Blog: Nenek Nurlis dan Mas Beno

Seminggu terakhir ini saya kehilangan dua orang yang sudah bertahun-tahun berteman walau belum pernah bertemu muka. Kenapa bisa begitu? Keduanya adalah teman baik yang sering mendengarkan siaran saya semasa masih bekerja di radio. Pekan ini, hanya berselang beberapa hari, keduanya berpulang menghadap yang Maha Kuasa. Tulisan ini akan sangat bersifat pribadi, sekadar ingin mengabadikan kenangan tentang mereka, mewakili kenangan saya tentang teman-teman lain yang juga sudah mendahului kita.

~~~

Nenek Nurlis

Nenek Nurlis sudah cukup sepuh. Menurut sang cucu, usia beliau 90 tahun saat tutup usia di Payakumbuh, Sumatera Barat hari Selasa, 18 Juli 2017. Mungkin sejak awal 2000-an dia sudah setia di depan radio menemani saya siaran semasa masih di Radio Singapura Internasional (RSI).

Menurut cerita sang cucu dalam pesan Facebooknya beberapa tahun lalu, Nenek Nurlis tinggal sendirian karena anak cucunya menetap di kota lain. Sebelum cucunya datang menemani, sang nenek tinggal di rumah yang belum teraliri listrik, dan temannya saban malam adalah radio SW kecil bertenaga baterai ABC. Beliau juga hafal sekali nama-nama penyiar RSI dulu. Saya sangat senang dan terharu ketika suatu hari sang cucu mengirimkan video pendek di Instagram saat Nenek Nurlis sedang bercerita tentang penyiar-penyiar radio kesayangannya.

Senang sekali melihat video ini. Saya paling senang membayangkan sosok-sosok teman yang sedang mendengarkan kami siaran. Saya selalu membayangkan seperti apa mereka, sedang apa mereka, di mana mereka saat sedang mendengarkan. Nenek Nurlis adalah salah satunya. Rasanya senang sekali karena ada yang menemani di ujung gelombang radio nun jauh di sana. Sebuah perasaan yang tidak bisa dibayar dengan apapun.

Terima kasih kepada Cucu Nek Nurlis, Melissa Letyzia karena akhirnya mempertemukan kami di Facebook dan Instagram.

~~~

Mas Beno

Mas BenoLain cerita Nenek Nurlis, lain pula cerita Mas Beno. Kalau Nek Nurlis lebih mendengarkan radio secara pasif, sesekali titip salam lewat cucunya yang juga mendengarkan radio, maka Mas Beno ini sangat aktif. Nama lengkap beliau Harsubeno Lesmana. Saya memanggilnya Mas Beno. Di radio siaran internasional namanya cukup dikenal karena beliau sangat aktif mendengarkan dan berkorespondensi dengan berbagai siaran radio internasional, termasuk radio saya dulu.

Mas Beno ini DX-ers sejati (istilah untuk para pendengar radio siaran SW). Korespondensi dengan beliau yang masih saya simpan saya adalah dari pertengahan tahun 2009 ketika beliau tahu saya pindah ke Radio Jepang, NHK World. Tapi sebelumnya, sejak di Radio Singapura Internasional, kami sudah rajin berkomunikasi, entah untuk request lagu, berkirim salam, berkomentar tentang acara radio kami atau sekedar bertegur sapa.

Satu hal yang berkesan buat saya adalah beliau sering memberikan komentar dan masukan untuk acara-acara yang saya dan teman-teman bawakan. Beliau hafal sekali setiap detil acara yang menarik perhatiannya. Sesuatu yang membuat kami benar-benar merasa diapresiasi. Rasanya penyiar radio manapun akan tahu seperti apa rasanya jika pendengar tahu detil acara-acara yang kita udarakan.

Tapi yang lebih berkesan buat saya pribadi adalah karena beliau rajin sekali berkirim ucapan di hari ulang tahun saya, sementara saya sering sekali terlewati menyapa di hari jadinya. Beliau juga beberapa kali mengecek kondisi kami saat Jepang dilanda gempa besar di bulan Maret 2011 nun jauh dari kawasan Petojo, Jakarta sana.

Mas Beno berpulang dengan tenang pada hari Minggu, 16 Juli 2017.

~~~

Teman

Ada yang menyebut sosok-sosok seperti Nek Nurlis dan Mas beno ini sebagai pendengar. Saya lebih suka memakai istilah teman. Sejak dulu saya selalu diajari oleh para senior bahwa seorang penyiar radio harus dan wajib menjadi teman pagi pendengarnya. Itu salah satu teori radio paling penting. Dengan selalu menanamkan pemikiran seperti itu, setiap pesan yang disampaikan lewat corong mikrofon akan lebih terasa akrab dan tidak terkesan dibuat-buat. Pemikiran seperti itu membuat kita lebih mudah memvisualkan siapa yang kita ajak bicara di udara dan tidak membuat kita merasa lebih tinggi dari siapapun.

Saya ingat sekali seorang penyiar senior pernah bilang: “Kalau lu udah┬ámerasa jadi artis, mendingan sana jadi pemain sinetron aja sekalian. Jangan jadi penyiar radio!” Saya yang ketika itu kedatangan seorang pendengar yang ingin minta foto dan tanda tangan, hanya terdiam malu.

Nah, lebih dari sekedar teori, saking seringnya kita berinteraksi, pada akhirnya hubungan kami dengan para pendengar berkembang menjadi teman yang sebenarnya. Nama-nama merekapun sangat akrab dengan keseharian kami.

Dan rasanya tidak ada pertemanan yang lebih erat lagi daripada pertemanan di kalangan penyiar dan pendengar radio SW. Meski kini jumlah stasiun radio internasional semakin berkurang, begitu juga dengan pendengarnya, namun semoga saja semakin guyub pertemanan kita.

Selamat jalan Nenek Nurlis, selamat jalan Mas Beno…

Selamat jalan juga untuk teman-teman radio lainnya yang juga sudah mendahului kita. Diantara yang saya ingat ada Mas Dick Himawan, Mas Nano Sukirno, Mas Mariadi Purnomo, Mas Rajab Pinem.

Semoga kalian tenang di sisiNya.

Terima kasih sudah menemani saya di udara.

.
Bangkok, 21 Juli 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *