Menjajal Perpustakaan Digital Kebanggaan Ahok

Minggu lalu Pemprov DKI Jakarta meluncurkan sebuah aplikasi perpustakaan digital bernama iJakarta bermitra dengan Aksara Maya yang dua tahun lalu sudah meluncurkan aplikasi ebook bernama Moco. Di berbagai liputan media, digambarkan bagaimana Pak Gubernur Jakarta, Pak Ahok sangat membanggakan layanan ini. Baiklah, mari kita coba..

IJakarta ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan aplikasi pembaca ebook lainnya, namun ketika disebut sebagai perpustakaan, maka konsepnya sedikit beda dan itulah yang langsung menarik perhatian saya yang sudah beberapa tahun terakhir ini beralih ke ebook.

Sebuah buku dalam wujud fisik dengan mudah bisa dipinjamkan, entah pinjam dari perpustakaan atau pinjam saja dari teman, dengan perjanjian akan dipulangkan setelah beberapa waktu tertentu. Selama buku itu dipinjam, tentu orang lain tidak bisa meminjamnya.

Tapi bagaimana meminjamkan ebook? Jika ebook itu berwujud file seperti pdf, kita tinggal email ke teman, sebanyak mungkin juga tidak masalah. Namun justru itu yang tidak dikehendaki oleh penerbit karena jelas ebook jualan mereka tidak akan laku.

Karena itulah banyak penjual ebook yang menggunakan aplikasi atau piranti pembaca elektronik guna menjamin hanya si pembeli yang bisa membaca buku itu. Kindle dari Amazon atau produk Gramediana dan Scoop yang asli Indonesia adalah contoh dari sekian banyak yang sudah ada saat ini.

Jadi bagaimana meminjamkan ebook?

IJakarta adalah salah satu yang punya solusinya. Seperti layaknya sebuah perpustakaan biasa, kita dapat meminjam ebook apapun yang ada di daftar koleksinya namun mereka membatasi jumlah setiap ebook yang bisa dipinjam, entah bagaimana cara menetapkan batasan itu. Kalau sudah habis dipinjam, maka kita harus masuk antrian sampai nanti ada yang mengembalikan ebooknya.

Bagaimana mengembalikan bukunya?

Sederhana saja. Seorang peminjam akan diberi jangka waktu 7 hari untuk membaca. Setelah selesai otomatis buku itu akan hilang dari daftar buku pinjaman kita dan tersedia untuk pembaca lain yang ada di antrian.

Perpustakaan + Media Sosial

Nah ini juga satu fitur menarik dari iJakarta, yaitu fitur media sosial. Saya belum coba fitur ini tapi yang jelas di aplikasi itu kita bisa saling follow, saling memberi rekomendasi buku yang dibaca dan juga ada badge untuk melihat “pangkat” atau level baca kita yang dinilai berdasarkan jumlah buku yang sudah dibaca, komentar yang pernah diberikan, rekomendasi buku, jumlah follower, chatting dengan sesama anggota dan lain sebagainya.

Fitur rekomendasi saya rasa sangat menarik karena akan membantu sesama pembaca untuk mencari buku-buku bagus. Tantangannya adalah pada bagaimana mengajak orang untuk memanfaatkannya.

ijakarta

Pengalaman Menggunakan iJakarta Sejauh ini

Ini beberapa catatan yang sejauh ini bisa saya saya berikan setelah mencoba menggunakan iJakarta sekitar seminggu terakhir. Catatan: Ini baru pengalaman membaca dengan piranti berbasis Android. Saya akan coba perbaharui ketika sudah mencobanya di piranti iOS.

Perangkat:
Perangkat, terutama lebar layar jadi lebih penting untuk kenyamanan membaca. Awalnya saya menggunakan Xiaomi Redmi Note 2 yang layarnya 5.5 inchi. Namun ternyata tidak terlalu nyaman dipakai membaca. Akhirnya saya gunakan Tablet Nexus 7 lawas saya.

Aplikasi:
Catatan pertama yang paling penting adalah belum stabilnya aplikasi ini. Ada dua pilihan untuk mendaftar di aplikasi ini yakni menggunakan akun Facebook atau email. Saya selalu gagal mendaftar dengan akun Facebook.

  1. Seringkali ketika aplikasi ini saya tutup sebentar lalu dibuka kembali, layarnya akan menampilkan logo iJakarta dalam waktu lama. Kadang karena tidak sabar, saya restart saja.
  2. Kenyamanan membaca menjadi penting. Aplikasi iJakarta menyediakan beberapa cara membaca mulai dari menggulung layar ke bawah untuk pindah halaman, menggulung ke samping, atau animasi seperti layaknya membalik sebuah halaman buku. Fungsi terakhir ini sebenarnya menarik, tapi ternyata itu mematikan fungsi zoom. Alih-alih zoom, dia malah akan membalik halaman.
  3. iJakarta mengklaim sudah dilengkapi dengan fitur offline, yaitu membaca tanpa koneksi data/ internet asal bukunya sudah kita unduh. Masalahnya, ketika pertama kali mengaktifkan aplikasi ini, ternyata tetap perlu akses ke internet. Paling tidak itu yang saya alami dan terasa mengganggu. Bandingkan dengan aplikasi Gramediana atau Scoop yang tidak perlu koneksi ke internet saat membaca dan langsung bisa menuju ke koleksi buku yang sudah diunduh.
  4. Fungsi search/ pencariannya masih belum sempurna dan perlu diperbaiki lagi.

Buku
iJakarta punya koleksi buku yang lumayan banyak karena bekerjasama dengan berbagai lembaga mulai dari perpustakaan nasional. Kabarnya sudah ada 10 ribu buku koleksi mereka dan semua bisa dipinjam secara gratis! Bahkan Pak Ahok sudah meminta agar koleksinya terus ditambah supaya peminjam tidak perlu antri lama-lama.

Kesimpulan:
Saya tetap akan merekomendasikan iJakarta. Berbagai catatan di atas rasanya masih wajar terjadi untuk sebuah aplikasi yang baru diluncurkan dan masih bisa disempurnakan sejalan bertambahnya waktu dan masukan dari para penggunanya.

Kenapa saya rekomendasikan? Pertama, gratis! Ya buku-buku di iJakarta ini bisa dibaca dengan gratis, walaupun sebagaimana layaknya sebuah perpustakaan, tentu tidak akan bisa begitu saja mendapatkan buku yang kita kehendaki jika buku itu masih dipinjam orang lain.

Kedua, praktis! Cukup dengan menggunakan piranti ponsel di tangan, kita sudah bisa pakai untuk membaca dimana saja, kapan saja. Bahkan dengan waktu peminjaman selama 7 hari, kita akan dipaksa membacanya. Jika tidak, buku itu akan dikembalikan dan kita harus antri lagi untuk bisa melanjutkan, apalagi kalau buku itu termasuk yang laris dipinjam.

iJakarta bisa diunduh untuk komputer di sini, sementara aplikasi untuk ponsel bisa diunduh di sini (Android) dan di sini (iOS). Kunjungi juga situs web mereka di iJakarta.id.

Selamat membaca. Saya sih berharap iJakarta ini akan ikut berperan menggalakkan orang untuk beralih ke buku elektronik. Memang akan perlu waktu, tapi itu hanya pembiasaan. Kalau cuma sekedar alasan romantisme seperti kehilangan sensasi bau kertas atau kenikmatan memegang buku fisik, bisalah itu diubah. Bukankah esensi terpenting sebuah buku adalah isinya.

Itu pendapat saya.

Menurut Anda?

~rh~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *