What You See is What I Eat!

Siapa yang punya kebiasaan sebelum makan mengeluarkan HP dan memotret makanan di depannya dan diposting di media sosial? Ayo tunjuk tangan! *Oke, saya tunjuk tangan deh*

Sejak teknologi HP dilengkapi kamera, saya sudah punya kebiasaan itu. Entah sudah berapa banyak foto makanan yang saya ambil dan posting di Facebook dan Instagram. Malah waktu menetap di Jepang saya punya album khusus untuk foto-foto makanan.

Nah, gara-gara hobi ini, ada saja kawan yang bertanya apa rahasianya memotret makanan? Yah, mungkin yang paling penting menurut saya adalah sering-seringlah makan! Habis yang ditanya bukan fotografer profesional, tapi tukang makan profesional. Maka itulah jawaban pertama saya. Jawaban selanjutnya saya coba rangkum dalam tulisan berikut ini.

*Catatan: Ini tips ala saya yang belum tentu cocok dengan fotografer profesional. Saya kebanyakan menggunakan ponsel, terutama iPhone 4S, dan belakangan menggunakan Xiaomi Redmi 2 andalan saya. Oke mari kita mulai!

~~~

1. Go Closer!

Seorang teman fotografer yang saya kagumi pernah memberikan tips ini saat saya mintai pendapatnya soal fotografi makanan: “Go Closer!” Cuma itu, jawabnya. Ngeselin nggak sih?

167890_10150142439416337_1984286_n

Tapi, ah, setelah dipikir-pikir benar juga! Apa sih yang kita lakukan kalau melihat makanan di piring? Saya sih  akan mendekat dan berusaha melihatnya lebih seksama. Saya ingin tahu ini makanan apa? Apa saja isinya? Bahannya dari apa? Dan itu rupanya tercermin dari kebanyakan foto-foto makanan yang pernah saya ambil. Rata-rata diambil dari jarak dekat.

57903_480632491336_1641534_n

Mungkin saya ini realistis saja. Makanan itu harus menggiurkan. Bahkan saya paling suka memotret makanan saat sudah ada di sendok atau di garpu, seolah sedang menyodorkan kepada para penikmat foto saya atau menggoda persis seperti anak saya yang suka sekali menyodorkan sendok berisi makanan seolah ingin menyuapkan ke mulut saya, sambil bilang “Ayo ayah makan, aa.. mulutnya bukaa.. aa.” Tapi kemudian saat mulut saya terbuka buru-buru makanan dimasukan ke mulutnya sendiri. “Aaammm.. enaakk,” katanya. hehe

pete

~~~

2. What You See Is What I Eat!

Saya termasuk yang tidak suka -atau mungkin tidak mau terlalu repot- melakukan plating atau menghiasi makanan atau garnishing apalagi secara berlebihan. Buat saya justru lebih realistis ketika kita memotret makanan itu apa adanya. Ibarat seorang gadis cantik, saya lebih tertarik kalau ia tampil apa adanya tanpa dandanan, apalagi yang menor. Ada yang tidak setuju, ya itu masalah selera dong hehe..

warteg

~~~

3. Detil itu penting (a)

Buat saya foto makanan itu harus sebisa mungkin menjelaskan apa saja unsur di dalamnya. Misalnya begini.. Kalau memotret nasi campur, sebisa mungkin saya akan ambil dari sudut pandang yang memungkinkan orang melihat apa saja unsur dari nasi campur itu. Kenapa? Karena kalau melihat nasi campur kita pasti penasaran mau tahu apa saja lauknya. Betul, tidak?

campur

~~~

4. Detil itu penting (b)

Satu hal lagi kalau bicara detil adalah foto itu harus jelas! Siapa yang ngiler melihat foto makanan yang blur? Saya tidak! Malah foto makanan itu akan tampak lebih detil lagi kalau latar belakangnya yang blur. Bukan obyek utamanya, lho!

Tapi mungkin Anda lantas bertanya: “Wah itu kan bisa blur kalau pake kamera mahal. Gue kan cuma pakai kamera hape!” Jangan salah, sis! Kamera ponsel itu bisa juga kok bikin foto dengan latar blur walau tidak sebagus kamera DSLR dengan bukaan besar.

closer - minuman

Mau tahu rahasianya? Latar belakang yang blur itu sebenarnya bisa kita buat dengan membuat obyek jadi sedekat mungkin ke kamera ponsel kita dan latar belakang dibuat menjauh. Supaya fokus, di layar ponsel sentuhlah bagian yang jadi obyek utama foto Anda. Itu cara fokus di kamera ponsel. Semakin dekat (tentu tergantung jenis kamera ponselnya), semakin blur latar belakangnya. Ini contohnya:

27773_437926936336_2120209_n

~~~

5. “The Best Camera Is The One You Have With You”

Saya termasuk yang percaya bahwa kamera terbaik itu adalah yang ada di tangan kita. Pernah lihat orang mau makan di restoran, terus mengeluarkan kamera DSLR gede lengkap dengan lampu flash, reflektor dan segala pernak-perniknya? Gila aja kalau ada yang begitu, kecuali dia memotret khusus di studio. Foto di bawah ini saya ambil dengan kamera Blackberry Bold jadul.

1934187_181171876336_5941360_n

Kamera terbaik itu ada di tangan kebanyakan kita. Apalagi kalau bukan kamera di ponsel atau HP. Ini soal momen, bro! Tidak setiap saat kita bertemu makanan unik dan ingin segera pamer ke teman-teman, bukan? Yang penting realistis. Kalau kamera ponsel kita memang kualitasnya kurang bagus, coba mainkan di sudut pengambilan, fokus, atau malah pakai tambahan aplikasi kalau perlu. Foto di bawah ini adalah foto biasa saja yang saya ambil saat sedang ngopi di kantin. Kemudian saya olah dengan aplikasi untuk membuat latar belakangnya jadi blur.

kopi

~~~

6. Cahaya itu penting!

Dalam potret memotret, cahaya itu penting. Apalagi kalau memotret makanan. Sumber cahaya yang tepat bisa membuat foto makanan kita tampak lebih seksi dan menggiurkan. Sumber cahaya yang tepat juga bisa sangat membantu kita memotret jika pakai kamera ponsel yang tidak bisa terlalu beradaptasi pada pencahayaan rendah.

Tapi mentang-mentang pencahayaan kurang, jangan buru-buru mengaktifkan flash atau blitz di kamera ponsel ya. Buat saya, pemakaian flash akan membuat obyek foto jadi datar, tidak menarik lah! Boro-boro ngiler!

1935527_132144681336_8312273_n

Kalau niatnya memang mau motret makanan, coba duduk di tempat yang sumber cahayanya cukup. Misalnya di dekat jendela atau di bawah lampu atau di tempat yang terang. Dalam keadaan terpaksa, dan Anda pikir orang harus lihat makanan di depan Anda itu, bisa juga memanfaatkan fungsi flashlight atau senter dari ponsel lain. Pinjam saja punya teman kalau ada. Nah soal pakai senter ponsel ini ada tips nih. Cobalah cari tissue atau kertas putih dan pantulkan cahaya senter di ponsel yang tadi pinjam punya  teman itu dari kertas ke obyek. Cahaya yang dihasilkan biasanya lebih lembut seperti pakai reflektor di studio.

closer - nasi

Yang penting, cobalah bermain-main dengan sumber cahaya itu dan bandingkan mana sudut terbaik yang membuat makanan itu jadi lebih menggoda. Saya sendiri lebih suka dengan sumber cahaya dari samping ketimbang dari atas karena lebih memunculkan detil makanan itu.

23451_415991911336_5417890_n

~~~

7. Jangan Pelit, Ah!

Maksudnya, jangan cuma ambil fotonya satu kali, walau sudah lapar sekalipun. Cobalah ambil berulang-ulang dari sudut pandang berbeda dan pencahayaan berbeda. Nanti setelah makan, baru deh pilih mana yang paling bagus buat di unggah ke media sosial.

Screenshot_2016-03-17-20-56-53_com.miui.gallery_1458223040926

~~~

Oke, sampai di sini ada yang mungkin bertanya: “Elu fotografer profesional? Kok berani-beraninya ngasih tips motret?”

Kalau ada yang bertanya begitu saya akan jawab: “Bukaan!”. Tapi bukan berarti kita tidak boleh berusaha untuk bikin foto yang bagus, toh?

Yang terpenting dari semua itu, nikmatilah kegiatan memotretnya. Banyak-banyak bereksperimen. Pakai aplikasi kalau perlu. Saya sih termasuk yang percaya bahwa fotografi itu ibarat melukis. Bisa melukis pakai cahaya, pakai sudut pengambilan, bahkan pakai aplikasi tambahan sekalipun.

Demikian! Semoga bermanfaat. Punya tips lain? Ayolah berbagi! Jangan pelit-pelit lah! Hehehe.. Peace y’all!

 

– Kantin Parkiran Wisma Pondok Indah, saat  17 Maret 2016
Saat menunggu macet pulang kantor :p

~~~~

3 thoughts on “What You See is What I Eat!

  1. Beberapa dari tips ini, agak bertentangan dgn yg diajarkan di food photography. Terutama bagian Get Closer. Sering bngt foto gue dibilang terlalu ketat atau terlalu dekat. Padahal selera gue mirip elu, maunya deket dgn alasan yg sama, biar keliatan tekstur, lebih mengundang selera dan keingintahuan. Pada akhirnya gue udah gk ngikutin lg aturan yg rata2 food photografer bilang. Krn terlalu di styling yg merepotkan. Bagus2 sih, cuma kebanyakam jg jadi gk fokus ke makanannya tp ke stylingnya.
    Thanks ada yg sealiran.

  2. Ini tips2nya saya suka. Sebagian udah diaplikasikan, ada jg yg pingin dicoba, spt pakai kertas tisu utk menghasilkan cahaya lembut dr senter.

    Saya jg termasuk yg gak jago styling2 makanan. Jepret apa yg tersaji lbh terasa natural rasanya.

    Thanks a bunch ya tipsnya. Sukses terus!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *