Telaah Sebelum Berbagi

Hari ini saya kembali mencoba membuktikan “teori” yang pernah saya tulis di sini soal akun abal-abal yang menyebarkan informasi di Facebook untuk tujuan tertentu atau hanya berbagi hoax alias informasi palsu saja. Saya akan coba jabarkan hasil penelusuran saya itu tapi tidak mau memberi contoh akun yang saya maksud walau untuk tujuan pembelajaran sekalipun. Alasannya, saya tidak mau ikut mempromosikan keberadaannya. Tapi kalau Anda menemukannya, bisa coba gunakan teknik penelusuran yang saya lakukan ini untuk membuktikannya. Malah bisa jadi bahan diskusi, karena siapa tahu teori saya salah.

Semua bermula pada hari ini  (Senin, 19/12) ketika Bank Indonesia mengeluarkan 11 pecahan mata uang dengan desain baru (tujuh uang kertas dan 4 uang logam).  Seperti yang sudah saya tebak, bakal ada saja yang kemudian mengaitkannya dengan teori-teori konspirasi atau politis.

Tidak lama setelah peluncurannya, sebuah akun Facebook memasang gambar mata uang baru itu serta gambar mata uang China dengan keterangan: “Uang baru dari BI mirip dengan uang Yuan China. Ada apa ini?” tulis akun itu. Hanya dalam hitungan beberapa jam saja, posting itu langsung viral setelah di share hampir 6 ribu kali di Facebook. Sebelum membagi informasi itu, saya mencoba menelusuri terlebih dahulu.

Akun Facebook di penyebar informasi soal uang baru BI yang mirip Yuan China ini kemudian saya telusuri lebih jauh berbekal empat poin berikut:

  1. Profil akun. Teori saya adalah, pemilik akun biasanya jelas asal-usulnya, foto profilnya juga jelas menggambarkan pemiliknya. Bagi saya pemilik akun Facebook cenderung akan memasang foto dirinya atau foto lain yang terkait dirinya.Hasil penelusuran saya membuktikan tidak ada penjelasan di bagian about tentang siapa si pemilik akun. Saya coba telusuri foto profilnya serta foto-foto lain yang kira-kira menggambarkan si pemilik akun. Dengan menggunakan layanan pengecekan foto dari TinEye.com, saya menemukan ada beberapa foto, termasuk salah satu foto profilnya yang diambil dari situs lain, termasuk situs stok foto gratisan.
  2. Kapan akun itu dibuat. Teori kedua saya adalah waktu akun itu dibuat bisa menggambarkan maksud si pembuat akun. Dalam hal ini ada kecenderungan akun itu baru dibuat berdekatan dengan sebuah peristiwa yang memang sedang ramai jadi kontroversi.Saya coba telusuri sampai ke posting pertamanya, dan terbukti bahwa akun itu baru dibuat sekitar pertengahan November, berdekatan dengan peristiwa unjuk rasa besar yang kontroversial. Saya sebut kontroversial karena memang jadi perdebatan besar. Saya tidak mau berdebat soal gerakan tersebut, apalagi terbukti aksi itu damai, meski sempat ada bentrokan di ujungnya. Tapi poin yang ingin saya tunjukkan di sini adalah bahwa akun tersebut sengaja dibuat untuk momen ini.
  3. Frekuensi Posting. Teori ketiga adalah soal frekuensi posting. Sebuah akun Facebook umumnya diisi posting dengan frekuensi yang jarang. Bisa jadi sehari sekali atau dua kali. Kalaupun sering, rentangnya pun tidak berdekatan.Akun Facebook yang saya telusuri itu frekuensi postingnya bisa sampai berkali-kali dalam sehari dan rentang waktunya hanya beberapa menit saja.
  4. Isi Akun. Teori ke empat saya adalah bahwa isi akun akan sangat menggambarkan apa tujuan si pemiliknya. Apakah untuk sekedar berteman, berbagi cerita, berbagi informasi atau ada tujuan lain, semua akan nampak di konten akun pemiliknya.Nah, akun Facebook yang saya telusuri itu isinya semua bernada provokasi, tidak sedikit yang berisikan informasi hoax alias palsu dan kerap menyebut nama kelompok tertentu.

Berbekal ke empat teori di atas saya kemudian membuat pertimbangan pribadi apakah akan membagi posting itu atau tidak. Dalam hal ini saya kemudian memutuskan untuk tidak membagi informasi itu. Anda mungkin punya pendapat lain dan memutuskan untuk membaginya, ya silahkan. Itu hak Anda. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa ada tujuan tertentu si pemilik akun menyebarkan informasinya dan Anda lah yang berhak menilai apa tujuan itu sebelum kemudian membaginya. Jangan langsung dibagi hanya karena isinya menarik atau kontroversial tanpa dipelajari lebih dulu. Telaah sebelum membagi!

Buat saya pribadi, jelas posting di akun itu tujuannya sangat politis dan membawa misi kelompok tertentu. Memang bisa saja Anda beralasan tidak ada yang salah ketika menyamakan uang BI yang baru dengan Yuan China? Tapi buat saya nuansa politisnya kental sekali dan karena itu saya tidak mau membaginya di Facebook, termasuk juga menyebutnya di tulisan ini karena tidak mau ikut mempromosikan tujuannya. Anda punya pendapat lain ya silahkan. Yang penting dipelajari dulu.

Bagi saya posting semacam ini sudah bisa ditebak kemunculannya di tengah suasana politik belakangan hari yang tengah memanas. Apalagi setelah beberapa waktu lalu beredar luas posting hoax yang menyebutkan bahwa di uang pecahan Rp.100.000 keluaran tahun 2014 ada lambang palu arit, padahal itu adalah logo Bank Indonesia.

Lewat tulisan ini saya hanya mau mengajak teman-teman untuk terlebih dahulu meluangkan waktu memeriksa sumber sebuah informasi di Facebook sebelum membaginya. Janganlah menjadi “clicking monkeys” yang dengan cepat membagi sebuah informasi sebelum menelaahnya terlebih dahulu. Bahasa lebih sopannya adalah tabayyun lah dulu. Cari dulu kejelasannya sebelum disebarkan. Bagi saya itu sebenarnya adalah sebuah kewajaran saja. Pakai teori akal sehatpun seharusnya bisa. Buat apa kita membagi informasi yang kita sendiri tidak tahu benar atau tidaknya, bukan?

Nah, bicara akal sehat, kalau Anda tidak sempat atau terlalu sibuk untuk terlebih dahulu memeriksa konten sebuah informasi sebelum membaginya, ya sebaiknya tidak usah dibagi. Betul?

Punya pendapat lain? Dengan senang hati saya siap berdiskusi dengan teman-teman di kolom komentar di bawah, atau kalau mau langsung dan lebih pribadi ya silahkan gunakan formulir kontak di sini yang akan langsung masuk email ke saya.

Tabik!

– Bojongkulur, Senin, 19 Desember 2016

 

Previous post
Next post

4 Responses to Telaah Sebelum Berbagi

  1. Sjamsudin says:

    Terima kasih tuk pencerahannya

    • Ainur says:

      Sangat Bijak, selain krn saya adalah pegawai BI yg kebetulan sering gerah dengan cercaan orang mengenai kebijakan publik yg telah kami keluarkan, dimana kebijakan tersebut merupakan hasil proses kerja dan telaah panjang sebagai pertanggung jawaban kami terhadap amanat UU dan pekerjaan, tulisan ini akan sangat berguna tidak hanya bagi kami insan BI, tp juga untuk lembaga publik lainnya, dan secara luas masyarakat Indonesia, semoga masyarakat kita semakin cerdas, shg kita bisa menjadi bangsa yg besar

  2. mariskova says:

    Tapi, Om, kalau berhenti di kita, kita gak akan dapat hidayah…. *dikepruk sama Om Rane*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *