Membaca dan “Membaca” di Era Anjing Berinternet

Neil Armstrong antariksawan, manusia pertama ke bulan. Di bulan dengar suara adzan, hatinya jadi terkesan.

Kurang lebih seperti inilah cuplikan lirik lagu sebuah kelompok kasidah terkenal yang di masa kecil saya dulu sering terdengar setiap habis subuh lewat “TOA” alias pengeras suara dari masjid dekat rumah di Pondok Gede, Bekasi. Bahkan kalau ada lomba kasidah ibu-ibu di kampung, lagu ini jadi andalan, bersama dengan lagu “Perdamaian.” Guru mengaji dan guru SD saya dulu juga sering menceritakan kisah ini yang membuat dagu-dagu kecil kami para murid berjatuhan ke meja  saking terpananya. Tapi apa dikata, di kemudian hari terbukti ini cerita hampa belaka. Tuan Amstrong sendiri sudah membantahnya waktu dia berkunjung ke Malaysia beberapa tahun lalu.

Kabar soal Neil Amstrong mendengar adzan di bulan ini sudah puluhan tahun lalu menyebar, konon dimulai dari Malaysia dan Indonesia, terus menyebar sampai ke jazirah Arab. Padahal ketika itu belum ada internet apalagi jejaring sosial. Walhasil, saat kita masuk ke zaman di mana manusia dengan mudah saling terhubung berkat kecanggihan teknologi, makin menjadi-jadilah informasi macam ini tersebar. Bahkan kini ada istilah untuk informasi macam itu: HOAX (baca: Houks) alias bohong, menipu atau menyesatkan.

Sayangnya, dari zaman kuda gigit besi* sampai zaman anjing berinternet** saat ini, kita tidak banyak membekali diri dengan kemampuan atau punya kemauan untuk memilah dan memeriksa kebenaran sebuah informasi. Tengok saja berita terbaru yang beredar beberapa hari terakhir ini: PM Singapura Lee Hsien Loong diberitakan mencabut pertemanannya dengan Presiden SBY di Facebook setelah dipicu oleh keinginan Indonesia untuk menamai sebuah kapal perangnya dengan nama dua tentara anumerta yang mengebom sebuah gedung di Singapura pada era konfrontasi zaman Sukarno dulu.

“Berita” soal pecahnya pertemanan Facebook dua pemimpin ini pertama kali dimuat oleh situs web Singapura, newnation.sg yang lantas dilalap dengan lahapnya oleh berbagai media di Indonesia dan disambar pula oleh para pengguna media sosial lengkap dengan komentar-komentar pedas beragam bumbu.

Nah, yang patut dipertanyakan adalah kenapa begitu mudah media arus utama (mainstream) kita melahap informasi macam ini? Padahal kalau mau sedikit saja teliti, wartawan yang bersangkutan seharusnya sejak awal mempertanyakan mungkinkah urusan pertemanan di Facebook ini sampai ke urusan diplomatik? Mungkinkah dua pemimpin negara itu berulah seperti abege yang sedang adu ambek di Facebook?

Lebih mudah lagi, tinggal pelajari saja dulu siapa media yang pertama menyebarkan informasi ini. Bagaimana caranya? Setiap situs yang serius rasanya punya penjelasan tentang siapa mereka dan apa misi mereka. Di situs Newnation.sg ada bagian “about” yang mudah diakses di bagian atas situs mereka. Di situ jelas-jelas tercantum pengakuan bahwa mereka adalah sebuah “satire site,” situs satir, nyinyir!

Lantas bagaimana kalau tidak ada penjelasan semacam ini yang bisa ditemui di situs sumber informasi? Gampang saja, jangan dipercaya, walau sehebat apapun informasinya! Beres, toh?
Hoax, Media dan Kita

Nah, bicara soal istilah “hoax,” sebenarnya ada macam-macam. Ada yang memang sengaja dibuat untuk menyesatkan, ada yang murni iseng, tapi ada yang memang wujud kreativitas. Newnation.sg adalah salah satu contoh situs web semacam ini yang benar-benar serius membuat berita dan tajuk-tajuk parodi. Saya suka membaca parodi mereka terutama tentang kondisi politik di Singapura yang setali tiga uang dengan tetangganya Indonesia. Bahkan tak diparodikan pun sudah lucu luar biasa.

Sementara di Amerika Serikat ada TheOnion.com, sebuah media terkenal yang sangat serius dengan informasi parodi dan satir mereka. Lalu ada lagi Dailycurrant.com yang baru-baru ini memicu kehebohan saat “memberitakan” terbunuhnya seorang warga Rusia yang menjadi penanggung jawab pembukaan olimpiade musim dingin di Sochi, Rusia. Dia dikabarkan mati gara-gara saat pembukaan olimpiade ada salah satu lingkaran lambang olimpiade yang tidak membuka sempurna.

Indonesia sendiri setahu saya belum punya media parodi yang serius semacam ini. Padahal, menarik juga untuk mengimbangi berita-berita “membosankan” di media arus utama saat ini. Apalagi di Twitter dan Facebook ada banyak akun-akun parodi yang terkenal, mulai dari akun Nia Daniati palsu yang menyindir ulah Farhat Abbas, SBY palsu yang entah kemana sekarang, sampai akun Facebook “Anda Bertanya Habib Riziq Menjawab” yang luar biasa kocak dan kreatif. Jangan buru-buru menyebut mereka perusak informasi. Bisa jadi mereka ini adalah wujud aspirasi rasa frustrasi dan muaknya kita terhadap berbagai peristiwa di sekitar yang semakin sulit dicerna dengan akal sehat. Sekalian saja dijadikan parodi untuk hiburan.

Yang juga tidak kalah patut dipertanyakan adalah kredibilitas media kita yang sampai mau melahap informasi-informasi semacam ini. Kemana gerangan ketajaman intuisi mereka sebagai pihak yang harusnya dipercaya oleh masyarakat dalam hal penyebaran informasi? Hmm… bisa panjang urusannya nih.

Ketika teknologi penyampaian informasi makin canggih dan rumit, mungkin juga sudah waktunya bagi kita sebagai konsumen media untuk lebih cerdas. Tidak mudah memang. Saya misalnya pernah mengingatkan seorang akademisi yang menyebarkan informasi palsu dari akun jejaring sosial yang tidak jelas meskipun terkesan meyakinkan dan jelas bukan parodi. Dengan enteng dia menanggapi, “Saya tidak ada waktu untuk googling karena masih banyak pekerjaan yang lebih penting.” Lha, bukankah sebagai akademisi, menyebarkan informasi yang benar itu juga penting?

Iqra!: Sebuah Pelajaran dari Wahyu Pertama

Jauh sebelum ada internet, jauh sebelum Neil Amstrong dikabarkan mendengar suara adzan di bulan, Tuhan sudah mengajarkan kepada kita melalui Nabi Muhammad untuk mencerna informasi. “Iqra,” bacalah! Begitu wahyu Allah yang pertama kepada Baginda tercinta Rasulullah SAW. Tapi apa yang dibaca? Bukankah Rasulullah buta huruf? Berarti ada maknanya kenapa ajakan membaca dijadikan kata pertama dalam wahyuNya.

Tolong koreksi kalau saya salah, tapi Iqra setahu saya berakar dari kata bahasa Arab “Qara’a” yang bisa berarti membaca, menganalisa, mendalami, meneliti, merenungkan dll. Jadi Iqra adalah ajakan untuk membaca yang tersurat maupun “membaca” yang tersirat.

Bahkan pasca wafatnya Rasulullah pun penyebaran hadits Nabi kemudian disepakati untuk dibagi-bagi dalam kategori tertentu berdasarkan siapa sumbernya yang didengarkan dari mana dan diteruskan oleh siapa dan seterusnya, dan itu harus disertakan saat kita menyajikan hadits tersebut sebagai jaminan keterpercayaan.

Masalahnya sekarang, masihkah kita tidak mau membaca dan “membaca”?

Atau jangan-jangan kita lebih percaya pada Neil Armstrong?

Jangan tanya rumput bergoyangnya Ebiet G. Ade, ah!

Bosan!
– Bojong Kulur, 12 Februari 2014

* “Zaman kuda gigit besi” adalah istilah yang sering dipakai untuk mengacu pada zaman dahulu kala.

** Diambil dari kata-kata “On The Internet, Nobody Knows You”re a Dog”, yang terdapat di sebuah karikatur karya Peter Steiner di tahun 1993 yang mempertanyakan soal anonimitas di internet.

~~~

Tautan Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *