<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://suarane.org/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suarane.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Aug 2010 14:31:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
	<!-- podcast_generator="podPress/8.8" - maintenance_release="8.8.5.3" -->
	<copyright>2006-2007 </copyright>
	<managingEditor>rane@hafied.org</managingEditor>
	<webMaster>rane@hafied.org</webMaster>
	<category>posts</category>
	<ttl>1440</ttl>
	<image>
		<url>http://suarane.org/wp-content/uploads/2007/08/suarane_sm.jpg</url>
		<title></title>
		<link>http://suarane.org</link>
		<width>144</width>
		<height>144</height>
	</image>
	<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
	<itunes:summary></itunes:summary>
	<itunes:keywords></itunes:keywords>
	<itunes:category text="Society &amp; Culture" />
	<itunes:author></itunes:author>
	<itunes:owner>
		<itunes:name></itunes:name>
		<itunes:email>rane@hafied.org</itunes:email>
	</itunes:owner>
	<itunes:block>no</itunes:block>
	<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
	<itunes:image href="http://suarane.org/wp-content/uploads/2007/08/suarane_sm.jpg" />
		<item>
		<title>“There Is No Ground Zero Mosque”: Belajar Dari Keith Olbermann</title>
		<link>http://suarane.org/?p=364</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=364#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 13:56:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[Saya tidak tahu apa di radio-radio di Indonesia saat ini masih ada acara semacam Tajuk Rencana atau Editorial –maklum sudah 10 tahun lebih tidak ikut perkembangan di tanah air. Tapi kalau memang masih ada, maka saya sarankan coba dengar salah satu episode acara Countdown yang dibawakan oleh jurnalis senior MSNBC Keith Olbermann bertopik “There Is [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya tidak tahu apa di radio-radio di Indonesia saat ini masih ada acara semacam Tajuk Rencana atau Editorial –maklum sudah 10 tahun lebih tidak  ikut perkembangan di tanah air. Tapi kalau memang masih ada, maka saya sarankan coba dengar salah satu episode acara <em>Countdown</em> yang dibawakan oleh jurnalis senior MSNBC <em>Keith Olbermann</em> bertopik “<em>There Is No ‘Ground Zero Mosque’</em>”.</p>
<p>Tajuk atau Editorial di radio adalah salah satu acara yang sangat berisiko ditinggalkan pendengar. Kenapa? Karena isinya melulu bicara dan bicara. Karena itu tantangannya adalah bagaimana menulis serta menyajikannya dengan menarik. Ingat! Ini radio! Lebih bagus lagi kalau apa yang disampaikan itu benar-benar tertanam ke benak pendengar. </p>
<p>Saya suka sekali episode Countdown tentang masjid di ground zero ini, sampai sering saya dengar berulang-ulang. Kerunutan cara bercerita serta gaya penyajiannya buat saya sangat bagus dan bisa jadi contoh menarik. Mari kita coba bedah episode ini.</p>
<p>Episode ini mengudara di tengah kontroversi rencana pembangunan masjid di dekat bekas runtuhnya menara kembar  di New York. Tuan Olberman memulai dengan mengutip pernyataan terkenal<em> Friedrich Gustav Emil Martin Niemöller</em>. seorang pastor  anti nazi. Ia dikenal sebagai salah satu penentang Hitler dan sempat ditahan selama 7 tahun namun selamat dari kamp konsentrasi Nazi yang mengerikan itu. Ini cuplikan kata-katanya yang terkenal itu, namun menurut Olberman tidak banyak yang mendalami artinya</p>
<ul><strong><em>&#8220;They came first for the Communists, and I didn&#8217;t speak up because I wasn&#8217;t a Communist.Then they came for the trade unionists, and I didn&#8217;t speak up because I wasn&#8217;t a trade unionist.Then they came for the Jews, and I didn&#8217;t speak up because I wasn&#8217;t a Jew. Then they came for me and by that time no one was left to speak up.&#8221;</em></strong></ul>
<p>Dari pembukannya saja acara ini sudah menarik. Bayangkan, mereka sampai terpikirkan untuk memulai topik tentang masjid di New York ini justru dari pernyataan seorang pastor di jaman Nazi. Menurut Olbermann, kata-kata Pastor Niemöller itu mengingatkan kita tentang betapa mudahnya sebuah masyarakat yang nampak rasional berubah menjadi jahat dan penuh kebencian yang digemakan oleh para politisi dan fanatis baik di dalam atau di luar pemerintah. </p>
<ul>
<strong> <em>“Niemoller was not warning of the holocaust. He was warning of the thousand steps before a holocaust became inevitable.”</em></strong></ul>
<p>Di negara yang menjunjung kebebasan, kata Olbermann, apa yang di peringatkan oleh Pastor Niemoller ini kembali terjadi ketika orang ramai-ramai menyebut masjid yang akan dibangun di New York itu sebagai tempat pelatihan bagi para teroris dan ini merupakan penghinaan terhadap para korban tragedi menara kembar 11 September 2001.</p>
<p>Ia mengungkapkan fakta bahwa bangunan itu nantinya lebih dari sekedar masjid melainkan juga pusat kegiatan masyarakat yang dilengkapi lapangan basket dan sekolah kuliner. Tempat pelatihan bagi teroris di tengah New York? Berlebihan memang, tapi Olbermann kemudian mengkritiknya dengan gaya &#8216;lebay&#8217; juga.</p>
<ul>
<strong><em>“What a cauldron of terrorism that will be. Terrorist chefs and terrorist point guards.”</em></strong></ul>
<p>Berulangkali Olbermann mengkritik para penentang pembangunan masjid itu dengan menyertakan berbagai fakta. Satu bagian yang sangat saya suka adalah ketika Olbermann mengungkapkan fakta betapa lokasi pembangunan masjid itu tidak berada di lokasi “Ground Zero” seperti yang selama ini dibesar-besarkan oleh media dan para penentang, melainkan 4 atau 5 blok dari bekas lokasi reruntuhan itu. Yang justru berada persis di dekat Ground Zero adalah salah satu gereja tertua di New York.</p>
<ul>
<strong><em>“People hear &#8220;Ground Zero Mosque&#8221; and they think Mecca in the backyard and a loud call to prayer and they take umbrage.”</em></strong></ul>
<p>Dengan gaya bicara yang tenang namun tegas, Olberman lantas mengingatkan kembali pemirsanya mengapa Amerika menyerang Irak. Alasan “resminya” adalah untuk membebaskan dunia –khususnya warga Irak- dari tirani seorang Saddam Husein. Tapi siapa yang tinggal di Irak, tanyanya? </p>
<ul>
<strong><em>“Well, who lives in Iraq? Muslims.”</em></strong></ul>
<p>Ya, penduduk di Irak itu muslim, meskipun masih ada orang di Amerika yang tidak sadar bahwa Syiah dan Sunni yang tinggal di Irak itu adalah muslim. Olbermanpun lantas menjelaskan betapa ironisnya ketika Amerika mengorbankan ribuan tentaranya untuk membantu warga muslim disana, namun tidak mengizinkan warga Muslim di Amerika sendiri untuk membangun sebuah sekolah kuliner dan tempat ibadah. </p>
<ul>
<strong><em>We sacrificed 4,415 of our military personnel in Iraq to save Muslims, and there are thousands still there tonight to protect Muslims, but we don&#8217;t want Muslims to open a combination culinary school and prayer space in Manhattan?</em></strong></ul>
<p>Amerika, lanjutnya, dibangun di atas perjuangan melawan prasangka, sikap tidak toleran antar umat beragama dan musuh terberat: kebodohan, yang di eksploitir oleh para politisi serakah. Ya kebodohan! Ia memakai kata-kata itu. Untuk memperkuat pernyataannya soal orang-orang bodoh itu, ia mengingatkan kembali bagaimana 50 tahun lalu banyak warga Amerika pernah menyebarkan informasi tentang bahayanya memilih seorang calon presiden di masa itu, dengan alasan karena ia adalah seorang penganut Katolik Roma, seorang yang patuh pada Paus di Vatikan dan berpotensi menjadi agen asing. Siapa calon presiden itu?</p>
<ul>
<strong><em>His name was John Fitzgerald Kennedy</em>.</strong></ul>
<p>Sampai di bagian ini ekspresi Olbermann terkesan mulai emosional. Ia mengingatkan bahwa para teroris yang menghancurkan menara kembar itu ingin mengubah Amerika menjadi seperti kemauan mereka. Dan apa bedanya para pengecam pembangunan masjid itu dengan para teroris?</p>
<ul>
<strong><em>What better way could we honor the dead of the World Trade Center, than to do the terrorists&#8217; heavy lifting for them?</em></strong></ul>
<p>Sebagai penutup, Olbermann menyampaikan sebuah fakta menarik yang tidak banyak orang tahu, yakni tentang “Masjid Manhattan”. Masjid ini di bangun pada awal tahun 1970, dan di akhir tahun itu pula beberapa blok dari masjid tersebut pembangunan Menara Kembar New York dimulai. Jadi di lokasi dekat &#8220;Ground Zero&#8221; itu sebenarnya pernah ada masjid juga, tapi tidak pernah ada yang protes. Masjid itu terus dapat menjalankan aktifitasnya tanpa kontroversi, tanpa ada insiden, aksi terorisme maupun protes. Karena apa? Dengan nada suara keras, dia bilang begini:</p>
<ul>
<strong><em>Because this is America, dammit!</em></strong></ul>
<p><em>Dammit!</em> Ekspresi makian dalam bahasa sehari-hari itu diucapkan Olbermann dengan keras dan tegas. Dan menutup acaranya, ia pun kembali mengingatkan pada nilai-nilai luhur Amerika..</p>
<ul>
<strong><em>And in America, when somebody comes for your neighbor, or his bible, or his torah, or his Atheists&#8217; Manifesto, or his Koran, you and I do what our fathers did, and our grandmothers did, and our founders did. You and I speak up! Good night, and good luck!</em></strong></ul>
<p>Keith Olbermann memang dikenal dengan gayanya yang tegas, tajam dan cerdas, dan menurut saya episodenya kali ini adalah salah satu yang paling menarik. </p>
<p>Hanya 12 menit lebih Olbermann menyampaikan tajuknya. Hanya 12 menit lebihyang hanya berisi omongan tanpa harus dibantu oleh efek-efek musik yang mencekam. Dan saya yakin, ucapannya itu masuk ke banyak benak orang. Buktinya, videonya itu menyebar luas dan diteruskan kemana-mana di facebook. </p>
<p>Jadi apa Radio anda sudah punya acara editorial atau tajuk? Mungkin waktunya mempertimbangkan punya acara semacam itu. Inilah acara yang walau singkat, tapi menegaskan sikap kita sebagai media, asal dikemas dengan baik. </p>
<p>Dari Olbermann rasanya kita bisa belajar bahwa sebuah editorial yang baik itu tidak melulu mengandalkan kata-kata rumit, njlimet, yang dibacakan dengan serius dengan suara diberat-beratkan dan membosankan. Ia bisa dikemas menjadi sebuah acara yang menarik juga. </p>
<p>Dari Olbermann saya belajar bahwa esensi dari sebuah acara editorial adalah gabungan antara hasil riset yang memadai, cara memadukan fakta, pola pemikiran dan penjabaran yang runut, ungkapan-ungkapan yang tepat pada tempatnya dan cara pembawaan yang menarik dengan intonasi, gaya bahasa dan penekanan yang pas pada kata-kata yang dianggap penting. </p>
<p>Sekali lagi, menurut saya episode ini adalah contoh yang menarik buat kita orang media, khususnya orang radio, di tengah kecenderungan media kita belakangan hari ini yang entah kenapa jadi bak tukang sate yang suka sekali mengipas-ngipaskan bara kontroversi minim esensi, semata agar “bara” itu terus menyala demi menjual apa yang disebut sebagai rating!</p>
<p><em>Tabik!</em></p>
<p>&#8212;&#8212;<br />
<strong>Informasi Terkait:</strong></p>
<p><strong>:: Audio (silahkan klik player di bawah ini untuk mendengarkan versi audionya): </strong><br />
 </p>
<p><strong>:: Teks (mau baca transkripnya? Klik link ini)</strong>: <a href="http://bit.ly/dr2gYm" target="_blank">http://bit.ly/dr2gYm</a></p>
<p><strong>:: Video (Ini dia videonya yang banyak disebar di facebook itu):</strong>   </p>
<p><object width="480" height="385"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/QZpT2Muxoo0?fs=1&amp;hl=en_US"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/QZpT2Muxoo0?fs=1&amp;hl=en_US" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="480" height="385"></embed></object><br />
Sumber: http://www.youtube.com/watch?v=QZpT2Muxoo0</p>
<p><strong>Informasi terkait lainnya:</strong></p>
<p><strong>:: <a href="http://www.msnbc.msn.com/id/3036677/" target="_blank">Situs web Countdown with Keith Olbermann</a></strong><br />
<strong>:: <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Keith_Olbermann" target="_blank">Keith Olberman di Wikipedia</a></strong></p>
<p><strong>Credits:</strong><br />
:: Foto ilustrasi: screenshot dari youtube.<br />
:: Audio dari situs web Countdown<br />
:: Video dari youtube</p>
<img src="http://suarane.org/?ak_action=api_record_view&id=364&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=364</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
			<enclosure url="http://suarane.org/wp-content/uploads/2010/08/There-Is-No-Ground-Zero-MOsque-bag2.mp3" length="3973630" type="audio/mpeg" />
		<itunes:duration>5:31</itunes:duration>
		<itunes:subtitle>Saya tidak tahu apa di radio-radio di Indonesia saat ini masih ada acara semacam Tajuk Rencana atau Editorial –maklum sudah 10 tahun lebih tidak  ...</itunes:subtitle>
		<itunes:summary>Saya tidak tahu apa di radio-radio di Indonesia saat ini masih ada acara semacam Tajuk Rencana atau Editorial –maklum sudah 10 tahun lebih tidak  ikut perkembangan di tanah air. Tapi kalau memang masih ada, maka saya sarankan coba dengar salah satu episode acara Countdown yang dibawakan oleh jurnalis senior MSNBC Keith Olbermann bertopik “There Is No ‘Ground Zero Mosque’”.
 
Tajuk atau Editorial di radio adalah salah satu acara yang sangat berisiko ditinggalkan pendengar. Kenapa? Karena isinya melulu bicara dan bicara. Karena itu tantangannya adalah bagaimana menulis serta menyajikannya dengan menarik. Ingat! Ini radio! Lebih bagus lagi kalau apa yang disampaikan itu benar-benar tertanam ke benak pendengar. 

Saya suka sekali episode Countdown tentang masjid di ground zero ini, sampai sering saya dengar berulang-ulang. Kerunutan cara bercerita serta gaya penyajiannya buat saya sangat bagus dan bisa jadi contoh menarik. Mari kita coba bedah episode ini.

Episode ini mengudara di tengah kontroversi rencana pembangunan masjid di dekat bekas runtuhnya menara kembar  di New York. Tuan Olberman memulai dengan mengutip pernyataan terkenal Friedrich Gustav Emil Martin Niemöller. seorang pastor  anti nazi. Ia dikenal sebagai salah satu penentang Hitler dan sempat ditahan selama 7 tahun namun selamat dari kamp konsentrasi Nazi yang mengerikan itu. Ini cuplikan kata-katanya yang terkenal itu, namun menurut Olberman tidak banyak yang mendalami artinya

"They came first for the Communists, and I didn't speak up because I wasn't a Communist.Then they came for the trade unionists, and I didn't speak up because I wasn't a trade unionist.Then they came for the Jews, and I didn't speak up because I wasn't a Jew. Then they came for me and by that time no one was left to speak up."

Dari pembukannya saja acara ini sudah menarik. Bayangkan, mereka sampai terpikirkan untuk memulai topik tentang masjid di New York ini justru dari pernyataan seorang pastor di jaman Nazi. Menurut Olbermann, kata-kata Pastor Niemöller itu mengingatkan kita tentang betapa mudahnya sebuah masyarakat yang nampak rasional berubah menjadi jahat dan penuh kebencian yang digemakan oleh para politisi dan fanatis baik di dalam atau di luar pemerintah. 


 “Niemoller was not warning of the holocaust. He was warning of the thousand steps before a holocaust became inevitable.”




Di negara yang menjunjung kebebasan, kata Olbermann, apa yang di peringatkan oleh Pastor Niemoller ini kembali terjadi ketika orang ramai-ramai menyebut masjid yang akan dibangun di New York itu sebagai tempat pelatihan bagi para teroris dan ini merupakan penghinaan terhadap para korban tragedi menara kembar 11 September 2001.

Ia mengungkapkan fakta bahwa bangunan itu nantinya lebih dari sekedar masjid melainkan juga pusat kegiatan masyarakat yang dilengkapi lapangan basket dan sekolah kuliner. Tempat pelatihan bagi teroris di tengah New York? Berlebihan memang, tapi Olbermann kemudian mengkritiknya dengan gaya 'lebay' juga.


“What a cauldron of terrorism that will be. Terrorist chefs and terrorist point guards.”


Berulangkali Olbermann mengkritik para penentang pembangunan masjid itu dengan menyertakan berbagai fakta. Satu bagian yang sangat saya suka adalah ketika Olbermann mengungkapkan fakta betapa lokasi pembangunan masjid itu tidak berada di lokasi “Ground Zero” seperti yang selama ini dibesar-besarkan oleh media dan para penentang, melainkan 4 atau 5 blok dari bekas lokasi reruntuhan itu. Yang justru berada persis di dekat Ground Zero adalah salah satu gereja tertua di New York.


“People hear "Ground Zero Mosque" and they think Mecca in the backyard and a loud call to prayer and they take umbrage.”



Dengan gaya bicara yang tenang namun tegas, Olberman lantas mengingatkan kembali pemirsanya mengapa Amerika menyerang Irak. Alasan “resminya” adalah untuk membebaskan dunia –khususnya warga Irak- dari tirani seorang Saddam Husein.</itunes:summary>
		<itunes:keywords>Program, Sosok, Terbaru</itunes:keywords>
		<itunes:author>rane@hafied.org</itunes:author>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:block>no</itunes:block>
	</item>
		<item>
		<title>Jurnalisme Perasaan</title>
		<link>http://suarane.org/?p=335</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=335#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 14:08:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ah, Teori]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=335</guid>
		<description><![CDATA[Ibu itu terpaksa harus menjual salah satu anak kembarnya yang baru dilahirkan karena ia tidak mampu membayar biaya persalinan. Di bawah sorotan kamera, sambil berlinangan air mata si ibu mengungkapkan rasa kecewanya. Sang reporter pun bertanya &#8220;Kecewanya kenapa, bu?&#8220; Dalam peristiwa lainnya, seorang reporter radio melaporkan dari lokasi rubuhnya sebuah hotel akibat gempa di Padang: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibu itu terpaksa harus menjual salah satu anak kembarnya yang baru dilahirkan karena ia tidak mampu membayar biaya persalinan. Di bawah sorotan kamera, sambil berlinangan air mata si ibu mengungkapkan rasa kecewanya. Sang reporter pun bertanya <strong>&#8220;<em>Kecewanya kenapa, bu?</em>&#8220;</strong></p>
<p>Dalam peristiwa lainnya, seorang reporter radio melaporkan dari lokasi rubuhnya sebuah hotel akibat gempa di Padang: &#8220;Saudara, saya sedang bersama seorang bapak yang anaknya terperangkap di reruntuhan hotel ini. Pak, <strong><em>bagaimana perasaan bapak</em>?</strong>&#8221;</p>
<p>Selamat datang di era &#8220;Jurnalisme Perasaan&#8221;. Ini istilah yang saya gunakan setiap kali melihat ada wartawan yang mengajukan pertanyaan yang bukan hanya standar, tapi sangat tidak relevan,  tidak pada tempatnya dan dari segi jurnalistik sangat amat mubazir. Pertanyaan yang paling sering saya temukan adalah ya itu tadi.. &#8220;Bagaimana perasaan anda?&#8221; hehe</p>
<p>Memang seringkali ketegangan tiba-tiba menyerang saat harus  berhadapan <em>live</em> dengan nara sumber di lapangan, apalagi kalau itu dilakukan mendadak demi aktualitas berita.</p>
<p>Dalam keadaan seperti ini, salah satu tips yang paling ampuh (paling tidak dari pengalaman saya) adalah <strong>pakai ilmu orang biasa saja</strong> lah. Jangan bayangkan diri anda seorang wartawan, soalnya kadang kita terjebak untuk mengajukan pertanyaan yang dalam persepsi kita harus bernilai jurnalistik.. hallah.. hehe. </p>
<p>Dalam kasus harus berhadapan dengan si ibu yang harus menjual salah satu anak kembarnya, kadang ketika kita menjadi orang biasa, pertanyaan yang muncul pun jadi biasa. Bukan pertanyaan seorang wartawan. Coba pikirkan kalau anda kenal orang itu,  apa yang kira-kira anda akan tanya kalau harus berhadapan dengannya?</p>
<p>Mungkin pertanyaann bisa jadi: &#8220;Ikut prihatin, bu. Tapi apa ibu ndak coba minta keringanan rumah sakit? Apa tidak coba minta bantuan dulu? Apa ibu tahu alamat orang yang membeli anak ibu?&#8221; dan lain sebagainya yang malah mungkin bisa kita kembangkan lebih baik. Ya paling tidak itu lebih baik daripada menanyakan &#8220;Kecewa kenapa bu?&#8221; atau &#8220;Bagaimana perasaan ibu?&#8221;</p>
<p>Bayangkan ketika jari anda tidak sengaja teriris pisau sampai berdarah-darah dan sakitnya luar biasa, dan ada yang bertanya: &#8220;Sakit ya?&#8221;. </p>
<p>Ya, kadang pertanyaan yang paling bagus adalah pertanyaan biasa saja. Pertanyaan orang biasa. Bukankah pendengar kita juga orang biasa..?</p>
<p>Salam!</p>
<img src="http://suarane.org/?ak_action=api_record_view&id=335&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=335</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Wawancara &#8220;Bodoh&#8221; ala Larry King</title>
		<link>http://suarane.org/?p=342</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=342#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Jul 2010 04:47:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=342</guid>
		<description><![CDATA[Pembawa acara bincang-bincang terkenal di saluran televisi Amerika CNN, Larry King mengejutkan penggemarnya ketika pada akhir Juni 2010 lalu ia menyatakan mundur dari acara Larry King Live yang sudah 25 tahun mengudara. Ini jelas berita besar. Konon sudah lebih dari 50 ribu orang diwawancara sepanjang karirnya, dan setiap wawancara selalu penuh dengan kejutan-kejutan menarik. Apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pembawa acara bincang-bincang terkenal di saluran televisi Amerika CNN, <strong><em>Larry King</em></strong> mengejutkan penggemarnya ketika pada akhir Juni 2010 lalu ia menyatakan mundur dari acara<em> Larry King Live</em> yang sudah 25 tahun mengudara. Ini jelas berita besar. Konon sudah lebih dari 50 ribu orang diwawancara sepanjang karirnya, dan setiap wawancara selalu penuh dengan kejutan-kejutan menarik. Apa rahasia keberhasilannya?</p>
<p>Dalam biografinya, <em>King: My Remarkable Journey</em>, bertebaran cerita-cerita menarik tentang kisah sukses dan pendapat-pendapatnya tentang dunia siaran. Tapi yang menarik adalah satu faktor yang menjadi ciri khas seorang Larry King, yakni <strong>tidak sok tahu</strong>. Temannya ada yang bilang itu karena Larry bodoh!</p>
<p>“<em>The key to your success is you’re dumb!</em>” (Hal.133) Kata-kata ini pernah diucapkan <em>Herbie Cohen</em>, kawan terdekat Larry King. Menurut temannya itu, kunci sukses Larry adalah karena dia bodoh! Menurut Herbie, para pewawancara di televisi itu banyak yang terkesan tahu banyak hal, tapi tidak dengan Larry. Dia lebih sering bilang pada nara sumbernya “Saya tidak tahu soal hal ini. Tolong jelaskan pada saya. Bantu saya.” Dan justru ini mendorong nara sumbernya untuk banyak bercerita.</p>
<p>Larry sendiri bilang, rahasia kesuksesannya adalah karena ia hanya orang biasa. Apa yang dilakukannya hanya mengajukan pertanyaan yang pendek dan sederhana. Maksudnya? Ini beberapa poin yang saya dapat dari buku biografinya:</p>
<ul>
<li>Menurut Larry, pertanyaan sederhana bisa menghasilkan jawaban yang mengejutkan.</li>
<li>Namun kita harus selalu mendengarkan karena pertanyaan berikutnya akan tergantung pada jawaban terakhir.</li>
<li>Ada pewawancara sudah menyiapkan pertanyaan dengan sangat matang sampai ke pertanyaan-pertanyaan. Ini boleh saja. Tapi menurut Larry seumur hidup ia tidak pernah menyiapkan pertanyaan yang akan diajukan</li>
<li>Kuncinya adalah “element of surprise” atau kejutan! Saat Larry mendapatkan kejutan, saat itulah ia merasa telah melakukan tugasnya dengan baik.</li>
<li>Banyak pewawancara yang terlalu terfokus pada dirinya sendiri dan tamu mereka tidak lebih dari properti atau hiasan belaka.</li>
<li>Banyak penyiar yang saat bertanya akan berpanjang-panjang dan terkesan memamerkan pengetahuannya. Padahal justru yang harusnya jadi pakar adalah sang nara sumber</li>
<li>Pertanyaan yang pendek dan padat justru akan membuat penyiar kelihatan lebih pintar, lebih smart.</li>
<li>Memang kita tetap harus punya pengetahuan dasar. Namun akan lebih baik kalau kita tidak banyak tahu dan bisa kita kembangkan dalam wawancara.</li>
<li>Memang metode wawancara seperti ini penuh resiko. Tapi resiko dan kejutan adalah hal yang harus dimiliki seorang penyiar.</li>
</ul>
<p>Ada satu contoh menarik ketika Larry King mewawancarai <em>Dr. Edward Teller</em>, penemu bom hidrogen. Saat wawancara akan mulai, si pakar ini bertanya apa yang diketahui Larry tentang fisika. Larry pun menjawab. “<em>nothing!</em>”. Si pakar pun meragukan wawancara akan berjalan lancar.</p>
<p>Dan inilah pertanyaan pertamanya pada si pakar:</p>
<p><em>“Waktu kita di sekolah dulu, kenapa banyak yang takut pada fisika? Kenapa fisika selalu sulit?”</em></p>
<p>Mata si nara sumber pun berbinar-binar dan iapun menjawab dengan penuh semangat. Pertanyaan-pertanyaan pun terus mengalir. “Kenapa?”,”Apa hal yang paling hebat dari fisika?”,”Sebagai penemu bom hydrogen, apa anda harus melihatnya sendiri saat meledak, atau cukup mengandalkan perhitungan matematika saja?”. Si pakar pun terus menjawab dan acara berjalan lancar. Belakangan si pakar bilang bahwa Larry bisa jadi hanya pura-pura tidak tahu.</p>
<p>Banyak nara sumber yang merasa senang di wawancara Larry King karena pertanyaan-pertanyannya tidak pernah diajukan oleh pewawancara lainnya sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaannya penuh kejutan dan menarik.</p>
<p>Dalam sebuah pemberian anugerah, Larry pernah diperkenalkan dengan cara seperti ini:</p>
<p><em>“99 persen orang di dunia penyiaran takut mengambil resiko. Mereka cari jalan aman. Mereka mencoba melakukan hal yang benar. Tapi pada dasarnya hal yang benar itu adalah ‘jangan mengambil langkah-langkah ekstra dan lakukan apa yang diperintahkan padamu’. 99 persen! Dan yang satu persen ada di ruangan ini (Larry King).”</em></p>
<p>Lantas apa relevansinya dengan kita orang radio?</p>
<p>Satu hal yang mungkin tidak banyak diketahui orang adalah bahwa Larry King memulai karirnya dari dunia radio di pertengahan tahun 1950an. Semua itu terjadi secara kebetulan karena saat bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sebuah radio di Miami, seorang penyiarnya mundur dan Larry pun diminta mengambil alih siaran. Bahkan nama “King” di belakang namanya didapat dari sebuah iklan di koran.</p>
<p>Salah satu acara radio yang konon membentuk Larry King sehingga menjadi seperti sekarang adalah ketika ia harus siaran live di sebuah restoran. Tugasnya adalah mewawancara pelanggan restoran itu yang terdiri dari macam-macam orang dari berbagai profesi. Ia bahkan tidak tahu siapa tamunya yang akan datang ke restoran itu sehingga tidak punya waktu untuk membuat persiapan.</p>
<p>Memang hanya ada satu Larry King. Tapi kita bisa banyak belajar darinya bagaimana menciptakan sebuah program wawancara yang menarik. Wawancara yang sederhana, terpusat pada si nara sumber dan tergantung pada bagaimana si pewawancara bisa menggali pertanyaan sehingga menciptakan alur yang menarik.</p>
<p>Ngomong-ngomong soal radio, belakangan kita melihat banyak orang radio yang sudah sukses dan beralih jadi pembawa acara televisi tapi kemudian gagal. Nah ada satu nasihat bagus dari Larry yang saya terjemahkan dari buku biografinya yang selengkapnya ada di halaman 70..</p>
<p><em>“Banyak orang radio yang gagal di televisi karena mereka melihatnya sebagai televisi. Padahal mereka hanya duduk di meja dan mengajukan pertanyan. Bedanya hanya karena ada kamera saja. Perbedaan mendasar antara radio dan televisi adalah tidak ada bedanya!”</em></p>
<p>Ya, tidak ada bedanya. Jadi masih takut bersaing dengan televisi? Come on, guys.. <img src='http://suarane.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Tokyo, 10 Juli 2010</strong></p>
<p>~~~</p>
<p><strong>Tautan terkait:</strong></p>
<p>- Pernyataan Larry King: <a href="http://larrykinglive.blogs.cnn.com/2010/06/29/statement-from-larry-king/" target="_blank">http://larrykinglive.blogs.cnn.com/2010/06/29/statement-from-larry-king/</a></p>
<p>- Biografi Larry King: <a href="http://www.amazon.com/My-Remarkable-Journey-Larry-King/dp/1602860866" target="_blank">http://www.amazon.com/My-Remarkable-Journey-Larry-King/dp/1602860866</a></p>
<p>- Kalau bisa memutuskan, tahukah siapa yang dipilih Larry untuk menggantikannya? Silahkan terkejut dan menebak alasannya di sini: <a href="http://www.cbsnews.com/stories/2010/06/30/earlyshow/leisure/main6633073.shtml" target="_blank">http://www.cbsnews.com/stories/2010/06/30/earlyshow/leisure/main6633073.shtml</a></p>
<p>- Saya ketemu tautan menarik dari seseorang yang mencoba mengupas rahasia Larry King dalam melakukan wawancara. Patut kita pelajari: <a href="http://www.simplenomics.com/27-secrets-to-interviewing-like-larry-king-part-one/" target="_blank">http://www.simplenomics.com/27-secrets-to-interviewing-like-larry-king-part-one/</a></p>
<p>- Sumber foto: Wikipedia : <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Larry_King">http://en.wikipedia.org/wiki/Larry_King</a></p>
<img src="http://suarane.org/?ak_action=api_record_view&id=342&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=342</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kirim-Kiriman Lagu</title>
		<link>http://suarane.org/?p=327</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=327#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 09:22:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ah, Teori]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=327</guid>
		<description><![CDATA[Masih saja ada anggapan di beberapa kalangan dunia radio bahwa siaran request atau saya lebih suka menyebutnya acara &#8216;kirim-kiriman lagu&#8217; merupakan &#8216;kasta terendah&#8217; alias paling mudah dibawakan dalam jenjang acara radio. Bandingkan misalnya dengan acara talk show atau morning show dan lain sebagainya. Tapi kenyataannya tidak selalu demikian.. Di bawah sadar banyak orang, acara kirim-kiriman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih saja ada anggapan di beberapa kalangan dunia radio bahwa siaran <em>request</em> atau saya lebih suka menyebutnya acara &#8216;kirim-kiriman lagu&#8217; merupakan &#8216;kasta terendah&#8217; alias paling mudah dibawakan dalam jenjang acara radio.  Bandingkan misalnya dengan acara talk show atau morning show dan lain sebagainya.</p>
<p>Tapi kenyataannya tidak selalu demikian.. Di bawah sadar banyak orang, acara kirim-kiriman ini bahkan kerap dianggap sebagai ciri khas radio. Saya yang kadang sering kelewat bangga menyebut diri jurnalis radio ini, misalnya, sering sekali justru menerima komentar seperti: &#8220;Jurnalis Radio? Wah, lu kerja di radio? Kirim-kirim lagu dong buat gue!&#8221;. <img src='http://suarane.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Hahaha.. kena batunya..!</p>
<p>Tapi sayangnya, di sisi lain saya juga masih saja mendengar komentar seperti &#8220;Yah saya ini CUMA penyiar kirim-kiriman lagu aja, pak. Bukan professional kayak anda..&#8221;</p>
<p>Nah, buat mereka yang masih merasa acara ini CUMA kirim-kiriman lagu saja lah tulisan berikut ini saya persembahkan.</p>
<p><strong>ACARA DENGAN JAMINAN PENDENGAR</strong></p>
<p>Pertama dan paling utama: di saat acara lain harus berjuang untuk mendapatkan pendengar, acara kirim-kiriman lagu adalah yang termasuk paling cepat mendapatkan pendengar dan juga paling banyak pendengarnya.  Pengalaman saya kerja di dua stasiun radio internasional selalu menunjukan bahwa walaupun acara talk show atau liputan khusus memang menarik, tapi tetap saja yang paling banyak disukai adalah acara yang sifatnya interaktif dalam memutarkan lagu dan pesan pendengar. </p>
<p>Mengapa bisa demikian? Saya menduga paling tidak ada 3 faktor;</p>
<p>1. Musik. Siapa sih yang tidak suka musik? Rasanya semua orang suka. </p>
<p>2. Musik pilihan. Biasanya musik yang diputar adalah musik-musik pilihan pendengar yang sedang atau pernah terkenal dan hampir bisa dipastikan disukai banyak orang. </p>
<p>3. Narsis. Manusia pada dasarnya punya sifat narsis, suka disebut namanya di udara <img src='http://suarane.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>ROBOT VS MANUSIA</strong></p>
<p>Dengan bermodal tiga faktor yang saya sebut tadi saja, acara kita sudah menjadi jaminan tersendiri. Cukup bacakan permintaan lagu serta pesan-pesan si peminta lagu dan putar. Beres!! Apalagi di jaman serba canggih seperti sekarang, rasanya secara teknis siaran kirim-kiriman lagu ini menjadi mudah sekali. Tidak seperti jaman dulu yang membutuhkan keahlian tersendiri untuk mencari lagu, me-rewind, memasang tape dan lain sebagainya. Sekarang semuanya tinggal pencat-pencet sana sini dan ngomong. Beres! </p>
<p>Dari sudut pandang pendengar, mereka sudah senang diputarkan lagu dan pesannya. Tapi percayalah, ketika mereka kita berikan &#8220;bonus&#8221; berupa sikap ramah, uluran pertemanan yang tulus, dengan mudah kita bisa merebut hati mereka! Istilahnya, kalau harus memilih berteman dengan robot atau manusia, tentu kita pilih manusia, dong.. <img src='http://suarane.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>INOVASI</strong></p>
<p>Ketika kita sudah merebut hati pendengar, maka waktunya untuk menjaga supaya mereka (dan juga kita) tidak bosan. Caranya; Lakukan inovasi, buat hal-hal baru dalam siaran anda, buat sesuatu yang berbeda. </p>
<p>Bagaimanapun ketika semua radio punya acara kirim-kiriman, anda harus berusaha menciptakan sesuatu yang menonjol, yang berbeda, tapi selalu ingat untuk melakukannya dengan melihat <strong>dari sudut pandang pendengar</strong>. </p>
<p>Jangan mentang-mentang sudah merasa banyak pendengar, tiba kita, misalnya, tidak mau kalah dengan acara pagi dan sore, lalu ikut  menghadirkan wawancara dengan pengamat politik tentang peristiwa terkini. Biar sajalah itu untuk porsi acara-acara talk show. Tapi kenapa tidak, misalnya anda hubungi orang-orang terkenal dan minta mereka untuk cerita tentang lagu kesukaan mereka.. BBC punya acara seperti ini dan laris manis sampai puluhan tahun.</p>
<p>Ada lagi sebuah radio yang justru mengirimkan penyiarnya siaran di jalanan, menemui pendengar di jalanan, mengajak mereka ngobrol di udara dan lain sebagainya. Ini juga sebuah cara yang menarik.</p>
<p>Cara serupa juga dilakukan oleh radio lain yang pas jam makan siang selalu rajin keluar menelusuri tempat-tempat makan terkenal dan dari situ mengudarakan permintaan-permintaan lagu dari para pembeli sekalian menginformasikan tempat-tempat makanan menarik.</p>
<p>Ada banyak cara untuk menciptakan inovasi dalam acara kirim-kiriman kita dan saya yakin orang radio pasti lebih tahu siapa pendengar masing-masing baik dari segi usia, ekonomi, pendidikan, kebiasaan dan lain sebagainya. Kembangkanlah kreatifitas kita dalam berinovasi dari situ, dari sudut pandang pendengar. </p>
<p>Yang lebih menarik adalah karena acara kirim-kiriman lagu ini sering menjadi semacam laboratorium untuk menggodok lahirnya acara-acara dan penyiar-penyair baru.. </p>
<p><strong>SHOW!!!</strong></p>
<p>Ada satu lagi cara untuk mengembangkan kreatifitas dan inovasi kita, yaitu dengan memperlakukan acara kirim-kiriman lagu itu sebagai sebuah &#8220;SHOW&#8221;. Lihatlah ia sebagai satu paket acara yang terdiri dari macam-macam hal, tapi dengan tetap berdasaran pada permintaan pendengar. Percayalah, kadang yang diperlukan oleh para penyiar ini adalah sudut pandang lain untuk melihat acara mereka yang tidak CUMA acara kirim-kiriman semata, tapi sebuah show!</p>
<p>Selamat siaran. Jangan lupa kirimin lagu buat saya ya hehehehehe</p>
<img src="http://suarane.org/?ak_action=api_record_view&id=327&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=327</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Jam Tanpa Imajinasi</title>
		<link>http://suarane.org/?p=311</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=311#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 14:23:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penulis Tamu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[Catatan: Dunia radio buat saya adalah dunia yang sangat abstrak. Banyak teori yang bisa membimbing kita memasuki dunia ini, tapi dalam prakteknya, sering teori itu jadi berantakan semua. Karena itulah salah satu cara terbaik untuk &#8216;nyemplung&#8217; ke dunia radio adalah lewat pengalaman-pengalaman sesama insan radio itu sendiri. Bukan untuk meniru, tapi untuk mendapatkan &#8216;feel&#8217; dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan: Dunia radio buat saya adalah dunia yang sangat abstrak. Banyak teori yang bisa membimbing kita memasuki dunia ini, tapi dalam prakteknya, sering teori itu jadi berantakan semua. Karena itulah salah satu cara terbaik untuk &#8216;nyemplung&#8217; ke dunia radio adalah lewat pengalaman-pengalaman sesama insan radio itu sendiri. Bukan untuk meniru, tapi untuk mendapatkan &#8216;feel&#8217; dari dunia siaran, dan selanjutnya kita kembangkan sendiri. Pengalaman Mas <strong><em>Waheb Muthaleb Al Banyumasi</em></strong>, penyiar di <a href="http://radio.suarawarga.info/" target="_blank">Radio Suara Warga FM</a>, Jombang, berikut ini adalah salah satu contohnya dan semoga bisa menambah semangat anda untuk masuk ke dunia radio. Terimakasih mas untuk sumbangan tulisannya, Mas. Jangan sungkan-sungkan untuk berbagai cerita lagi disini. Kalau anda juga punya pengalaman, kenapa tidak berbagi disini. Silahkan kontak saya di <strong>jafmail @ gmail.com </strong>atau tinggalkan pesan di kotak komentar.</p>
<p style="text-align: center;">~~~</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Dua Jam Tanpa Imajinasi</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Oleh : Waheb Muthaleb Al-Banyumasi*</em></p>
<p style="text-align: center;"><em><br />
</em></p>
<p><img class="alignleft" src="http://suarane.org/wp-content/uploads/2010/04/9128_102757476402280_100000040845377_79032_4412186_n.jpg" alt="" hspace="4" vspace="4" width="101" height="131" />Berawal dari obrolan iseng-iseng di facebook, Rane coba memancing Penulis untuk menceritakan tentang pengalaman pertama waktu siaran, setelah dipikir-pikir ngga tahunya ajakan itu cukup menarik karena siapa lagi yang akan menghargai pengalaman Kita kalau bukan Kita sendiri? Hehe… oke deh terima kasih sudah membuatku tergerak menceritakan hal luar biasa ini.</p>
<p>Well, sampai saat ini rasanya dunia radio bagi penulis masih terasa baru banget, masih banyak urusan yang sepertinya perlu dikenal lebih jauh. Maklum baru di awal-awal tahun ini beraktifitas di radio menjadi salah satu bagian dari rutinitas sehari-hari, apalagi dengan usia yang barangkali sudah tergolong uzur untuk mempelajari dunia yang benar-benar baru. Sebenarnya tanggung jawab menjadi penyiar ini diberikan sebagai tambahan saja, melengkapi basis pekerjaan sebagai reporter tulis yang kala itu baru berjalan 2 bulan.</p>
<p>Sepertinya memang nekat ya sementara kerjaan sebagai reporter saja masih meraba-raba, tahu-tahu tantangan untuk menjadi penyiar tak sampai hati (dan sedikit otak tentunya) Penulis tolak. Memang program yang dibawakan tidak masuk jadwal prime time alias sekedar acara ringan pengantar istirahat para pendengar, tayang antara pukul 22.00 sampai 24.00 WIB. Program itu sendiri diberi tajuk Dendang Warga (Dewa) yang memutar lagu-lagu hiburan khas rakyat kecil dangdut koplo.</p>
<p>Sebagaimana prosedur yang berlaku di Radio Komunitas Suara Warga FM 107,7 setiap Penyiar perdana wajib didampingi oleh Mereka yang sudah berpengalaman, kebetulan yang bertugas mendampingi bukan penyiar reguler melainkan spesialis backup namanya Doni. Dengan gayanya yang urakan n gokil sepertinya Doni memang cocok sekali membawakan program ini, berkali-kali terdengar ucapan terima kasih serta permohonan request lagu dialamatkan padanya. Sepanjang durasi siaran itu nama Penulis sendiri hanya disebut satu kali itupun karena Si Penelepon menanyakan terlebih dahulu, sepertinya cukluplah itu diterima sebagai sensasi yang patut disyukuri, maklum saat siaran itu imajinasi serasa macet dan mengakibatkan bibir lebih banyak terkatup dan hanya sesekali berbicara laiknya robot.</p>
<p>Mungkin karena saking menikmatinya bersiaran, Doni pun sepertinya lupa akan tugas lain yang dibebankan yaitu menjadi ‘tutor’ bagi Sang Penyiar baru. Tapi dari hasil mengamati itu sepertinya sudah banyak hal yang bisa diadopsi sebagai pelajaran meskipun untuk dibilang cukup jelas masih belum.</p>
<p>Dengan hanya berbekal tekad serta kemauan untuk terus belajar, setidaknya kini Penulis (dalam hal ini penyiar) telah merasakan sendiri sebuah metamorfosis dari seseorang yang bermulut kaku menjadi sedikit endhel (genit). Sesekali ada-ada saja fans yang sengaja datang ke studio hanya untuk bertanya “Mas Pepe-nya ada?”. Masih banyak pekerjaan rumah memang termasuk untuk keluar sementara dari radio dan kembali dengan pola pandang audiens,  disamping mimpi untuk mewujudkan berlakunya “Suara Warga’s 20 Percent Time” demi mewujudkan visi radio yang cukup serius : MEMBUDAYAKAN DEMOKRASI.</p>
<p><em>*Penulis adalah penyiar radio Suara Warga FM Jombang (<a href="http://radio.suarawarga.info" target="_blank">http://radio.suarawarga.info</a>/) aktif mengawal program <strong>Dapur Demokrasi</strong> dan <strong>Dendang Warga</strong>.</em></p>
<img src="http://suarane.org/?ak_action=api_record_view&id=311&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=311</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memaksimalkan Fungsi Perekam Suara Via Blackberry</title>
		<link>http://suarane.org/?p=299</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=299#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 14:49:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[GapTek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[Anda pengguna Blackberry (BB) harusnya sudah tahu bahwa ponsel ‘sejuta umat’ itu dilengkapi dengan fungsi Voice Note untuk merekam suara yang cukup bagus. Saya lantas berpikir, apa yang bisa dimanfaatkan dari fungsi ini untuk kita orang radio? Hasilnya adalah tulisan ini, yang ingin sekedar berbagi ide soal bagaimana memaksimalkan fungsi voice note itu bagi kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda pengguna <em>Blackberry </em> (BB) harusnya sudah tahu bahwa ponsel ‘sejuta umat’ itu dilengkapi dengan fungsi <em>Voice Note</em> untuk merekam suara yang cukup bagus. Saya lantas berpikir, apa yang bisa dimanfaatkan dari fungsi ini untuk kita orang radio? Hasilnya adalah tulisan ini, yang ingin sekedar berbagi ide soal bagaimana memaksimalkan fungsi voice note itu bagi kita orang radio. (Oya, di bagian akhir tulisan ini anda bisa menemukan tautan ke berbagai perangkat lunak  atau layanan yang saya ulas di tulisan ini atau tulisan sebelumnya)</p>
<p>Saat pertama kali menggunakan BB, satu hal yang awalnya menecewakan saya adalah karena seperti halnya beberapa ponsel merek lain, fungsi perekam suaranya hanya bisa menyimpan dalam format <em>amr</em> atau singkatan dari <em>Adaptive Multi Rate</em>. Ini adalah format kompresi audio standar yang biasa digunakan pada fungsi perekam suara percakapan di ponsel.</p>
<p>Kekurangan format ini adalah karena tidak bisa diputar atau di edit dengan perangkat lunak standar. (Namun masalah ini ada jalan keluarnya dan akan saya ulas belakangan). Sementara kelebihan format ini adalah ukuran file yang kecil (hanya sekitar 100Kb per 1 menit), sehingga memudahkan untuk mengirim file tersebut via email di blackberry.</p>
<p>Kelebihan format ini harusnya membuka berbagai macam kemungkinan bagi kita orang radio atau podcaster. Berikut ini saya mencoba mengulas beberapa diantaranya.</p>
<p>1. Reporter kita di lapangan, misalnya, bisa mengirim laporannya ke studio  kapan saja via email di BB nya. Memang menerima langsung laporan via telepon akan lebih praktis dan cepat, tapi cara ini bisa menjadi alternatif pengiriman suara.</p>
<p>2. Hasil wawancara atau soundbyte yang direkam dan dikirim dengan alat ini juga akan lebih jelas ketimbang mengandalkan teknik menodong ponsel ke spiker yang hingga kini masih banyak dipraktekkan orang radio di lapangan, yang kadang sangat tergantung kualitas jaringan telepon. Hasilnya bisa kita gunakan untuk bulletin berita, misalnya. Jadi tugas reporter di lapangan bisa lebih dimaksimalkan.</p>
<p>3. Dengan memanfaatkan layanan blog seperti <em>posterous</em>, kita bisa memberikan nilai tambah pada layanan internet stasiun radio kita, karena kita bisa memasang update berita terbaru secara rutin di internet. (penjelasan lengkap lihat bagian ‘tautan terkait’ di akhir tulisan ini)</p>
<p>4. Dengan makin banyaknya pengguna BB, banyak potensi yang bisa kita maksimalkan dari pendengar yang menggunakan ponsel jenis ini. Misalnya, ketimbang berpartisipasi memberikan pendapat atau bertanya via sms, kenapa tidak ajak juga pendengar mengirimkan pendapatnya dalam bentuk rekaman suara dan dikirim via email blackberry ke studio? Bukankah esensi radio adalah suara?</p>
<p>Empat contoh di atas bisa jadi hanyalah segelintir dari berbagai kemungkinan yang bisa dimanfaatkan dan tinggal tergantung anda, karena saya yakin modal utama orang radio itu adalah kreatifitas.</p>
<p><strong>Mengedit dan Memutar File amr</strong></p>
<p>Seperti di ulas di atas, salah satu kendala dari file amr ini adalah karena ia tidak bisa diputar dan diedit dengan perangkat lunak standar. Namun setiap masalah ada jalan keluarnya kalau mau dicari. Salah satunya adalah dengan menggunakan perangkat lunak pengalih atau converter. <em>Switch</em> adalah salah satu perangkat lunak yang saya sarankan (lihat tautan di akhir tulisan ini).</p>
<p>Cara lain yang lebih praktis adalah dengan menggunakan perangkat lunak yang bisa memutar file amr berikut ini:</p>
<p>1. <strong><em>amr player</em></strong>: Yang pertama dan paling saya rekomendasikan adalah amr player. Ini adalah perangkat lunak khusus untuk memutar file amr yang bisa diunduh secara gratis ke komputer anda. Perangkat lunak ini bahkan bisa sekaligus berfungsi sebagai converter dari amr ke format mp3 atau wav.</p>
<p>2. Perangkat lunak lain yang juga bisa memutar file amr adalah: quicktime dan real player.</p>
<p><strong><em>VR+ Voice Recorder untuk Blackberry </em></strong><br />
<img src="http://suarane.org/wp-content/uploads/2010/03/Capture12_15_34.jpg" alt="" align="left" vspace="5" hspace="5" />Satu perangkat lunak lain yang juga perlu saya ulas disini adalah VR+ Voice Recorder, yakni perangkat lunak di ponsel BB (dan juga iPhone). Dengan perangkat lunak ini , suara dalam format AMR yang kita rekam di blackberry bisa di kirim langsung via email dan akan diterima sudah dalam format MP3. Cocok untuk senjata para reporter radio di lapangan dalam mengirimkan berita ke studio agar bisa langsung di edit.</p>
<p>Sekali lagi, teknik yang saya sodorkan ini memang masih perlu disempurnakan.  Namun saya hanya membuka satu lagi kemungkinan untuk mengembangkan kreativitas. Selanjutnya terserah anda..</p>
<p>Mungkin perlu dicatat pula bahwa apa yang saya ulas ini bukan hal baru. Selain Blackberry, banyak ponsel lain yang juga bisa merekam suara dan mengirimkan hasilnya langsung via email atau mms. Namun menurut saya, suara format amr di BB memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan hp lain yang pernah saya gunakan.</p>
<p>Salam,<br />
Rane</p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>Tautan terkait:</strong></p>
<p>:: <a href="http://www.amrplayer.com" target="_blank"><strong>amr Player</strong></a>: Perangkat lunak khusus untuk memutar file amr yang bentuk dan penggunaannya sangat sederhana. Lebih dari itu, amr player ini juga bisa mengkonversi file amr ke mp3 atau wav. Kelebihan lain: gratis! Baik untuk penggunaan pribadi maupun komersial.</p>
<p>:: <a href="http://www.nch.com.au/switch/plus.html" target="_blank"><strong>Switch</strong></a>: Perangkat lunak untuk mengubah format file audio amr menjadi mp3 atau wav. Gratis!</p>
<p>:: <a href="http://www.shapeservices.com/en/products/details.php?product=vr" target="_blank"><strong>VR+ Voice Recorder</strong></a>: Perangkat lunak perekam suara untuk Blackberry dan iPhone/iPod Touch. Dilengkapi dengan kemampuan untuk mengirimkan hasil rekamannya ke Facebook, MySpace, Twitter dan Blogger.com. Harga kurang lebih 29 USD, tapi tersedia versi uji coba (trial nya)</p>
<p>:: <a href="http://www.downloadatoz.com/5-amr-players" target="_blank"><strong>amr Player lain</strong></a>: 5 perangkat lunak terbaik untuk memutar file amr menurut situs downloadatoz. Gratis!</p>
<p>:: <a href="http://audacity.sourceforge.net" target="_blank"><strong>Audacity</strong></a>: Perangkat lunak gratis terbaik untuk mengedit suara.</p>
<p>:: <a href="http://suarane.org/?p=139" target="_blank"><strong>Merekan Wawacara Telepon di Ponsel</strong></a>: Ulasan tentang perangkat lunak untuk merekam wawancara via telepon melalui ponsel yang dulu sering jadi andalan saya saat bertugas liputan lapangan.</p>
<p>:: <a href="http://www.posterous.com" target="_blank"><strong>Posterous</strong></a>: Sebuah layanan blog paling sederhana yang memanfaatkan email. Layanan ini juga memungkinkankan kita mengirim berbagai format suara (wav, mp3, amr, ogg) lewat email dan akan langsung terpasang di blog tersebut lengkap dengan pemutar/ playernya.</p>
<p>:: <a href="http://suarane.posterous.com" target="_blank"><strong>Suarane on Posterous</strong></a>: Contoh penggunaan posterous untuk mengupload file audio.</p>
<img src="http://suarane.org/?ak_action=api_record_view&id=299&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=299</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Radio Perlu Belajar dari Filosofi Kerja Google</title>
		<link>http://suarane.org/?p=294</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=294#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 16:48:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Seorang teman seprofesi pernah mengeluhkan kejenuhannya karena meski ia bekerja di sebuah radio besar dengan gaji lumayan, tapi ia merasa stagnan karena tidak bisa menyalurkan kreatifitasnya. Padahal pada saat yang sama, perusahaan tetap menuntut kerja maksimal demi pemasukan iklan yang juga lebih besar. Dari sisi perusahaan, pembenaran yang kerap sering terdengar adalah bahwa kreatifitas itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang teman seprofesi pernah mengeluhkan kejenuhannya karena meski ia bekerja di sebuah radio besar dengan gaji lumayan, tapi ia merasa stagnan karena tidak bisa menyalurkan kreatifitasnya. Padahal pada saat yang sama, perusahaan tetap menuntut kerja maksimal demi pemasukan iklan yang juga lebih besar. </p>
<p>Dari sisi perusahaan, pembenaran yang kerap sering terdengar adalah bahwa kreatifitas itu sering tidak sejalan dengan pemasukan iklan, atau malah dianggap buang-buang air time saja. Jadi akhirnya banyak radio yang “bermain aman” saja, yang penting iklan tetap ada walau tidak lancar. </p>
<p>Lantas bagaimana mengatasi masalah ini? Ada satu contoh menarik yang mungkin bisa dicoba di radio anda. Contoh ini berasal dari sebuah perusahaan mesin pencari terbesar di dunia, <em>Google</em>. </p>
<p>Setiap satu hari dalam seminggu, para programer yang bekerja di Google diperbolehkan untuk mengerjakan proyek di luar tugas rutin atau job description mereka. Ini adalah salah satu dari filosofi kerja di Google yang dikenal dengan “<em>Google’s 20 Percent Time</em>”. </p>
<p>Mengapa bisa begitu? Saya jadi ingat buku karya kartunis <em>Hugh MacLeod</em> mengenai bagaimana mengembangkan kreatifitas. Di buku itu ia memaparkan sejumlah poin tentang kreatifitas, dan poin pertama –yang sekaligus menjadi judul buku itu- adalah: “<a href="http://gapingvoid.com/books/">Ignore Everybody</a>”, jangan perdulikan orang lain! </p>
<p>Menurutnya, ide-ide orisinil justru seringkali muncul pertama kali dari diri sendiri tanpa masukan dari pihak lain, baik teman maupun rekan kerja (apalagi pengiklan hehe). Namun justru ini tahapan paling sulit, karena kita si pemilik ide sering mendapat tentangan. Maklum, ide yang baik kadang sering membuat orang lain ‘terganggu’ karena sering merusak sistem kerja yang sudah ‘mapan’ di tempat kerja. </p>
<p>Karena itulah, tulis Hugh di bukunya, ide yang bagus dan orisinil sering kali ditolak pada awalnya. Dan  tidak ada jalan lain selain: jangan pedulikan orang lain!<em> Ignore everybody</em>! Kerjakan sendiri. </p>
<p>Tapi apa itu mungkin dilakukan di sebuah perusahaan yang menuntut kerjasama seluruh karyawannya? Google bisa dan berhasil! Caranya? Ya itu tadi, para karyawannya diberikan waktu 20 persen dari total  waktu kerja mengerjakan sesuatu berdasarkan kreatifitas mereka sendiri tanpa banyak pertimbangan ini itu dari pihak perusahaan. Hasilnya luar biasa! Banyak inovasi-inovasi baru yang muncul dan justru menguntungkan perusahaan besar itu seperti “<a href="http://googleblog.blogspot.com/2006/05/googles-20-percent-time-in-action.html">Google Reader</a>” atau sejumlah fungsi baru di Gmail.</p>
<p>Terus pelajaran apa yang bisa kita petik untuk orang radio yang selalu memerlukan kreatifitas? Ya berikanlah waktu bagi para penyiar, produser, reporter, bahkan sales dan marketing sekalipun untuk mengembangkan ide dan kreatifitas mereka. Jangan matikan ide itu dari awal. Matikan ide itu kalau nanti terbukti tidak berhasil, karena tidak semua hasil kreatifitas itu menarik bagi pendengar, apalagi menarik bagi pengiklan</p>
<p>Memang kalau mau dilihat dari sudut pandang manajemen, cara ini mungkin hanya membuang waktu kerja saja. Tapi ada jalan lain yaitu tiru cara google. Berikan sedikit ruang gerak kepada mereka untuk mewujudkan kreatifitas. Sedikit saja. Toh yang untung nanti perusahaan juga. </p>
<p>Contoh. Berapa lama jam siaran di radio anda? Katakanlah 12 jam. Kenapa tidak berikan slot 30 menit atau 10 menit sekalipun pada setiap penyiar  atau produser untuk mengembangkan sesuatu ide sesuai kemauan mereka tanpa harus dibebani kewajiban menarik pengiklan. Wajibkan mereka untuk pitching ide itu dan lebih penting lagi untuk mewujudkannya di udara dan biarkan pendengar yang menilai. Kalau tidak menarik, baru matikan ide itu! </p>
<p>Hal yang sama berlaku untuk para reporter, misalnya. Di sela kewajiban mereka melakukan liputan rutin setiap hari, berikan pula mereka waktu untuk membuat inovasi baru dalam melakukan liputan. Wajibkan kalau perlu!</p>
<p>Sales dan marketing pun demikian. Di luar tugas rutin, berikan mereka waktu untuk memikirkan ide-ide teknik pemasaran baru. Jadikan itu bagian dari Standard Operational Procedure mereka kalau perlu.</p>
<p>Di kantor ada bagian IT? Kenapa tidak berikan mereka waktu untuk juga memikirkan inovasi baru di situs kantor, atau di sistem siaran sesuai kemauan mereka di luar tugas-tugas rutin kantor. Mungkin sehari dalam seminggu bebaskan mereka dari kerja rutin? Kenapa tidak?</p>
<p>Anda mungkin berkata: bukankah ini tugas R&#038;D atau Litbang? Betul! Tapi berapa sih staf R&#038;D anda? Jangan-jangan malah radio anda tidak punya R&#038;D? Nah, bayangkan seluruh penyiar anda juga  melakukan tugas R&#038;D? Lebih banyak kepala, lebih banyak ide, bukan?</p>
<p>Salah satu kunci sukses Google adalah karena mereka memberi ruang bagi ide dan kreatifitas individual pekerjanya untuk tumbuh sehari dalam seminggu dan terbukti itu menguntungkan perusahaan. Kenapa tidak dicoba untuk radio anda?</p>
<p>Kenapa ini penting? </p>
<p>Karena menurut pendapat saya, musuh dalam selimut bagi radio adalah rutinitas. </p>
<p>Rutinitas berpotensi mematikan kreatifitas dan menjadikan penyiar-penyiar anda robot belaka yang hanya bisa <em>cuap-cuap</em> di sela lagu. Kalau sudah begitu, apa bedanya radio anda dengan MP3 Player?</p>
<p>Silahkan percaya dengan anggapan bahwa radio di jaman sekarang telah mati! Silahkan membandingkan dengan radio di masa lalu yang menjadi bagian dari gaya hidup orang. </p>
<p>Tapi coba tanya orang radio jaman dulu, apa kunci keberhasilan mereka? Mungkin karena belum ada televisi dan internet, mungkin karena belum banyak persaingan dalam berebut kue iklan.. tapi mungkin juga karena mereka diberi kebebasan untuk berkreasi! </p>
<p>Salam</p>
<img src="http://suarane.org/?ak_action=api_record_view&id=294&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=294</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Demokrasi Radio ala Jelli</title>
		<link>http://suarane.org/?p=264</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=264#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 00:25:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[GapTek]]></category>
		<category><![CDATA[Kabar Kabari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[Satu lagi sejarah baru di dunia radio siaran tercipta. Bayangkan sebuah radio dimana anda para pendengar bisa menentukan daftar lagu yang akan diputar di radio. Lebih dari itu pendengar bisa langsung menghentikan sebuah lagu yang tidak mereka sukai, bahkan ketika lagu itu belum selesai mengudara. Inovasi baru ini diperkenalkan oleh orang-orang di belakang jelli.net yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu lagi sejarah baru di dunia radio siaran tercipta. Bayangkan sebuah radio dimana anda para pendengar bisa menentukan daftar lagu yang akan diputar di radio. Lebih dari itu pendengar bisa langsung menghentikan sebuah lagu yang tidak mereka sukai, bahkan ketika lagu itu belum selesai mengudara. </p>
<p>Inovasi baru ini diperkenalkan oleh orang-orang di belakang <a href="http://www.jelli.net" target="_blank"><strong>jelli.net</strong></a> yang mengklaim sebagai radio siaran yang 100 persen dikendalikan oleh komunitas pendengar secara real time. “<em>Radio Democracy</em>,” istilah mereka.</p>
<p>Awalnya jelli.net ini hanya berbentuk radio streaming di internet dimana para pendengarnya bisa menentukan urutan lagu yang akan diputar. Namun dalam perkembangannya, mereka kemudian juga merambah ke radio fm, melalui sebuah stasiun rock alternatif di San Fransisco. Di stasiun radio itu setiap jam 10 malam hingga 12 malam, para pendengar bisa ikut menentukan lagu-lagu yang mereka sukai lewat situs jelli.net dan pilihan terbanyak akan mengudara. Kalau ada lagu yang tidak disukai banyak orang, mereka bahkan bisa menghentikannya saat itu juga atau istilahnya di bom! </p>
<p>Menurut siaran pers dari jelli.net, lewat inovasi baru ini mereka menciptakan sebuah jembatan antara radio siaran digital dan tradisional, sehingga menghadirkan sebuah pengalaman baru dalam mendengarkan radio. </p>
<p>Apa relevansinya bagi radio siaran di Indonesia? Lagi-lagi ini menunjukkan bahwa dengan dengan sedikit inovasi, maka radio siaran yang katanya ‘tradisional’ itu masih bisa bicara banyak di era serba digital ini. </p>
<p>Apa yang dilakukan jelli.net memang memerlukan keahlian teknis dan pastinya investasi yang tidak kecil. Tapi paling tidak ide dasar tentang <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Crowdsourcing" target="_blank">crowdsourcing</a></em> atau kolaborasi massa yang banyak diadaptasi dalam teknologi web 2.0 bisa dimanfaatkan di dunia radio. Kenapa tidak, misalnya, menciptakan acara dimana kita melibatkan pendengar untuk ikut memilih playlist lagu yang akan diputar. Mereka bisa voting melalui sms atau internet dan nyaris bisa dipastikan, lagu yang dipilih itu adalah yang benar-benar ingin didengarkan oleh mayoritas pendengar kita. </p>
<blockquote><p><em>+ Lho tapi kan cara itu sudah lama dipakai untuk acara-acara seperti tangga lagu di radio kita?</em></p>
<p><em>- Yakin itu murni pilihan pendengar? Tidak ada campur tangan produser rekaman atau subyektifitas radio yang bersangkutan? Kalau yakin, syukur deh..<br />
</em></p></blockquote>
<p>Lagi-lagi, selamat berkreasi, kawan! Banyak yang bisa kita lakukan untuk memanfaatkan teknologi di internet saat ini untuk kepentingan stasiun radio kita. Banyak dan nyaris tak terbatas.. !</p>
<img src="http://suarane.org/?ak_action=api_record_view&id=264&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=264</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Pause and Tag it&#8221;: Mendengar Radio Cara Baru</title>
		<link>http://suarane.org/?p=253</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=253#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 10:07:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[GapTek]]></category>
		<category><![CDATA[fm radio]]></category>
		<category><![CDATA[ipod nano]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[Setelah dibuat kecele dengan iPhone baru yang katanya akan ada tambahan fungsi radio, Apple akhirnya justru memasukkan fungsi penerima radio FM terrestrial dalam iPod mereka, tepatnya dalam iPod Nano Generasi Ketiga. Tapi mereka bukan asal memasukkan penerima radio FM semata. Mereka menciptakan 2 inovasi baru yang mungkin bisa masuk dalam rangkaian tonggak sejarah radio FM [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah dibuat kecele dengan iPhone baru yang katanya akan ada tambahan fungsi radio, Apple akhirnya justru memasukkan fungsi penerima radio FM terrestrial dalam iPod mereka, tepatnya dalam iPod Nano Generasi Ketiga. Tapi mereka bukan asal memasukkan penerima radio FM semata. Mereka menciptakan 2 inovasi baru yang mungkin bisa masuk dalam rangkaian tonggak sejarah radio FM di dunia.</p>
<p><strong>Radio Yang Bisa di Pause?</strong></p>
<p>Bayangkan anda sedang asik mendengar acara kesayangan anda di radio, tiba-tiba anda harus melakukan sesuatu sebentar. Apa yang anda lakukan? Gampang saja:  tekan tombol “pause” dan nanti saat anda selesai, tinggal tekan “play” dan lanjutkan.</p>
<p>Tidak, saya tidak salah. Lewat iPod Nano Generasi 3 ini, Apple melakukan terobosan bersejarah dengan menciptakan teknologi alat penerima radio yang bisa di pause bahkan bisa di rewind. Saya sebut bersejarah karena dalam teori manapun, radio siaran itu adalah media sekali dengar karena sifatnya yang live. Siapa menyangka bahwa media ini bisa di pause dan rewind seperti halnya kaset atau CD?</p>
<p>Oke, ini bukan teknologi baru sebenarnya. Ini kan sama saja dengan merekam siaran radio itu untuk kemudian mendengarkannya di lain waktu. Tapi Apple mengemasnya dengan cara yang unik. Itulah kelebihan mereka! Kreatif!</p>
<p><strong>Suka Lagu Yang Anda Dengar? Tandai Saja!</strong></p>
<p>Pernahkan anda mendengarkan sebuah lagu di radio dan tertarik untuk membeli lagu itu di iTunes? Masalahnya, karena radio itu media sekali dengar, bisa saja anda lupa judul lagu itu. Lantas bagaimana? Gampang! Mumpung lagu itu masih mengalun di radio, buru-buru tandai saja. Jadi nanti saat anda mau membelinya di iTunes, tinggal cek lagu-lagu yang telah anda tandai tadi, lihat informasinya, dengar contoh lagunya untuk memastikan itu lagu yang benar, lalu beli kalau anda tertarik. Tapi bagaimana caranya?</p>
<p>Inilah yang disebut sebagai iTunes Tagging. Cara kerjanya adalah ketika anda sedang mendengar sebuah lagu, tinggal tekan beberapa tombol di iPod anda lalu TAG. Hasilnya, ketika anda mensinkronkan iPod anda ke iTunes, data dari tag tadi akan muncul, lengkap dengan informasi lagu yang tadi anda dengar itu dan bisa anda beli di iTunes.</p>
<p>Memang tentu saja agar teknologi ini bisa berjalan, stasiun radio yang bersangkutan harus dilengkapi dengan kemampuan untuk iTunes Tagging ini, dan saat ini belum semua radio memiliki teknologi itu. Tapi bayangkan berapa dahsyatnya jika memang teknologi ini bisa memasyarakat. Radio bisa menjadi “showcase” atau tempat pameran yang efektif untuk para produser lagu karena setelah mendengarkannya dan tertarik, pendengar bisa langsung membelinya. Dahsyat!</p>
<p>Lagi-lagi ini bukan barang baru. Dengan teknologi radio digital, hal ini sudah bukan masalah lagi. Malah anda langsung bisa melihat siapa penyanyinya, nama lagunya bahkan foto penyanyinya. Tapi ini bukan radio digital. Ini radio terrestrial biasa, seperti umum didengarkan saat ini. Bagaimana cara kerjanya? Tanya saja sama Steve Jobs hehe</p>
<p>Pelajaran berharga apa dari inovasi Apple ini buat kita orang radio? Sederhana saja menurut saya: Kreativitas! Produsen alat pemutar MP3 yang diramalkan akan menjadi pembunuh utama radio, justru masih percaya pada kekuatan radio sendiri. Justru merekalah yang mengajari kita bahwa dengan kreativitas, radio justru masih bisa berkembang di era serba canggih ini. Dan yang saya maksud di sini adalah radio siaran terrestrial. Bukan radio digital ya!</p>
<p><em>* Disclaimer: penulis tidak memiliki afiliasi apapun dengan Apple Corp.</em></p>
<p><strong>Tautan Terkait:</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.apple.com/ipodnano/features/fm-radio.html" target="_blank">Don’t just listen to the radio. Pause it and tag it too!”</a> &#8211; apple.com</li>
<li><a href="http://www.youtube.com/watch?v=6EwILNVVkQE" target="_blank">Video tentang fungsi radio FM di iPod Nano</a> &#8211; youtube.com</li>
<li><a href="http://suarane.org/?p=214" target="_blank">Rumor tentang penerima dan pemancar FM di iPhone generasi baru yang tidak terbukti</a> &#8211; suarane.org</li>
<li><a href="http://www.hear2.com/2009/09/what-the-fm-radiopowered-ipod-nano-means-to-you.html" target="_blank">Apa arti iPod Nano plus radio FM bagi anda?</a> &#8211; hear2.com</li>
</ul>
<img src="http://suarane.org/?ak_action=api_record_view&id=253&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=253</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>iPhone Baru Tanpa Radio FM?</title>
		<link>http://suarane.org/?p=250</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=250#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 15:41:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[GapTek]]></category>
		<category><![CDATA[fm radio]]></category>
		<category><![CDATA[new iPhone]]></category>
		<category><![CDATA[pandora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya rumor itu terjawab juga! iPhone keluaran terbaru [1] ternyata TIDAK dilengkapi dengan fungsi receiver dan transmitter radio FM. Padahal sempat beredar rumor kuat bahwa iPhone terbaru menggunakan chip yang dilengkapi dengan kemampuan menerima dan memancarkan sinyal FM. Penonton kecewa? Ya masing-masing akan punya reaksi berbeda. Ada dua artikel menarik yang saya temukan di internet, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya rumor itu terjawab juga! iPhone keluaran terbaru [1] ternyata TIDAK   dilengkapi dengan fungsi receiver dan transmitter radio FM. Padahal sempat beredar rumor kuat bahwa iPhone terbaru menggunakan chip yang dilengkapi dengan kemampuan menerima dan memancarkan sinyal FM. Penonton kecewa? Ya masing-masing akan punya reaksi berbeda. </p>
<p>Ada dua artikel menarik yang saya temukan di internet, yang mencoba menjelaskan alasan mengapa iphone tidak perlu dilengkapi dengan penerima FM.</p>
<p>Pertama, <em>Mark Ramsey</em>, seorang konsultan radio di Amerika memberikan sejumlah alasan [2]. Tapi diantaranya yang paling menarik adalah karena menurutnya &#8220;menginginkan&#8221; dan &#8220;membutuhkan&#8221; adalah dua hal berbeda. Banyak yang memang ingin agar iPhone dilengkapi dengan penerima FM, tapi menurut Mark, belum tentu semua membutuhkannya. Apalagi seiring dengan makin maraknya layanan streaming di iPhone, dan ketersediaan radio di rumah, mobil dan lain sebagainya. </p>
<p>Kedua, ada alasan lain yang tidak kalah menarik, yang disampaikan oleh <em>Jerry Del Colliano</em> di blognya[3]. Menurutnya, yang menginginkan adanya radio FM di iPhone adalah industri radio dan bukannya konsumen. Masalahnya, para bos radio itu tidak paham soal teknologi saat ini. iPhone bukanlah radio. Budaya mendengar radio melalui ponsel tidak ada, dan menurut Jerry alasannya adalah karena ponsel saat ini adalah alat yang bersifat interaktif, bukan pasif, dan saat ini adalah eranya <em>on demand</em>. <em>Good point, Jerry!</em></p>
<p>Lantas apa artinya ini bagi dunia radio? Sebagai orang radio mungkin jawaban saya akan sangat subyektif. Namun saya tidak mau buru-buru bilang bahwa lagi-lagi ini adalah bukti bahwa radio sudah diambang kematian! Memang kenyataannya zaman sudah berubah. Cara orang berkomunikasi juga sudah berubah total seiring dengan semakin berkembangnya teknologi media baru. Tapi ini buat saya hanyalah masalah kemauan dari orang radio sendiri untuk beradaptasi, ketimbang asik larut dalam &#8220;romantisme sejarah masa lalu&#8221; mengenai kehebatan radio. </p>
<p>Buat saya, aset radio bukan melulu pada teknologinya. Radio adalah mengenai suara, mengenai audio. Dari situlah sudut pandang kita orang radio harus bermula. Kalau mau lihat dari teknologinya, wah, ketinggalan terus dong, bos..!</p>
<p>Satu contoh menarik adalah komentar singkat dari <em>Tim Westergren</em>, pendiri Pandora[4] yang merupakan layanan penyedia lagu via internet, yang mungkin bisa memicu semangat anda, orang radio.</p>
<p>Dalam sebuah konferensi, Tim ditanyai soal layanan pandora miliknya itu disebut apa? Radio online, streaming radio, internet radio atau apa? Ini pertanyaan menarik karena beda dengan layanan streaming audio lain di internet, Pandora ini luar biasa menariknya karena bisa membaca selera lagu kita cukup dengan memasukkan apa lagu favorit kita dan otomatis dia akan membantu melacak lagu-lagu lain yang mirip. Jadi Pandora itu apa?</p>
<p>&#8220;Just call it Radio!&#8221; kata Tim. [5]</p>
<p>Apa artinya? Ya kalau tidak paham juga, wajarlah kalau ada yang bilang radio sudah diambang kematian!</p>
<p>***</p>
<p><strong>Tautan Terkait:</strong></p>
<p>[1] <a href="http://suarane.org/?p=214" target="_blank" />Siaran iPod di Radio FM anda</a> &#8211; Artikel lama yang mengulas rencana iPhone memasang penerima dan pemancar radio FM di ponsel baru mereka.</p>
<p>[2] <a href="http://www.hear2.com/2009/06/wheres-the-fm-radio-in-my-new-iphone.html" target="_blank" />Where&#8217;s the FM radio in my new iPhone?</a> &#8211; Komentar Mark Ramsey soal kenapa iPhone tidak memasang radio FM di produk ponsel barunya.</p>
<p>[3]  <a href="http://insidemusicmedia.blogspot.com/2009/06/new-iphone-no-fm.html" target="_blank" />New iPhone &#8211; No FM</a> &#8211; iPhone bukan radio, tulis Jerry Del Colliano di blognya.</p>
<p>[4] <a href="http://www.pandora.com" target="_blank" />Pandora.com</a> &#8211; Sebuah layanan yang mengklaim telah berhasil memetakan &#8216;gen&#8217; musik dunia. Sayang layanan ini cuma untuk di Amerika.</p>
<p>[5] <a href="http://www.hear2.com/2009/06/just-call-it-radio-pandora-says.html" target="_blank" />Just call it radio!</a> &#8211; Kata pendiri Pandora Tim Westergren seperti diceritakan oleh Mark Ramsey.</p>
<img src="http://suarane.org/?ak_action=api_record_view&id=250&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=250</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
