Blog: Lelaki Pecinta Malam

Pengantar: Senang sekali menemukan kembali cerpen ini yang pernah saya tulis di tahun 2008 di sebuah blog anonim lama yang bahkan passwordnya saja sudah lupa. Tidak ada alur cerita di sini, siapa tahu Anda mencari-cari. Cerpen ini hanyalah cetusan momen sesaat yang terinspirasi dari  lirik-lirik sebuah lagu klasik dari Genesis berjudul Alone Tonight, sebuah lagu yang populer dari masa ketika saya suka mendengarkan sandiwara radio Catatan Si Boy di Radio Prambors, radio kesayangan dulu. Zaman memang sudah berganti, tapi buat saya lagu ini adalah contoh keberhasilan sebuah dalam membenamkan kenangan akan sebuah era. Sebuah era ketika gaya Bahasa Mas Boy pun jadi gaya bahasa anak-anak masa saya itu. Tul gak, cing? hehe

Selamat menikmati..

~~~

MALAM adalah waktu yang paling sakral buatnya. Ketika waktu telah melewati pertengahan malam, saat anak istri dan seisi rumah sudah mulai tersedot ke dalam pusaran tidur yang dalam, kehidupannya justru baru dimulai.

Ia menggeser tubuh ke tepi ranjang, bergerak sepelan mungkin agar ranjang tua itu tidak berderit  membangunkan istrinya yang sudah mulai mengeluarkan dengkuran halus dalam kemulan selimut.  Kakinya meraba-raba lantai yang dingin sampai menyentuh sepasang sandal yang langsung dipakainya melangkah pelan, nyaris berjinjit, keluar kamar.

Ruang kecil yang lebih tepat disebut gudang daripada kamar kerjanya itu gelap dan lembap. Hanya ada lampu baca kecil yang menyala di atas meja menyisakan jejak cahaya bulat bak lampu sorot di atas sebuah panggung tua. Yang disorot juga tidak kalah tua: sebuah iPod klasik warna putih dengan kabel headphone tergulung rapi. Perlahan ia mengurai kabel putih itu dan memasang kedua ujungnya di telinga kiri dan kanan. Tangannya mulai memutar-mutar, menekan-nekan, mencari satu lagu ‘kebangsaan’ yang selalu mengawali ritual malamnya.

There’s nothing here that I can understand
And no one cares I’m a lonely man
I touch your face and I don’t know why
I call your name but you’re going by
Now I’m alone again 
[1]

Perlahan suntikan energi mulai merasuki seluruh tubuhnya. Dulu semasa SMP dan SMA, lagu ini adalah penanda waktu saat puncak malam tiba. Saat suara Phil Collins di radio kesayangannya mulai hilang digantikan suara gemerisik, itu pertanda malam sudah melewati pertengahan. Ia tidak akan mematikan radio kesayangannya itu dan justru membiarkan suara gemerisik dari pemancar yang sudah dimatikan itu menemani tidurnya sampai pagi saat ketika pemancar dihidupkan lagi nun jauh di studio Jalan Borobudur[2] sana yang sekaligus menjadi penanda ia harus bangun dan bersiap sekolah.

~~~

Suatu saat ia menemukan lagu ini kembali di salah satu situs multiply.com. Rasanya seperti menemukan kembali energi hidupnya yang semakin tergerus waktu dan usia. Lagu karya Mike Rutherford sepanjang 3.50 menit itu langsung masuk ke iPod Classic 30 Mb warna putih, satu-satunya benda modern yang paling ia kagumi. Hidupnya pun berubah. Kalau dulu lagu itu merupakan penanda tidur, justru sekarang ia menjadi teman bercengkerama dengan malam.

Kursi putar besi di sudut kamar belajarnya berderit ketika harus menopang bobot tubuhnya  yang kini sudah berlipat-lipat dari beratnya dulu, kebanyakan karena timbunan lemak.

Diraihnya sebentuk buku dari dalam laci yang tadinya terkunci, menyalakan lampu belajar, membentangkannya di atas meja, meraih pulpen dan sejenak matanya menerawang, berusaha mengingat hari dan tanggal. Ah, otaknya pun seperti sudah tergerus waktu. Tak pernah ia berhasil mengingat tanggal dan hari itu sampai matanya yang sudah plus 2 ikut membantu dengan melirik kalender di sudut meja dan buru-buru dicatatnya di sisi kanan atas lembaran kosong buku hariannya. Toh tak ada bedanya hari apa, tanggal berapa saat itu. Tak ada bedanya. Ia hanya sebentuk coretan yang selalu mendahului sebelum mulai menuliskan apa yang ada di ingatannya saat itu dalam buku jurnal. Ia tidak mau menyebutnya buku harian karena baginya hari itu tidak ada bedanya.

I have no name for each and every day
Until the year is done and fades away
There’s a time in between the two
The old years gone by but it’s not the new
And I . . .

Pena tua itu perlahan mulai melukai kertas putih kosong yang hanya tersisa beberapa lembar lagi, meninggalkan coretan-coretan hitam yang menampung semua perasaannya. Ia menulis apa saja, kebanyakan keluh kesah, kekhawatiran, kekesalan, kemarahan. Sesekali matanya terpejam, menikmati malam, menghidu udara sepuasnya karena tak harus dibaginya dengan siapapun malam itu. Ia menikmati setiap pergeseran jarum jam, setiap selusupan rasa sepi disela udara di ruangan yang gelap dan dingin itu.

I know that I’ll be all
Alone again, alone again tonight, oh I’m
Alone again, alone again tonight oh I’m
Alone again, and it seems to me that every time I try to change
Say that you’ll, say that you’ll
Help me reach the other side

Penanya terus bergerak meninggalkan ceceran isi kepalanya di atas kertas. Dulu setiap kali ia menulis jurnal, ia selalu merasa seperti tokoh Mas Boy yang rajin menuliskan catatannya hariannya di radio dengan latar musik Happy Feet dari Tom Grant.[3] Tapi tidak dengan kisahnya sendiri. Tidak ada alur apalagi cerita. Ia hanya menulis. Kadang ketika otaknya kembali membeku, ia hanya menarik garis panjang sampai ingat kembali apa yang akan ditulisnya. Terus begitu sampai ia yakin seluruh isi kepalanya telah tertuang ke kertas yang kini penuh coretan itu. Kadang ia sendiri tidak paham apa artinya ketika dibaca ulang. Tapi ia bisa merasakan setiap momen yang menandai saat-saat ketika ia tengah menulisnya.

When the morning comes the sun is out
And warms me up again
What a funny world it is for me
And all I’ll never be

Waktu beranjak pagi. Matahari mulai menggeliat, bersiap bangkit. Malam, sahabat karibnya, perlahan mulai beranjak meninggalkan dirinya. Ia sadar waktunya untuk segera tidur, walau sekejap, karena pasti istrinya akan bangun sebentar lagi, disusul oleh ke dua anaknya.

It’s not enough, it’s not enough
This feeling I’m feeling inside
Oh I know it I know tonight that I’ll be
On my own tonight, alone again tonight

Senyum menghiasi tubuh penatnya. Ada rasa puas ketika ia mencapai puncak kenikmatan persetubuhannya dengan malam. Sebuah kenikmatan yang tidak akan pernah membuatnya puas dan selalu ingin dan ingin dan ingin lagi.

“Sampai jumpa lagi besok malam, kawan.” Ia menutup bukunya, memasukkan ke laci, menguncinya, mematikan lampu dan beranjak menuju kamar sambil melepas headphone iPod nya. Satu-satunya benda modern yang ia kagumi.

Sayup-sayup terdengar suara dengingan speaker dinyalakan dan disusul alunan adzan..

 

Pinggiran Jakarta, 21 Juni 2008

_________

  1. Alone Tonight ditulis oleh Mike Rutherford dan terdapat pada album Genesis, Duke, yang muncul tahun 1980. Lagu ini dulu sering dipakai oleh Radio Prambors Rassisonia Jakarta sebagai pendanda tutup siaran. Dengarkan lagunya di sini.
  2. Studio Radio Prambors dulu terletak di Jalan Borobudur, Jakarta.  
  3. Happy Feet dari Tom Grant adalah salah satu musik latar yang sering digunakan dalam sandiwara radio Catatan Si Boy di Radio Prambors. Sandiwara radio ini kemudian sukses diangkat ke layar lebar. Dengar lagunya di sini.

 

~~~

One thought on “Blog: Lelaki Pecinta Malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *