IMG_20160511_135239-01-01

Menemukan Keberagaman di UNPK

Sosok fisiknya tidak jauh berbeda dari kebanyakan anak lainnya, kecuali raut wajah dan cara bicaranya yang khas anak-anak dengan sindroma down. Di siang yang terik itu dia duduk di salah satu kursi di ruang kelas sebuah sekolah dasar di kawasan Bekasi Timur. Saking panasnya, dia melepas kancing-kancing baju putihnya yang sudah lepek, sambil sesekali menyapa ramah siapapun yang ada di dekatnya, lengkap dengan senyuman khas yang menghiasi bibirnya.

Bocah lelaki itu adalah salah satu dari sekian banyak anak yang tengah bersiap mengikuti Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) Paket B. Apa itu UNPK? Jadi penyelenggara pendidikan di negeri ini menciptakan UNPK sebagai bentuk ujian standar nasional untuk pendidikan non-formal yang juga dikenal dengan Kejar Paket A (SD), Paket B (SMP) dan Paket C (SMA). Lokasi ujiannya ditentukan oleh pihak Diknas setempat, termasuk yang digelar di sejumlah sekolah di Bekasi tiga hari terakhir yang juga diikuti oleh si Neng Mput, putri semata wayang kami, sebagai seorang siswi homeschooling.

UNPK ini diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak pesantren  di pelosok Bekasi yang datang berombongan berpanas-panas berjejalan di belakang bak truk terbuka, anak-anak homeschooling yang naik bis adem ber-AC, sampai orang-orang tua yang masih semangat ingin mendapatkan ijazah pendidikan dasar atau menengah. Malah dengar-dengar kabar, untuk ujian Paket C (SMA) di Bekasi beberapa waktu lalu juga  diikuti juga oleh beberapa artis terkenal, konon termasuk artis yang jadi duta Pancasila itu. Wargapun sampai berdatangan dan sekolah lokasi ujian harus dijaga khusus demi kenyamanan ujian si artis.

Tapi yang lebih menarik perhatian di lokasi ujian di salah satu SD di Bekasi Timur tempat putri kami ujian adalah keikutsertaan anak-anak istimewa berkebutuhan khusus seperti autis dan sindroma down.

img_20160509_132901_1462775435004-02.jpeg

Bocah yang saya ceritakan di awal tadi relatif tenang. Tapi tak jarang ada diantara teman-temannya yang lain yang tiba-tiba mengalami tantrum dan mengamuk. Ada lagi yang sesekali tertidur di meja ujian, ada yang sebentar-sebentar berceloteh sendiri dengan suara keras, ada yang membuka baju karena kepanasan, dan ada juga yang setiap beberapa menit harus diantar ke toilet.

Toh kondisi mereka tidak menyurutkan semangat ikut ujian meskipun rasanya jadi perjuangan tersendiri buat anak-anak spesial ini untuk bisa menjalani tiga hari ujian nasional di siang yang panas itu. Beruntung para guru, pengawas dan teman-teman sekelasnya sabar sekali meladeni mereka.

Yang jelas tiga hari terakhir ini Putri kami mendapat pengalaman berharga. Bukan cuma pengalaman pertama kali ikut UN di Indonesia (yang katanya panas itu hehe), tapi juga pelajaran tentang pentingnya pendidikan bagi siapapun, serta betapa lebih teramat pentingnya menghargai perbedaan antar sesama, karena setiap anak itu istimewa.

Sebuah pengalaman yang jelas jauh lebih berharga daripada 50 soal pilihan berganda yang dijadikan patokan penentu kelulusan itu.

Semoga Tuhan terus menggenggam tangan-tangan kalian, nak.

God bless you, kids!

– SDN Duren Jaya VI, Bekasi Timur, 11 Mei 2016.

Tags: , ,
Previous post
Next post

2 Responses to Menemukan Keberagaman di UNPK

  1. Tuxer says:

    Good luck mput, semangat!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *