Peternakan “Like”

likefactory
Klik gambar untuk melihat video di atas.
~~~
Belum lama ini sebuah akun Twitter mengunggah video yang kabarnya diambil di dalam sebuah “peternakan Like” di Shenzen, Cina. Video itu menggambarkan ribuan ponsel yang saling tersambung ke jejaring media sosial populer di Cina, We Chat. “Peternakan Like” ini konon bisa menyediakan jasa untuk mendongkrak jumlah “like” dan “comment” di akun media sosial siapa saja yang bersedia membayar, kebanyakan pihak bisnis yang ingin populer di media sosial atau ingin mengembangkan akun media sosial mereka dengan cepat. 
 
Video ini menarik karena mengingatkan pada beberapa foto yang sempat beredar di media sosial kita di masa pemilihan gubernur DKI belum lama ini dan diklaim sebagai bagian dari tim kampanye salah satu (atau kedua) kubu calon untuk “berperang” di media sosial. Benar tidaknya, hmm.. Wallahu a’lam..
~~~
 
Secara teknologi sih ini mungkin sekali dilakukan. Bahkan tidak perlu sampai menjajarkan ponsel sebanyak itu. Cukup dengan perangkat lunak atau bahasa pemrograman tertentu. Seorang teman programmer pernah memamerkan kemampuannya ini saat kami sedang ngobrol soal kampanye di media sosial.
 
“Mau di-like berapa orang? Sebut aja!” katanya dengan meyakinkan.
 
Dia lalu meminjam laptop saya dan dalam waktu singkat bisa membuat satu posting di Facebook saya di-like oleh ratusan ribu akun. Dia juga mengaku bisa menciptakan jutaan akun baru dalam waktu singkat. Entah bagaimana caranya, saya tidak paham
 
Tapi pengetahuan dari si teman ini kemudian bermanfaat ketika beberapa tahun lalu saya menjadi “mimin” (baca: admin) untuk akun-akun media sosial sebuah perusahaan multinasional di Jakarta. Ketika itu mereka menggelar semacam kontes di media sosial dan pemenangnya adalah siapapun yang bisa mengumpulkan sebanyak mungkin like. Diasumsikan jumlah like yang banyak menunjukkan jumlah orang yang melihat produk mereka.
 
Walhasil ada satu akun yang hanya dalam waktu beberapa jam saja bisa mengumpulkan lebih dari satu juta like. Ketika si pemilik akun -seorang anak SMA- datang mengklaim hadiahnya, saya langsung ajak dia bicara. Alih-alih menuduhnya memfabrikasi like padahal saya tidak punya bukti, saya mengajarinya untuk lebih “realistis”.
 
“Gini dek, mendingan situ cicil likenya. Jangan terlalu banyak dan jangan sekaligus. Jangan langsung satu juta like dalam dua jam aja. Ya orang curiga lah. Nanti situ diprotes sama peserta lainnya. Eh tapi mau dong ajarin gimana caranya?” kata saya.
 
Si pemilik akun hanya nyengir lalu ngeloyor pergi dan tidak lama kemudian menghapus posting di akun Facebooknya itu.
 
~~~
Kembali ke pilgub kemarin. Apakah cara canggih serupa ini digunakan oleh para “gerilyawan” media sosial itu? Bisa jadi. Tapi banyak juga yang menggunakan cara “manual” seperti “peternakan like” di Cina itu.
 
Semasa pilgub kemarin, saya termasuk yang kepo setiap kali menemukan satu postingan kontroversial. Saya kunjungi akun-akun penyebar informasi itu, serta secara acak mengunjungi akun-akun yang me-like atau meninggalkan komentar. Terbukti saya banyak menemukan akun yang mencurigakan, mulai dari nama akun yang tidak jelas, foto profil yang asal comot, frekuensi posting yang bisa sampai puluhan kali dalam satu hari dan akun yang dibuat pada masa-masa yang sama, kebanyakan di awal-awal masa kampanye.
 
Moral of the story: “Media sosial memang sangat efektif baik untuk kepentingan promosi. Tapi pada saat yang sama bisa jelas-jelas bisa disalahgunakan. Semua kembali kepada kemauan dan akal sehat kita untuk berhati-hati dalam mencerna dan meneruskan sebuah informasi yang kita temui di media sosial.
 
Tidak semua yang ada di internet itu benar! Jadi jangan lagi pakai alasan: “Eh, lu kok nggak percaya sih? Ini gue dapet di internet, bro!”.
Basi, bro!
 
Hoax memang ada di sekitar kita sejak lama. Kalau dulu sebelum ada media sosial kita bisa dibuat percaya bahwa Neil Armstrong mendengar suara adzan saat mendarat di bulan, bagaimana dengan sekarang, ketika dengan media sosial kita bisa menyebarkan informasi apa saja dan dilihat oleh siapa saja?
 
Eh tunggu dulu, memangnya Neil Armstrong tidak dengar adzan waktu mendarat di bulan? Tapi kan sampai ada lagu kasidah yang bercerita soal ini? Hahaha.. Menipu orang itu seringkali gampang sekali dilakukan kalau kita bisa menyentuh hal yang paling mendasar dari manusia: keyakinan.
 
Tabik, ah!
 
Previous post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *