Episode 9 – Susu, Telur dan Bubur Kacang Hijau Sang Jenderal

*Catatan: Versi audio dari blog ini bisa didengar di sini atau dengarkan lewat player yang ada di akhir artikel.

Jauh sebelum Pakdhe Presiden Jokowi terkenal dengan hobi blusukan-nya, di akhir tahun 70-an sudah ada nama M. Jusuf, lengkapnya Jenderal Muhamamd Jusuf Amir, Menteri Pertahanan Keamanan sekaligus Panglima ABRI (sekarang TNI).

Konon kabarnya belum pernah ada petinggi negara seperti Jenderal Jusuf yang waktunya sebagian besar habis di lapangan. Wartawan senior Alwi Shahab dalam salah satu artikelnya pernah menulis bahwa di masa 5 tahun menjabat sebagai panglima antara tahun 1978-1983, Jenderal Jusuf menghabiskan waktu 411 hari, 172 kali perjalanan dan menempuh jarak hampir 6 ratus ribu kilometer hanya untuk bertemu dan ngobrol dengan para prajurit serta keluarganya di berbagai pelosok Indonesia. Kegiatan semacam ini tidak punya istilah khusus waktu itu, tapi di zaman sekarang apalagi kalau bukan blusukan lah itu namanya!

Nah, sama dengan di zaman sekarang, kegiatan blusukan itu pasti ditayangkan di televisi, tepatnya di satu-satunya televisi ketika itu, Televisi Republik Indonesia, TVRI. Saking seringnya, rasanya siapapun ingat dialog-dialog Jenderal Jusuf dengan para prajuritnya ketika itu.

“Sudah minum susu? Kau sudah makan? Apa laukmu? Ada telurnya? Eh kurus sekali badanmu! Tentara kenapa kurus? Kempiskan dulu itu perutmu, susah nanti kau latihan merayap! Kau sudah bikin bersih senjatamu?”

Saya dulu selalu terbahak melihat beliau dengan logat bugisnya yang kental dan ekspresi yang santai, memberondong para prajurit dengan macam-macam pertanyaan yang jauh dari urusan perang. Para prajurit itu dengan sikap tegap sempurna sambil bergeming melihat jauh ke depan lantas akan menjawab dengan teriakan keras khas tentara.

“SIAP JENDERAL! SUDAH JENDERAL! (MAKAN) PAKAI KERUPUK, JENDERAL!”

Ah, pemandangan dialog Jendral Jusuf dengan para prajurit itu lucu sekali buat saya! Lucu sekali! Karena sebagai orang berdarah Bugis, gaya bicaranya, logatnya, mengingatkan pada sanak saudara dan keluarga di kampung halaman.

Waktu itu saya tidak habis pikir kenapa seorang tentara dengan jumlah bintang paling banyak di pundaknya masih mau mengurusi makanan prajurit-prajurit dengan tanda balok satu atau dua di lengannya. Malah gara-gara Jenderal Jusuf, hingga besar saya selalu percaya bahwa supaya badan kuat kita harus rajin minum susu, makan telur dan bubur kacang hijau. Itu berkat kebijakan beliau yang mewajibkan para tentara mengkonsumsi tiga jenis makanan itu setiap hari di masa kepemimpinannya. Mau lihat beliau murka! Stop pasokan susu, telor dan kacang hijau ke tentara. Habislah kau pasti!

Blusukan Jendral Jusuf buat saya begitu berkesan dan menghibur di tengah tayangan-tanyangan laporan kunjungan pejabat negara yang membosankan (tolong tambahkan “sangat amat” di depan kata membosankan tadi). Diantara yang paling membosankan adalah laporan kunjungan Pak Harto yang bisa bikin saya begitu gelisah sembari berharap-harap cemas bahkan -boleh percaya boleh tidak- sampai saya berdoa pada Tuhan supaya cepat selesai. Bukan apa-apa. Soalnya besar kemungkinan itu artinya acara film seri The Six Million Dolar Man atau Bionic Woman atau Hawaii Five-O yang biasa tayang sehabis berita akan terancam gagal tergusur tayangan Pak Harto sedang berdialog dengan para wartawan atau petani sambil pamer kambing-kambing etawanya yang gendut-gendut. Tidaklah berlebihan kalau saya bilang cuma Tuhan dan Pak Harto yang mungkin akan tahu berapa lama dialog itu akan berlangsung. Direktur TVRI saja tidak akan berani menghentikan beliau.

Jadi bayangkan betapa di tengah kebosanan itu, muncul tayangan berita yang bisa menghibur dan bikin tertawa. Saya tidak sendiri menggemari tayangan kunjungan-kunjungan dan dialog Jendral Jusuf dengan para prajurit. Seringkali itu jadi bahan obrolan dengan teman-teman di sekolah keesokan paginya, tidak kalah serunya dengan membicarakan bagaimana Steve Austin atau biasa kita sebut De Sik (The Six Million Dolar Man) sanggup mengejar penjahat bermobil hanya dengan berlari.

Sebagai anak yang besar di daerah, di era ketika pejabat sudah bak dewa yang tempatnya hanya ada di kahyangan lapis ke tujuh bernama Jakarta, blusukan Jendral Jusuf itu bagaikan dewa yang turun ke bumi yang menjelma dan berbaur jadi manusia biasa dengan membawa susu, telur dan bubur kacang hijau.

Tapi sememangnya tidak semua orang pastinya berpikiran seperti saya dan teman-teman. Apa yang dilakukan Jendral Jusuf itu mungkin di zamannya Pakdhe Presiden Jokowi sekarang akan dengan mudah disebut sebagai pencitraan, dan pencitraan ini berbahaya sekali dalam peta persaingan politik. Apalagi di zaman Orde Baru dulu tidak boleh ada matahari kembar. Tidak boleh ada yang cahayanya lebih terang dari Pak Harto, bahkan kalau boleh matahari di langitpun tidak boleh kalah terang dari beliau. Okelah, analogi yang lebay memang, tapi ya begitulah adanya.

Dalam biografi Jenderal Jusuf alkisah diceritakan tentang sebuah pertemuan para petinggi negara di Jalan Cendana, rumah pribadi Pak Harto. Di sana Menteri Dalam Negeri ketika itu, Amir Mahmud, kabarnya mempertanyakan apakah ada ambisi tertentu dibalik semakin populernya Jendral Jusuf di mata masyarakat. Belakangan terungkap bahwa pertemuan itupun bubar gara-gara gebrakan keras tangan Jenderal Jusuf di atas meja persis di depan Pak Harto. Kabarnya begitu. Sejak itu Panglima ABRI tidak lagi pernah kelihatan hadir di sidang kabinet, sidangnya para dewa zaman Orde Baru yang selalu sukses menggeser tayangan film seri favorit saya di televisi dulu, sekhusyuk apapun saya berdoa. (Ya pernah sih doa saya dikabulkan, tapi itupun karena mendadak ada pemadaman listrik.)

Jenderal Muhammad Jusuf yang ternyata pernah melepas gelar bangsawan bugisnya -Andi Muhammad Jusuf Amir- yang sudah disandangnya sejak lahir, perlahan tapi pasti mulai menjauh dari lingkaran kekuasaan di “khayangan” Jakarta dan kemudian bersara, menjadi manusia biasa, sebelum tutup usia di tahun 2004 dalam usia 76 tahun, jauh lebih tua dari usia TNI yang sekarang baru 72 tahun.

IMSTO, in my sok tahu opinion, dalam pandangan saya yang sangat amat subyektif dan seringkali lebay ini, Jendral Jusuf telah membuktikan bahwa kata pencitraan yang sekarang populer di kalangan politisi kita itu hanya layak ditempel di jidat para petinggi yang tidak pernah mau celana atau sepatu mahalnya kotor demi bergaul dengan rakyat, tapi herannya kok masih berani-beraninya mereka punya ambisi jadi pemimpin rakyat.

Selamat ulang tahun ke 72 wahai para prajurit TNI di seluruh Indonesia!

Sudah kau minum susu? Kau makan telur? Sudah kau bikin bersih senjatamu? 😀

 

Bangkok, 5 Oktober 2017


VERSI AUDIO:

Music used in this episode:
Carpe Diem by Kevin MacLeod (incompetech.com)
Licensed under Creative Commons: By Attribution 3.0 License

Cover image: Merdeka.com


2 thoughts on “Episode 9 – Susu, Telur dan Bubur Kacang Hijau Sang Jenderal

  1. Serius deh ngkong Rane, saya jatuh cinta sama podcast semenjak denger podcast ini, suka banget sama podcastnya ngkong, sukses selalu semoga ngkong bisa selalu berkarya! (Saya panggil ngkong soalnya baru umur 17thn hehe)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *