radio-250245_1280

Lagu Tentang Radio dan Penggambaran Sebuah Era

Lagu Indonesia apa yang liriknya bertemakan radio?  Mungkin banyak yang akan langsung bilang “Di Radio” oleh Gombloh yang sebenarnya berjudul Kugadaikan Cintaku. Padahal  ternyata masih banyak lagu-lagu lainnya seperti yang saya coba ulas di artikel kali ini. Menariknya, bagi saya lagu-lagu ini bisa menggambarkan peran radio bagi para pendengarnya di masa-masa ketika lagu tersebut keluar atau sedang tenar.

 

Era Keemasan Para Penyiar

“Dikau penyiar pujaan pendengarmu/ suaramu sungguh merdu”

Salah satu lagu bertemakan radio paling tua yang bisa saya temukan adalah Balada Penyiar Radio dari Bimbo. Sepertinya ini lagu yang menggambarkan bagaimana radio di masa itu memegang peranan utama sebagai teman lewat sapaan-sapaan penyiarnya yang akrab dan menyentuh kalbu. Ini tergambarkan pada lirik-lirik lagu Bimbo yang begitu memuja-muja para penyiar yang banyak menjadi idola di masa-masa ketika pilihan media belum sebanyak sekarang. Penyiar yang selalu dirindukan ketika suara mereka hilang dari udara.

“Di udara, hilang suaramu/ di udara terasa kelam/ lagu merdu, terasa kelabu/ kemanakah gerangan tuan…”

Masa-masa keemasan para penyiar radio ini juga masih tercermin pada lagu Penyiar Radio oleh raja  campursari, Mas Didi Kempot yang berterima kasih pada penyiar karena suaranya selalu menyenangkan dan tak bisa dilupakan.

“Penyiar radio aku matur nuwun karo kowe/ suaramu kuwi pancen nyenengake/ penyiar radio aku sabendino ngrungoake/ suaramu ora biso dilaleake”

 

Era Kirim-kiriman Salam

“Di radio aku dengar lagu kesayanganmu/ kutelepon di rumahmu sedang apa sayangku/ kuharap engkau mendengar/ dan kukatakan rindu”

Bisa jadi lagu Kugadaikan Cintaku dari almarhum Gombloh ini paling mudah diingat kalau bicara soal radio. Lagu ini kurang lebih mewakili sebuah masa ketika radio menjadi ajang pacaran lewat kirim-kiriman salam dan lagu via sang penyiar. Kadang juga kirim-kiriman lagu ini dipakai untuk menyatakan kerinduan seperti lirik lagu Radionya Sheila On 7.

“Lewat radio aku sampaikan/ kerinduan yang lama terpendam/ terus mencari biar musim berganti/ radio cerahkan hidupnya/ jika hingga mati ku tak bisa menemukan hatinya.”

 

Era Berburu Musik

Ada masa ketika radio menjadi sumber utama pengetahuan kita tentang musik. Kelompok Endank Soekamti lewat lagu mereka Rock Radio misalnya menggambarkan masa-masa ketika para penggemar rock hafal sekali radio-radio mana saja yang punya acara rock dan dengan setia nongkrong di depan radio ketika acaranya dimulai.

“Kuganti-ganti channel radioku/ kucari-cari frekuensi itu/ slalu kutunggu keras suaramu/ stasiun favorit kebanggaanku”

Masuknya era internet merupakan berkah tersendiri bagi para penggemar musik karena nyaris semua informasi dan lagunya sekalian bisa didapat dengan mudah. Namun sebelum era itu, radio adalah andalan untuk mencari lagu terbaru, bahkan tak jarang sampai ada yang merekamnya di kaset.  Menariknya David Band yang relatif baru, menggambarkan itu lewat lirik lagu mereka Radio di thaun 2014.

“Aku pernah dengar satu lagu yang indah/ sesuai dengan suasana aku tak mau kompromi/ aku coba cari itu milik siapa/ kuingin dengar ingin dengar lagi/ setelah coba tuk cari/ tak dapat aku temui/ lebih baik kuminta saja/ dari sebuah acara di radio”

 

Era ‘Background Noise

Istilah Background Noise ini saya pinjam dari lirik lagu Radio Gaga milik Queen yang dalam penafsiran saya menggambarkan masa ketika radio menjadi latar belakang dalam keseharian, ketika suaranya selalu terdengar di sekitar kita tanpa benar-benar kita mendengarnya secara khusus.

 “So don’t become some background noise/ a backdrop for the girls and boys/ who just don’t know or just don’t care/ and just complain when you’re not there”

Mungkin di masa-masanya Freddie Mercury dan kawan-kawan, radio memang disimak dengan penuh perhatian sebagaimana layaknya menonton televisi sehingga mereka mengkritik generasi yang mendengarkannya sambal lalu.

Tapi kenyataannya memang ada masa ketika radio menjadi latar keseharian kita. Yang penting radio menyala saja baik untuk teman belajar, bekerja atau beraktifitas dan malah rasanya ada yang kurang ketika suara latar itu tidak terdengar. Lagu Radio dari Base Jam menggambarkan suasana ini dengan pas. Liriknya menceritakan perjalanan dari pagi, menembus kemacetan sampai pulang, terus ditemani radio.

“Gelombang ku ganti penyiar menyapaku/ temani diriku/ musik yang ku dengar lagu demi lagu/ sehari bersamaku/ radio temani diriku/ radio slalu bersamaku”

Bicara soal radio sebagai background keseharian -ini sedikit menyimpang dari lagu- sinetron Si Doel Anak Sekolahan sering sekali menyertakan suara radio tune berita dari RRI atau suara penyiar membacakan daftar harga sayur mayur di latar belakang bercampur dengan suara kicauan burung perkutut, suara pedagang jalanan dan suara-suara latar lainnya. Ada yang menangkap nuansa itu?

~~~

Oke, sebelum saya dianggap terjangkit sindroma romantisme masa lalu atau penyakit susah move on kronis, saya mau tutup saja dengan satu kesimpulan dari tulisan panjang lebar ini.

Dalam pendapat saya, radio sudah menempuh perjalanan panjang dan melalui berbagai masa yang berbeda-beda serta audiens yang juga berbeda-beda, dan saya yakin masih akan terus melewati berbagai hal menarik lain yang sesuai dengan zamannya.

Apa yang terjadi pada radio saat ini bukanlah soal berlalunya sebuah era media yang ditumbangkan oleh media yang lebih baru, tapi bagaimana media itu tetap bisa relevan bagi audiensnya dan tidak ada yang lebih relevan lagi bagi media radio selain untuk terus menjadi teman bagi pendengarnya.

Alih-alih mengeluhkan mengapa radio semakin hari semakin ditinggalkan pendengarnya, kenapa justru kita tidak bertanya sudahkah radio berusaha menyodorkan sesuatu  yang dapat membuat pendengar tidak lari? Cuma mengubah sudut pandang saja kok, tapi mungkin dampaknya akan besar.

Apa harus menunggu sampai ada lirik lagu ala Gombloh yang seperti ini?

 “Di Spotify, aku dengar lagu kesayanganmu/ ku Whatsapp ke hapemu, sedang apa sayangku..

:p

Salam,

Rane

____

Tautan terkait

Di bawah ini beberapa lagu bertemakan radio yang berhasil saya dapatkan, lengkap dengan video klipnya (yang bisa di klik di judul lagu). Kalau ada yang lain, ayo ditambahkan. Siapa tahu kita bisa dapat banyak cerita lagi dari lagu-lagu itu.

 

  1. Balada Seorang Penyiar – Bimbo
    Entah tahun berapa lagu ini dirilis, tapi kalau melihat kiprah mereka yang sudah ada sejak tahun 196-an, bisa jadi ini lagu paling tua yang bertemakan radio. Balada Seorang Penyiar ini bercerita tentang bagaimana seorang penyiar selalu menemani pendengarnya, meskipun wajahnya tak pernah dikenal, namun suaranya selalu menyentuh. Bahkan saat mereka hilang dari udara, muncul kerinduan tersendiri.
  2. Penyiar Radio – Didi Kempot
    Penyanyi Campursari terkenal Didi Prasetyo atau lebih dikenal dengan Didi Kempot punya satu lagu yang dipersembahkan untuk para penyiar radio. Lagunya berirama pop dengan lirik bahasa jawa yang penuh puja-puji pada para penyiar radio.
  3. Kugadaikan Cintaku – Gombloh
    Bisa dikatakan ini adalah lagu paling klasik yang menggambarkan peran radio pada masa-masa jayanya dulu, meski liriknya tidak murni cerita tentang radio. Liriknya bercerita tentang seorang lelaki yang kangen sang pacar setelah mendengar lagu kesayangannya di radio. Tapi ternyata saat apel ke rumahnya, dia melihat si pacar dengan lelaki lain.
  4. Radio – Sheila On 7
    Lagu ini ada di track kedua album 507 yang dirilis tahun 2006 dan menggambarkan seseorang yang mengirim ungkapan rindu buat wanita idamannya. Khas sekali dengan peran radio yang dipakai untuk kirim-kiriman salam dan itu tergambar di lirik dan juga video klip mereka.
  5. Rock Radio – Endank Soekamti
    Lagu yang ada di album ketiga berjudul “Sssttt…!!!” besutan tahun 2007 ini diawali dengan efek suara orang mencari gelombang radio, hingga terdengar suara “Anda sedang mendengarkan radio Soekamti FM.” Video klipnya juga menggambarkan sang vokalis sedang mendengarkan radio. Uniknya, di salah satu bagian video klipnya digambarkan radionya sempat rusak, sampai kemudian ada yang menyambungkan transistor ukuran besar. Ah, masih ada yang ingat radio transistor? :p
  6. Radio – David Band
    Pernah mendengar satu lagu yang disukai dan penasaran mau dengar lagi? Kalau sekarang tinggal googling saja. Tapi dulu kita harus request ke radio. Kurang lebih seperti itu lirik lagu dari David Band ini yang relatif baru karena dirilis tahun 2014. Lagu ini memang merupakan bentuk apresiasi penghargaan terhadap media radio dari David Band yang dulu bernama Goliath.
  7. Radio – Base Jam
    Lagu ini diawali dengan efek suara mencari gelombang radio yang menampilkan lagu base jam, wawancara mereka dan suara penyiar mengantarkan lagu-lagunya. Liriknya menggambarkan masa-masa ketika radio menemani kehidupan kita setiap saat dari pagi sampai malam. Diambil dari album ketiga Base Jam bertajuk “Ti3a” yang dirilis tahun 1999.
  8. Radio – The Radio
    Kelompok band asal Yogyakarta ini rasanya belum banyak dikenal, padahal lagu-lagunya cukup menarik. Di tahun 2012 lagu mereka berjudul Radio menjadi salah satu soundtrack film berjudul Seandainya.
  9. On The Radio – Souljah
    Lagu bernuansa reggae ini unik sekali. Namun sayang sudah coba googling liriknya tidak ada. Sementara lagunya yang saya temukan di youtube susah didengarkan liriknya.
  10. Radio – The Upstairs
    Diambil dari single kedua The Upstairs dari album Magnet yang dirilis tahun 2009. Sayang liriknya juga belum pernah ketemu. Namun ada satu artikel menarik di Facebook The Upstairs  tentang lagu ini.
  11. Radio – Drew
    Kelompok musik asal Jakarta ini pernah merilis lagu berjudul Radio di tahun 2011. Yang menarik, di video klip mereka semua menampilkan sosok penyiar-penyiar radio.

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tags: ,
Previous post
Next post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *