Saya Adalah Anita, Argi dan Kita
Ketika membaca berita tentang seorang petugas KAI yang dipecat karena tumbler penumpang yang hilang, saya terdiam sejenak. Tumbler seratus ribuan tiba tiba berubah menjadi perkara nasional. Dalam sekejap, semua orang punya pendapat. Semua orang merasa tahu siapa salah dan siapa benar.
Ada sekelumit perasaan tidak nyaman yang muncul. Bukan pada keberatan keluarga Anita, bukan pada pembelaan untuk Argi. Yang mengusik adalah kenyataan bahwa saya melihat diri saya sendiri di dalamnya. Seperti menatap cermin yang memantulkan sesuatu yang sebenarnya kita saya lihat atau tidak mau saya lihat.
Kasus tumbler ini bukan hanya tentang kehilangan barang. Ini adalah cerita tentang bagaimana manusia merespons rasa kesal, rasa takut, dan rasa tidak memiliki kuasa. Dan tiga rasa itu ternyata ada dalam diri saya.
Saya adalah Anita
Saya adalah Anita. Saya bukan dari kelas atas. Menengah saja mungkin masih nanggung. Tapi jelas bukan dari kelas bawah. Tumbler saya bukan level Stanley yang harganya bisa 1 jutaan lebih. Masih level Tumbler Tuku yang 100 ribuan perak. Tapi ada yang tidak bisa dibayar dengan uang, yaitu nilai emosional.
Saya ingat betapa lucunya guyonan teman-teman nongkrong dulu ketika mereka bilang, “Lo buru-buru amat sih? Bawa sendok emak ya?” Tapi juga sering panik ketika menghilangkan Tupperware ibu. Wah ngeri. Harganya mahal karena itu perlu perjuangan untuk bisa mengoleksinya satu demi satu demi satu. Tapi justru disitu nilainya jadi lebih mahal lagi. Nilai emosional yang tidak bisa dibayar dengan uang.
Ketika membaca cerita tentang tumbler hilang itu, saya coba bayangkan perasaan Anita. Kecewa. Jengkel. Kecewa pada diri sendiri yang kok bisa-bisanya menghilangkan barang yang punya nilai emosional. Jengkel karena tidak berdaya dengan kebodohan sendiri dan tidak tahu harus berbuat apa atau minta tolong kepada siapa.
Dalam keadaan tak berdaya itu, reaksi spontan saya adalah mencari kambing hitam. Saya merasa saya teledor, tapi kan harusnya pihak KAI bisa membantu saya. Buktinya tas saya ketemu. Tapi kenapa tumblernya hilang. Kenapa? Saya tidak mau tahu. Harus ketemu!
Dalam sekejap saja saya marah. Sama marahnya ketika gelas favorit retak, karena buku dipinjam lalu tidak kembali, ketika baju kaos buluk saya yang nyaman sekali saat dipakai tiba-tiba hilang atau dijadikan kain pel. Pokoknya marah! Itu reaksi awal saya.
Saya adalah Argi
Tapi cerita tidak berhenti di situ. Ketika saya membaca ulang beritanya, saya malah menempatkan diri pada Mas Argi si petugas Customer Service KAI. Saya ternyata juga adalah Argi. Saya membayangkan bagaimana rasanya menjadi karyawan baru. Belajar sistem. Belajar budaya kerja. Belajar mencari suasana aman di tengah berbagai tuntutan. Saya tahu seperti apa rasanya jadi "kutu kupret" dari sebuah sistem besar.
Saya tahu rasanya bekerja dengan rasa takut salah. Takut dianggap tidak becus. Takut kehilangan pekerjaan. Takut membuat keputusan yang ternyata salah di mata perusahaan. Ketakutan terasa sangat familiar, terutama pada masa awal bekerja. Di fase itu, tujuan utama saya adalah bertahan. Pokoknya harus perform sebaik mungkin. Jangan bikin masalah. Jangan mencari perkara.
Dan ketika saya sudah berusaha mengikuti prosedur, tapi ternyata tetap saja melihat potensi saya yang akan disalahkan, ya jelas saya tambah takut kehilangan pekerjaan. Saya sudah membayangkan reaksi kantor. Saya takut dipecat. Tidak mudah bagi saya dapat pekerjaan.
Akhirnya seperti Anita, saya dengan mudah sekali mengambil keputusan impulsif. Lebih baik saya ganti saja tumblernya. Lebih baik keluar uang yang nilainya besar buat karyawan biasa seperti saya dan berharap masalah bisa selesai dengan cepat.
Saya adalah Netizen
Cerita Anita dan Argi kemudian berkembang karena satu hal, para netizen. Kita! Rakyat biasa yang sering merasa tidak memiliki kuasa, tapi kuat ketika bersama.
Saya tahu rasanya mengadu tetapi tidak ditanggapi. Saya tahu rasanya kecewa ketika pihak yang punya kuasa, entah itu lembaga, perusahaan, aturan, atau sistem di atas kita, yang menurut gue sibuk memikirkan dirinya sendiri, malah banyak yang menguntungkan diri sendiri.
Dalam keadaan seperti itu, media sosial berubah menjadi ruang tempat suara kita didengar. Ruang tempat kita merasa punya kuasa. Ruang tempat kita bisa menekan institusi besar yang sebelumnya jauh dari jangkauan.
Saya akhirnya spontan memilih pihak yang menurut saya lebih lemah. Saya memilih pihak yang lebih mirip dengan kehidupan saya. Anita dan Argi adalah saya juga. Hanya sedikit perbedaannya. Toh Anita masih naik kereta, bukan mobil mewah. Masih kerja keras, masih menyimpan pompa ASI di tasnya yang hilang itu, agar anak yang ditinggalkan masih bisa punya stok susu walaupun ibunya harus bekerja seharian.
Tapi emosi saya langsung naik ketika Argi yang juga adalah cerminan kita semua, kehilangan pekerjaan. Saya marah, merasa ada ketidakadilan di sini, tapi saya tak berdaya. Saya hanya tahu satu cara.
Kita memilih pihak yang secara emosional lebih dekat. Dalam pilihan itu tumbuh rasa solidaritas, yang berkembang menjadi mob mentality, mental keroyokan yang gelap mata yang tidak mau tahu duduk perkara.
Saya harus mengakui bagian ini juga ada dalam diri saya. Saya bisa saja terjebak pada dorongan ingin mengeroyok. Ingin memastikan seseorang dipecat. Ingin mendatangi kantor mereka. Tuntut keadilan. Bikin petisi. Ingin menggalang dana untuk pihak yang saya rasa lebih lemah. Semua muncul bukan hanya karena empati, tetapi karena saya merasa sedang membela diri saya sendiri.
Ketika publik merasa tidak memiliki kuasa di ruang formal, mereka akan mencarinya di ruang informal. Dan di ruang itulah sering kali individu yang kebetulan berada di tengah pusaran menjadi korban. Bukan sistemnya. Bukan institusinya. Tapi orang biasa yang juga sedang berusaha bertahan hidup.
Dan terbukti kan kebersamaan Kami membuat Anita juga dipecat!
Tapi setelah Anita dipecat dan dia bersama suaminya meminta maaf di media sosial, saya jadi berpikir. Kasus tumbler Kak Anita ini sebenarnya sederhana. Tetapi cerminan yang muncul darinya justru sangat kompleks. Kita melihat bagaimana masyarakat merespons kehilangan, bagaimana pekerja merespons ketakutan, dan bagaimana publik merespons rasa tidak didengar.
Saya tidak mencoba membela satu pihak atas pihak lain. Saya hanya menyadari bahwa saya bisa melihat diri saya di berbagai sisi. Saya bisa memahami rasa kesal Anita. Saya bisa memahami rasa takut Argi. Saya bisa memahami frustrasi netizen. Ketiganya ada di dalam diri saya, dan mungkin juga ada di dalam diri banyak orang.
Mungkin ini yang bisa kita pelajari. Sebelum bereaksi, sebelum menuntut, sebelum menekan, kita bisa berhenti sebentar dan bertanya pada diri sendiri. Dari lapisan mana saya bereaksi, dari rasa kesal, dari rasa takut, atau dari rasa tidak memiliki kuasa.
Jika kita bisa menjawab pertanyaan itu, saya merasa mungkin ruang publik kita bisa menjadi sedikit lebih tenang, sedikit lebih adil, sedikit lebih manusiawi. Sedikit saja.
Karena di negara ini ada kesewenang-wenangan lebih besar yang membutuhkan lebih banyak kebersamaan kita.
Tangerang Selatan,
28 November 2025
Versi audio bisa didengar di sini
.