Klipping: RRI dan Upit Sarimanah

Kemarin, 11 September 2004, merupakan Hari Radio. Radio Republik Indonesia (RRI) telah berdiri sejak 59 tahun lalu. Pendirian RRI dilakukan bersamaan dengan saat pengambilalihan studio radio yang saat itu masih dikuasai Jepang. Tapi, siaran radio di Indonesia sudah dimulai sejak penjajahan Belanda. Tepatnya pada saat Perang Dunia I. Saat itu pemerintah kolonial di Negeri Belanda merasakan perlunya hubungan yang cepat dengan jajahannya di Hindia Belanda. Dan untuk komunikasi yang cepat inilah mereka membuat radio ketimbang melalui telegrafi kabel laut.

Sebelum TVRI nongol (Agustus 1963), RRI satu-satunya hiburan yang menjangkau masyarakat luas. Pendengarnya sampai ke desa-desa terpencil. Salah satu siaran favorit RRI, khususnya di Jakarta dan Jawa Barat, adalah kesenian Sunda. Kesenian ini disiarkan langsung dari Gedung Musium Nasional di Medan Merdeka Barat. Pesindennya Upit Sarimanah yang memiliki paras hitam manis dan selalu tampil berpakaian kain dan kebaya.

Banyak yang tergila-gila dengan suara Upit Sarimanah hingga saat siarannya berlangsung tiap Ahad pagi Museum Nasional ramai pengunjung. Penggemarnya ada yang dari Bandung. Saking banyaknya penggemar yang datang, saat menyanyi Upit duduk di bangku khusus yang letaknya lebih tinggi dari dalang dan para pemain tetabuhan. Ketika menyanyi dengan suara melengking-lengking para penonton bertepuk tangan dan bersuit. Lagu Upit yang pernah hit di 1950-an dan 1960-an adalah Polos Tomo.
Tahun 1970-an ketika pensiun dari sinden, Upit memilih profesi sebagai mubalighah. Sebagai jurudakwah ia mendapat banyak panggilan. Dengan suaranya yang merdu, saat dakwah dia melantunkan lagu dan berpantun berisi ajakan pada umat ber-amar ma’ruf nahi munkar. Sinden yang ramah tamah dan murah senyum ini tidak merasa kehilangan gengsi saat mendatangi kampung-kampung yang kumuh. Tidak tergiur amplop lebih besar hingga mengabaikan panggilan masyarakat tidak berpunya.

RRI pada malam Ahad suka mengadakan pertunjukan Wayang Kulit (Jawa) dan Wayang Golek (Sunda). Bukan hanya dari Studio III, siaran langsung ini juga dilakukan dari Gedung PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian) yang kala itu letaknya di Jl Tambak, Pegangsaan, dan gedung Serikat Buruh Kereta Api (SBKA) di Manggarai.

Pada 1950-an yang memiliki radio masih sedikit. Di masa itu ada yang dinamakan radio roti karena bentuk dan besarnya seperti roti. Radio ini diproduksi Philips. Setelah pada 1957 Bung Karno menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing (Barat), Philips digantikan Ralin. Akibat sedikitnya radio, membuat masyarakat nimbrung di radio milik tetangga atau kenalannya jika berlangsung acara semalam suntuk di radio. Dalam acara semalam suntuk itu, pendengar patungan ngopi dan kue. Tak jarang jika acara terus berjalan hingga pukul 03.00 dinihari penikmat radio itu mendengarkan radio sambil makan nasi goreng.

Siaran RRI yang banyak digemari kala itu Orkes Melayu (OM) yang pada 1970-an menjadi dangdut. Diantara OM yang siaran tetap di RRI adalah OM Kenangan (pimpinan Husein Aidid), Om Sinar Medan (Fauzi Aseran), OM Bukit Siguntang (Abdul Chalik), dan OM Irama Agung pimpinan Said Effendi. Tidak ketinggalan Orkes Gumarang pimpinan Asbon dengan lagu-lagu Minangnya. Biduanita OM terkenal kala itu Nurseha, Ellya Khadam, dan Juhana Satta. Kalau OM di tahun 1960-an sudah mulai melagukan lagu-lagu berirama India, tapi biduanita gaek Emma Gangga masih mempertahankan irama Melayu Deli.
Tiap tahun RRI juga menyelenggarakan Pemilihan Bintang Radio jenis seriosa, keroncong, dan langgam. Bintang radio yang terjaring kala itu antara lain Bing Slamet yang kemudian mencuat sebagai pelawak. Penyanyi lainnya adalah Norma Sanger, Sam Saimun, Said Effendi, Ping Astono, Ade Ticoalu, Ebet Kadarusman, dan Sambas yang kemudian menjadi penyiar TVRI. Gedung RRI di Medan Merdeka Barat dihadiri banyak orang saat berlangsung pemilihan bintang radio. Mungkin tidak kalah meriahnya dengan kontes AFI, KDI, dan Indonesian Idol saat ini.

Orkes RRI Studio Jakarta kala itu dipimpin oleh komponis kenamaan Syaiful Bachri yang kemudian hijrah ke Malaysia saat konfrontasi. Kala itu RRI secara berkala mengadakan panggung gembira dengan pelawak-pelawak Bing Slamet, Eddy Sud, Ateng, Iskak, dan S Bagio. Walhasil kala itu manggung di RRI merupakan kebanggan bagi para artis karena suaranya didengar jutaan orang. Belum ada radio swasta satu pun seperti sekarang ini yang jumlahnya mencapai ribuan pemancar.
Tidak heran kalau Presiden Soekarno memanfaatkan RRI untuk mengemukakan ide dan politiknya. Saat berpidato, Bung Karno selalu melakukan siaran langsung di RRI. Bung Karno mempunyai penyiar dan komentator khusus, yaitu Darmosugondo yang menjadi kesayangannya. Sayangnya komentator RRI ini suka melebih-lebihkan keadaan. Seperti, acara rapat umum Bung Karno yang dihadiri ribuan orang oleh Darmosugondo dilaporkan puluhan ribu atau ratusan ribu orang.

Ketika pecah konfrontasi, RRI menambah frekwensi ke perbatasan Malaysia. Dan hampir tiap jam menyerukan ”Ganyang Malaysia” seperti yang dikomandokan Bung Karno. Yang paling menjadi sasaran kala itu adalah PM Malaysia, Tengku Abdurahman. Para pemuda terutama dari kelompok kiri saat berdemo membakar patung PM Malaysia itu.**

Penulis: Alwi Shahab
Republika, Minggu, 12 September 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *