Blog: Layanan Streaming Musik: ‘Quo Vadis’, Radio?

Spotify sudah beberapa bulan ini masuk ke Indonesia dan bersaing dengan layanan-layanan streaming musik seperti Apple Music, Guvera, Ohdio, Joox, Langit Musik dan lain sebagainya. Bahkan dari segi langganan bulanan saja Spotify sudah menawarkan harga yang di bawah pesaingnya tapi juga tetap menyediakan layanan streaming musik gratis dengan iklan. Seru! Seru!

Sebagai orang radio djaman dahoeloe, saya melihat fenomena streaming musik ini sangat menarik, sekaligus juga tertantang mengajukan pertanyaan: lantas mau dibawa ke mana radio siaran?

Saya mencoba melihatnya dalam beberapa poin berikut..

Radio gratis, bro!

Yup. Radio adalah media free to air alias gratis. Tapi layanan streaming musik juga ada yang gratis kok. Spotify misalnya bisa didengarkan gratis dengan iklan. Apa bedanya dengan radio? Memang musik streaming ada yang layanan berlangganan, paling murah sekitar 50 ribu perak per bulan. Tapi dengan langganan itu kita bisa dapat akses musik sepuasnya tanpa iklan (sounds familiar, hey radio people?), dan kalau nggak suka lagunya bisa kita skip ke lagu berikutnya (radio bisa di skip, gitu?).

Radio Tidak Perlu Bandwith/ Data dan Koneksi Internet

Betul! Tapi akses data ponsel kini semakin terjangkau, bukan? Ada yang pernah menghitung bahwa dengan satu gigabyte data kita bisa mendengarkan Spotify dengan kualitas standar selama hampir 24 jam. Terlebih lagi, Spotify misalnya punya layanan yang memungkinkan kita mengunduh terlebih dahulu lagu-lagunya dengan koneksi wifi lalu didengarkan secara offline. Itu yang saya lakukan setiap malam untuk persiapan perjalanan ke kantor. Mereka juga bisa dengan otomatis menyesuaikan kualitas audionya dengan koneksi internet yang tersedia.

Radio Bisa Didengarkan Di Mana Saja

Bad news, bro! Mana yang lebih dekat  dengan kita sekarang: alat pemutar radio atau ponsel? Rasanya ponsel adalah teman paling dekat kita saat ini. Djaman saya doeloe, bisa punya radio kecil yang bisa masuk kantong itu gaya banget. Kemudian muncul beberapa jenis ponsel yang dilengkapi aplikasi radio terrestrial. Malah sampai sekarang masih banyak ponsel yang dilengkapi dengan aplikasi radio terrestrial. Tapi masihkah kita mendengarkannya?

Radio Musiknya pilihan!

Nah, ini dia yang paling digemari dari radio, yaitu jenis musik yang segmented. Di sini peran music director jadi sangat penting untuk memilah musik-musik yang sesuai. Tapi layanan streaming musik tidak mau kalah. Mereka punya pembagian musik berdasarkan genre, lokalitas/ negara, situasi (musik teman tidur, musik untuk lari dll) dan –ini yang dulu jadi kelebihan radio- musik pilihan para pendengarnya yang dibuat dalam bentuk playlist dan bisa dibagi dengan teman-teman lain melalui media sosial.  Bayangkan kita kini punya banyak music director?

Nah! Bahkan dengan algoritma tertentu, layanan-layanan streaming ini bisa mengenali pola musik kita dan merekomendasikan musik-musik serupa seperti yang dimiliki oleh Pandora dengan teknologi Music Genome Projectnya yang buat saya sangat jenius. Belum lagi koleksi-koleksi musik layanan streaming itu yang rasanya susah disaingi. Spotify, misalnya punya 30 juta koleksi lagu dari berbagai genre, dari berbagai negara.

~~~

Poin-poin di atas bisa terus bertambah dan bertambah dan bisa kita perdebatkan panjang lebar, tapi buat saya ada satu poin penting di radio yang susah untuk disaingi oleh layanan streaming musik yaitu ketika tidak hanya bicara tentang musik.

Radio Bukan Cuma Musik, Bro!

Ketika bicara radio kita seringkali selalu bicara soal musik, musik dan musik. Padahal ada satu  satu unsur penting yang menjadi kelebihan radio yaitu sang penyiar. Mereka ini bukan sekedar sosok-sosok yang mengantarkan lagu atau menyampaikan informasi. Mereka adalah sosok-sosok yang menjadi teman di udara, yang membuat radio memiliki sentuhan manusia.

Tapiii…

Masalahnya, banyak radio saat ini yang malah menjadikan para penyiarnya ibarat bagian dari lagu yang sangat diatur apa yang harus mereka bicarakan, berapa panjang durasinya, kapan boleh bicara dan seterusnya. Mungkin ini penting dalam pemrograman radio, apalagi radio komersial. Tapi lebih sering penyiar itu jadi ibarat robot saja. Jarang ada radio yang menempatkan si penyiar sebagai pusat dari sebuah program radio.

Pernah ada masa ketika radio digemari pendengar karena sosok penyiarnya. Apapun yang diucapkannya akan menarik perhatian, bahkan lagu-lagu yang diputarnya menjadi populer karena kepandaiannya meracik lagu-lagu itu dan mengantarkannya dengan sedemikian menarik. Saya masih ingat bagaimana pernah ada masa dulu ketika kaset-kaset kompilasi dari acara radio sangat populer.

Kini, bahkan ada radio yang mengusung diri sebagai radio musik dan hanya musik. Si manusia di belakang mikrofonnya bahkan tidak terintegrasi dengan lagu-lagu itu. Mereka hanya muncul sesekali untuk membacakan informasi  (seringkali benar-benar membaca dan tidak lagi bertutur), menyampaikan iklan baca bak robot, atau membacakan request lagu.

Maka ketika layanan streaming musik semakin ramai masuk ke Indonesia, mau dibawa kemana nasib radio siaran?

Berubah? Menyesuaikan diri?

Hmm.. Kok saya malah berpikir akan lebih penting kalau radio kembali ke khittahnya yang sudah lama ditinggalkan yaitu menjadi teman bagi pendengarnya dan bukan menjadi mp3 player yang disebarkan lewat frekuensi radio.

Kalau tidak, ya –mengutip istilah anak-anak muda sekarang-..

Kelar deh hidup lo!

Artikel terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *