vlog di saluran Youtube, namun tanpa visual.

Selain itu, jika enggan streaming, pendengar bisa mengunduh audio podcast terlebih dahulu, menyimpannya, dan memutarnya jika diinginkan layaknya saat mengunduh lagu. Sebagian besar podcast ini bisa diunduh secara gratis.

Beberapa bulan belakangan ini podcast kembali ramai didengarkan, terutama di Amerika Serikat dan Inggris. Konten yang disiarkan semakin unik, kreatif dan mengerucut, sehingga pendengar bisa dengan mudah mencari saluran yang paling sesuai dengan minat dan hobi mereka.

Podcast semakin menjadi pilihan lantaran tingginya intensitas perjalanan orang-orang masa kini. Mereka yang menghabiskan banyak waktu di jalan, baik di mobil maupun transportasi publik, memilih untuk mendengarkan podcast agar tetap mendapat wawasan baru dan, di saat yang sama, terhibur.

Listening to podcasts on your HomePod can easily become part of your daily routine. Here are some of the perfect shows for every part of your day.https://t.co/CcJE4JB9bbpic.twitter.com/IUG80Y7Xg3
— Apple Podcasts (@ApplePodcasts) March 25, 2018

Podcast Kembali Jadi Pilihan

Sempat meledak di awal kemunculannya lebih dari satu dekade silam, podcast kini kembali menjadi pilihan, terutama di Amerika dan Inggris. Tren ini tampaknya juga akan mewabah hingga ke regional lain, termasuk negara-negara Asia.

Nic Newman baru-baru ini merilis hasil studi Journalism, Media, and Technology Trends and Predictions 2018 gagasan Reuters Institute for the Study of Journalism dan University of Oxford.

Di sana tercatat bahwa berdasarkan survei terhadap 194 editor, bos, dan pejabat perusahaan media digital dunia, diperkirakan pada 2018 media dengan format audio akan mengalami peningkatan.

“Sebanyak 58 persen penerbit [media] mengaku akan fokus pada podcast, dengan proporsi yang sama menilik pada konten untuk speaker [pengeras suara] yang diaktivasi menggunakan suara,” tulis Newman dalam hasil risetnya.

Selain itu, Newman juga menyebut konsumen media digital juga mengalami perubahan tingkah laku. Laporan The Smart Audio dari Edison Research menunjukkan bahwa 65 persen pemilik gawai mendengarkan lebih banyak musik, dengan peningkatan signifikan untuk berita, podcast, dan buku audio.

Berdasarkan laporan The Smart Audio dari Edison Research, 65 persen pemilik gawai menggunakan pengeras suara pintar untuk mendengarkan musik, 29 persen untuk berita, 20 persen untuk podcast dan 18 persen untuk buku audio.

“Ini semua akan menambah ganggan jadwal radio dan mendorong lebih banyak penggunaan audio on-demand,” tulis Newman.

“Merespons tren ini, perusahaan media yang masuk survei kami mengatakan bahwa mereka akan berinvestasi lebih banyak tahun ini untuk media berbasis audio seperti podcast [58 persen] dan eksperimen konten pendek [58 persen] yang asli bagi platform baru. Inisiatif ini dianggap lebih penting bagi penerbit dibanding bentuk video [47 persen] dan dua kali lebih penting dari realita virtual [25 persen].”

“If your character shifts depending on who is in power, then was it your character to begin with?”@TheDailyShow host @Trevornoah joins @Oprah at the Apollo Theater for a captivating conversation. Listen to the full interview on #SuperSoulConversations.https://t.co/oBMcs9biY0 pic.twitter.com/qFjhgv2OM3
— Apple Podcasts (@ApplePodcasts) March 19, 2018

 

Bukan Ancaman Bagi Radio

Kembalinya podcast sebagai salah satu pilihan ternyata tidak dianggap sebagai ancaman bagi para praktisi siaran radio. Alih-alih, platform ini disebut bisa menjadi pelengkap yang bagus.

Eks penyiar 96,7 Hitz FM Adit ‘Insomnia’ berpandangan bahwa kemunculan format digital apapun sebenarnya sudah menjadi ancaman bagu radio. Namun, podcast sendiri, menurutnya, dibuat oleh orang-orang yang mungkin tidak punya keahlian dasar penyiaran, sehingga para praktisi radio tidak usah khawatir ‘lapaknya’ direbut oleh penyiar podcast.

“Selagi kita masih bisa memberikan siaran yang lebih variatif dan informatif, sepertinya podcast bukan menjadi ancaman. Justru kita bisa saling membagi informasi dan saling melengkapi. Misalnya, ‘Oh si podcast itu sudah ngomong ini lho.’ Jadi bukan menjadi ancaman,” ujarnya kala menyambangi kantor CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Senada dengan Adit, penyiar OZ Radio Rizky Danto menganggap podcast sebagai pelengkap. Karenanya, stasiun radio tempatnya bekerja kini mulai akan membuat acara-acara spesial yang memuat genre musik khusus dengan format podcast.

“Menurut saya [podcast] itu bisa menjadi komplementer untuk siaran,” katanya.

“Mungkin orang sini lebih suka visual, seperti Youtube kan, orang lebih suka vlog. Kalau audio ya orang lebih suka radio karena sudah menjadi kebiasaan,” ujar Adit.Sementara, penyiar Trax FM Jakarta Davy Andry menilai podcast masih belum terlalu menjadi pilihan di kalangan masyarakat Indonesia. Ia menduga konten podcast selama ini masih belum ada konten yang cocok dengan keinginan pendengar.

“Sepertinya masih kesulitan untuk kontennya ya. Dan apakah orang-orang Indonesia sama dengan orang luar yang suka mendengar podcast? Bisa jadi tidak suka, karena berbeda,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Di luar sana itu kontennya gila sekali. Ketika saya melihat judulnya itu bisa semangat 45, sambil berpikir, ‘Ini orang kok bisa begini ya? Dia mikir apa ya?’ Lalu mendengarkan mereka. Tantangannya justru bisa tidak saya catch up dengan dia? Dan apakah pendengar di Indonesia juga senang? Bisa jadi tidak senang.”

Sedikit berbeda dengan Davy, Adit dan Danto menganggap bahwa orang Indonesia masih belum memiliki kebiasaan mendengarkan podcast.

Adit menyebut selama ini orang Indonesia lebih senang visual. Karenanya, vlog lebih populer daripada media berbasis audio seperti radio atau podcast.

Sepakat dengan Adit, Danto menuturkan, “Itu sepertinya karena kebiasaan. Jadi harus dibentuk kebiasaan orang Indonesia untuk mendengarkan podcast yang berbobot, jangan yang santai-santai saja.” (res)

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180401031240-241-287315/podcast-masa-depan-penyiaran-yang-belum-pasaran-di-indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *