<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://suarane.org/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suarane.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Oct 2009 00:27:40 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<!-- podcast_generator="podPress/8.8" -->
		<copyright>&#xA9; </copyright>
		<managingEditor>rane@hafied.org ()</managingEditor>
		<webMaster>rane@hafied.org()</webMaster>
		<category></category>
		<ttl>1440</ttl>
		<itunes:keywords></itunes:keywords>
		<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
		<itunes:summary></itunes:summary>
		<itunes:author></itunes:author>
		<itunes:category text="Society &amp; Culture"/>
		<itunes:owner>
			<itunes:name></itunes:name>
			<itunes:email>rane@hafied.org</itunes:email>
		</itunes:owner>
		<itunes:block>No</itunes:block>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:image href="http://suarane.org/wp-content/uploads/2007/08/suarane_sm.jpg" />
		<image>
			<url>http://suarane.org/wp-content/uploads/2007/08/suarane_sm.jpg</url>
			<title></title>
			<link>http://suarane.org</link>
			<width>144</width>
			<height>144</height>
		</image>
		<item>
		<title>Demokrasi Radio ala Jelli</title>
		<link>http://suarane.org/?p=264</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=264#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 00:25:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[GapTek]]></category>
		<category><![CDATA[Kabar Kabari]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[Satu lagi sejarah baru di dunia radio siaran tercipta. Bayangkan sebuah radio dimana anda para pendengar bisa menentukan daftar lagu yang akan diputar di radio. Lebih dari itu pendengar bisa langsung menghentikan sebuah lagu yang tidak mereka sukai, bahkan ketika lagu itu belum selesai mengudara. 
Inovasi baru ini diperkenalkan oleh orang-orang di belakang jelli.net yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Satu lagi sejarah baru di dunia radio siaran tercipta. Bayangkan sebuah radio dimana anda para pendengar bisa menentukan daftar lagu yang akan diputar di radio. Lebih dari itu pendengar bisa langsung menghentikan sebuah lagu yang tidak mereka sukai, bahkan ketika lagu itu belum selesai mengudara. </p>
<p>Inovasi baru ini diperkenalkan oleh orang-orang di belakang <a href="http://www.jelli.net" target="_blank"><strong>jelli.net</strong></a> yang mengklaim sebagai radio siaran yang 100 persen dikendalikan oleh komunitas pendengar secara real time. “<em>Radio Democracy</em>,” istilah mereka.</p>
<p>Awalnya jelli.net ini hanya berbentuk radio streaming di internet dimana para pendengarnya bisa menentukan urutan lagu yang akan diputar. Namun dalam perkembangannya, mereka kemudian juga merambah ke radio fm, melalui sebuah stasiun rock alternatif di San Fransisco. Di stasiun radio itu setiap jam 10 malam hingga 12 malam, para pendengar bisa ikut menentukan lagu-lagu yang mereka sukai lewat situs jelli.net dan pilihan terbanyak akan mengudara. Kalau ada lagu yang tidak disukai banyak orang, mereka bahkan bisa menghentikannya saat itu juga atau istilahnya di bom! </p>
<p>Menurut siaran pers dari jelli.net, lewat inovasi baru ini mereka menciptakan sebuah jembatan antara radio siaran digital dan tradisional, sehingga menghadirkan sebuah pengalaman baru dalam mendengarkan radio. </p>
<p>Apa relevansinya bagi radio siaran di Indonesia? Lagi-lagi ini menunjukkan bahwa dengan dengan sedikit inovasi, maka radio siaran yang katanya ‘tradisional’ itu masih bisa bicara banyak di era serba digital ini. </p>
<p>Apa yang dilakukan jelli.net memang memerlukan keahlian teknis dan pastinya investasi yang tidak kecil. Tapi paling tidak ide dasar tentang <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Crowdsourcing" target="_blank">crowdsourcing</a></em> atau kolaborasi massa yang banyak diadaptasi dalam teknologi web 2.0 bisa dimanfaatkan di dunia radio. Kenapa tidak, misalnya, menciptakan acara dimana kita melibatkan pendengar untuk ikut memilih playlist lagu yang akan diputar. Mereka bisa voting melalui sms atau internet dan nyaris bisa dipastikan, lagu yang dipilih itu adalah yang benar-benar ingin didengarkan oleh mayoritas pendengar kita. </p>
<blockquote><p><em>+ Lho tapi kan cara itu sudah lama dipakai untuk acara-acara seperti tangga lagu di radio kita?</em></p>
<p><em>- Yakin itu murni pilihan pendengar? Tidak ada campur tangan produser rekaman atau subyektifitas radio yang bersangkutan? Kalau yakin, syukur deh..<br />
</em></p></blockquote>
<p>Lagi-lagi, selamat berkreasi, kawan! Banyak yang bisa kita lakukan untuk memanfaatkan teknologi di internet saat ini untuk kepentingan stasiun radio kita. Banyak dan nyaris tak terbatas.. !</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=264</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Pause and Tag it&#8221;: Mendengar Radio Cara Baru</title>
		<link>http://suarane.org/?p=253</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=253#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 10:07:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[GapTek]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[fm radio]]></category>
		<category><![CDATA[ipod nano]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[Setelah dibuat kecele dengan iPhone baru yang katanya akan ada tambahan fungsi radio, Apple akhirnya justru memasukkan fungsi penerima radio FM terrestrial dalam iPod mereka, tepatnya dalam iPod Nano Generasi Ketiga. Tapi mereka bukan asal memasukkan penerima radio FM semata. Mereka menciptakan 2 inovasi baru yang mungkin bisa masuk dalam rangkaian tonggak sejarah radio FM [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah dibuat kecele dengan iPhone baru yang katanya akan ada tambahan fungsi radio, Apple akhirnya justru memasukkan fungsi penerima radio FM terrestrial dalam iPod mereka, tepatnya dalam iPod Nano Generasi Ketiga. Tapi mereka bukan asal memasukkan penerima radio FM semata. Mereka menciptakan 2 inovasi baru yang mungkin bisa masuk dalam rangkaian tonggak sejarah radio FM di dunia.</p>
<p><strong>Radio Yang Bisa di Pause?</strong></p>
<p>Bayangkan anda sedang asik mendengar acara kesayangan anda di radio, tiba-tiba anda harus melakukan sesuatu sebentar. Apa yang anda lakukan? Gampang saja:  tekan tombol “pause” dan nanti saat anda selesai, tinggal tekan “play” dan lanjutkan.</p>
<p>Tidak, saya tidak salah. Lewat iPod Nano Generasi 3 ini, Apple melakukan terobosan bersejarah dengan menciptakan teknologi alat penerima radio yang bisa di pause bahkan bisa di rewind. Saya sebut bersejarah karena dalam teori manapun, radio siaran itu adalah media sekali dengar karena sifatnya yang live. Siapa menyangka bahwa media ini bisa di pause dan rewind seperti halnya kaset atau CD?</p>
<p>Oke, ini bukan teknologi baru sebenarnya. Ini kan sama saja dengan merekam siaran radio itu untuk kemudian mendengarkannya di lain waktu. Tapi Apple mengemasnya dengan cara yang unik. Itulah kelebihan mereka! Kreatif!</p>
<p><strong>Suka Lagu Yang Anda Dengar? Tandai Saja!</strong></p>
<p>Pernahkan anda mendengarkan sebuah lagu di radio dan tertarik untuk membeli lagu itu di iTunes? Masalahnya, karena radio itu media sekali dengar, bisa saja anda lupa judul lagu itu. Lantas bagaimana? Gampang! Mumpung lagu itu masih mengalun di radio, buru-buru tandai saja. Jadi nanti saat anda mau membelinya di iTunes, tinggal cek lagu-lagu yang telah anda tandai tadi, lihat informasinya, dengar contoh lagunya untuk memastikan itu lagu yang benar, lalu beli kalau anda tertarik. Tapi bagaimana caranya?</p>
<p>Inilah yang disebut sebagai iTunes Tagging. Cara kerjanya adalah ketika anda sedang mendengar sebuah lagu, tinggal tekan beberapa tombol di iPod anda lalu TAG. Hasilnya, ketika anda mensinkronkan iPod anda ke iTunes, data dari tag tadi akan muncul, lengkap dengan informasi lagu yang tadi anda dengar itu dan bisa anda beli di iTunes.</p>
<p>Memang tentu saja agar teknologi ini bisa berjalan, stasiun radio yang bersangkutan harus dilengkapi dengan kemampuan untuk iTunes Tagging ini, dan saat ini belum semua radio memiliki teknologi itu. Tapi bayangkan berapa dahsyatnya jika memang teknologi ini bisa memasyarakat. Radio bisa menjadi “showcase” atau tempat pameran yang efektif untuk para produser lagu karena setelah mendengarkannya dan tertarik, pendengar bisa langsung membelinya. Dahsyat!</p>
<p>Lagi-lagi ini bukan barang baru. Dengan teknologi radio digital, hal ini sudah bukan masalah lagi. Malah anda langsung bisa melihat siapa penyanyinya, nama lagunya bahkan foto penyanyinya. Tapi ini bukan radio digital. Ini radio terrestrial biasa, seperti umum didengarkan saat ini. Bagaimana cara kerjanya? Tanya saja sama Steve Jobs hehe</p>
<p>Pelajaran berharga apa dari inovasi Apple ini buat kita orang radio? Sederhana saja menurut saya: Kreativitas! Produsen alat pemutar MP3 yang diramalkan akan menjadi pembunuh utama radio, justru masih percaya pada kekuatan radio sendiri. Justru merekalah yang mengajari kita bahwa dengan kreativitas, radio justru masih bisa berkembang di era serba canggih ini. Dan yang saya maksud di sini adalah radio siaran terrestrial. Bukan radio digital ya!</p>
<p><em>* Disclaimer: penulis tidak memiliki afiliasi apapun dengan Apple Corp.</em></p>
<p><strong>Tautan Terkait:</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://www.apple.com/ipodnano/features/fm-radio.html" target="_blank">Don’t just listen to the radio. Pause it and tag it too!”</a> &#8211; apple.com</li>
<li><a href="http://www.youtube.com/watch?v=6EwILNVVkQE" target="_blank">Video tentang fungsi radio FM di iPod Nano</a> &#8211; youtube.com</li>
<li><a href="http://suarane.org/?p=214" target="_blank">Rumor tentang penerima dan pemancar FM di iPhone generasi baru yang tidak terbukti</a> &#8211; suarane.org</li>
<li><a href="http://www.hear2.com/2009/09/what-the-fm-radiopowered-ipod-nano-means-to-you.html" target="_blank">Apa arti iPod Nano plus radio FM bagi anda?</a> &#8211; hear2.com</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=253</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>iPhone Baru Tanpa Radio FM?</title>
		<link>http://suarane.org/?p=250</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=250#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 15:41:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[GapTek]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[fm radio]]></category>
		<category><![CDATA[new iPhone]]></category>
		<category><![CDATA[pandora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya rumor itu terjawab juga! iPhone keluaran terbaru [1] ternyata TIDAK   dilengkapi dengan fungsi receiver dan transmitter radio FM. Padahal sempat beredar rumor kuat bahwa iPhone terbaru menggunakan chip yang dilengkapi dengan kemampuan menerima dan memancarkan sinyal FM. Penonton kecewa? Ya masing-masing akan punya reaksi berbeda. 
Ada dua artikel menarik yang saya temukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya rumor itu terjawab juga! iPhone keluaran terbaru [1] ternyata TIDAK   dilengkapi dengan fungsi receiver dan transmitter radio FM. Padahal sempat beredar rumor kuat bahwa iPhone terbaru menggunakan chip yang dilengkapi dengan kemampuan menerima dan memancarkan sinyal FM. Penonton kecewa? Ya masing-masing akan punya reaksi berbeda. </p>
<p>Ada dua artikel menarik yang saya temukan di internet, yang mencoba menjelaskan alasan mengapa iphone tidak perlu dilengkapi dengan penerima FM.</p>
<p>Pertama, <em>Mark Ramsey</em>, seorang konsultan radio di Amerika memberikan sejumlah alasan [2]. Tapi diantaranya yang paling menarik adalah karena menurutnya &#8220;menginginkan&#8221; dan &#8220;membutuhkan&#8221; adalah dua hal berbeda. Banyak yang memang ingin agar iPhone dilengkapi dengan penerima FM, tapi menurut Mark, belum tentu semua membutuhkannya. Apalagi seiring dengan makin maraknya layanan streaming di iPhone, dan ketersediaan radio di rumah, mobil dan lain sebagainya. </p>
<p>Kedua, ada alasan lain yang tidak kalah menarik, yang disampaikan oleh <em>Jerry Del Colliano</em> di blognya[3]. Menurutnya, yang menginginkan adanya radio FM di iPhone adalah industri radio dan bukannya konsumen. Masalahnya, para bos radio itu tidak paham soal teknologi saat ini. iPhone bukanlah radio. Budaya mendengar radio melalui ponsel tidak ada, dan menurut Jerry alasannya adalah karena ponsel saat ini adalah alat yang bersifat interaktif, bukan pasif, dan saat ini adalah eranya <em>on demand</em>. <em>Good point, Jerry!</em></p>
<p>Lantas apa artinya ini bagi dunia radio? Sebagai orang radio mungkin jawaban saya akan sangat subyektif. Namun saya tidak mau buru-buru bilang bahwa lagi-lagi ini adalah bukti bahwa radio sudah diambang kematian! Memang kenyataannya zaman sudah berubah. Cara orang berkomunikasi juga sudah berubah total seiring dengan semakin berkembangnya teknologi media baru. Tapi ini buat saya hanyalah masalah kemauan dari orang radio sendiri untuk beradaptasi, ketimbang asik larut dalam &#8220;romantisme sejarah masa lalu&#8221; mengenai kehebatan radio. </p>
<p>Buat saya, aset radio bukan melulu pada teknologinya. Radio adalah mengenai suara, mengenai audio. Dari situlah sudut pandang kita orang radio harus bermula. Kalau mau lihat dari teknologinya, wah, ketinggalan terus dong, bos..!</p>
<p>Satu contoh menarik adalah komentar singkat dari <em>Tim Westergren</em>, pendiri Pandora[4] yang merupakan layanan penyedia lagu via internet, yang mungkin bisa memicu semangat anda, orang radio.</p>
<p>Dalam sebuah konferensi, Tim ditanyai soal layanan pandora miliknya itu disebut apa? Radio online, streaming radio, internet radio atau apa? Ini pertanyaan menarik karena beda dengan layanan streaming audio lain di internet, Pandora ini luar biasa menariknya karena bisa membaca selera lagu kita cukup dengan memasukkan apa lagu favorit kita dan otomatis dia akan membantu melacak lagu-lagu lain yang mirip. Jadi Pandora itu apa?</p>
<p>&#8220;Just call it Radio!&#8221; kata Tim. [5]</p>
<p>Apa artinya? Ya kalau tidak paham juga, wajarlah kalau ada yang bilang radio sudah diambang kematian!</p>
<p>***</p>
<p><strong>Tautan Terkait:</strong></p>
<p>[1] <a href="http://suarane.org/?p=214" target="_blank" />Siaran iPod di Radio FM anda</a> &#8211; Artikel lama yang mengulas rencana iPhone memasang penerima dan pemancar radio FM di ponsel baru mereka.</p>
<p>[2] <a href="http://www.hear2.com/2009/06/wheres-the-fm-radio-in-my-new-iphone.html" target="_blank" />Where&#8217;s the FM radio in my new iPhone?</a> &#8211; Komentar Mark Ramsey soal kenapa iPhone tidak memasang radio FM di produk ponsel barunya.</p>
<p>[3]  <a href="http://insidemusicmedia.blogspot.com/2009/06/new-iphone-no-fm.html" target="_blank" />New iPhone &#8211; No FM</a> &#8211; iPhone bukan radio, tulis Jerry Del Colliano di blognya.</p>
<p>[4] <a href="http://www.pandora.com" target="_blank" />Pandora.com</a> &#8211; Sebuah layanan yang mengklaim telah berhasil memetakan &#8216;gen&#8217; musik dunia. Sayang layanan ini cuma untuk di Amerika.</p>
<p>[5] <a href="http://www.hear2.com/2009/06/just-call-it-radio-pandora-says.html" target="_blank" />Just call it radio!</a> &#8211; Kata pendiri Pandora Tim Westergren seperti diceritakan oleh Mark Ramsey.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=250</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencari Alat Rekam Digital (1 dari 2)</title>
		<link>http://suarane.org/?p=242</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=242#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2009 15:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[GapTek]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[Saya banyak terima pertanyaan soal alat rekam digital (digital voice recorder) seperti apa yang bagus buat keperluan lapangan bagi orang radio. Ini pertanyaan yang tidak mudah dijawab karena ada banyak sekali alat rekam digital yang beredar di pasaran dengan segala kecanggihannya. Kali ini saya akan coba mengulas hal-hal dasar sajaj tentang memilih alat rekam digital [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya banyak terima pertanyaan soal alat rekam digital (digital voice recorder) seperti apa yang bagus buat keperluan lapangan bagi orang radio. Ini pertanyaan yang tidak mudah dijawab karena ada banyak sekali alat rekam digital yang beredar di pasaran dengan segala kecanggihannya. Kali ini saya akan coba mengulas hal-hal dasar sajaj tentang memilih alat rekam digital dan nanti bagian terpisah akan saya ulas beberapa alat rekam digital yang pernah saya gunakan.</p>
<p><strong><em>Disclaimer: </em></strong><em>Ulasan ini murni berangkat dari pengalaman menggunakan beberapa jenis alat rekam dan sangat subyektif. Namun mudah-mudahan saja ada gunanya <img src='http://suarane.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Tentu akan lebih berguna lagi kalau ditambahkan masukan dari pengalaman yang lain, biar lebih kaya pemahaman kita tentang alat rekam digital ini (RH)</em></p>
<p>Jadi apa sih yang dicari dari sebuah alat rekam digital? Pada dasarnya semua alat rekam digital yang tersedia di pasaran sudah lumayan canggih, asal tahu cara pakainya saja. Masalahnya, tidak semua alat perekam digital diperuntukkan untuk keperluan siaran. Banyak alat-alat rekam digital yang fungsinya sekedar untuk keperluan merekam suara perkuliahan atau rapat atau sekedar sebagai pengingat/ reminder. Biasanya yang seperti ini kualitas suaranya kurang bagus, meskipun tersedia macam-macam alat rekam yang unik-unik dengan ukuran kecil, bahkan ada yang berbentuk pulpen atau jadi satu dengan kamera digital. Banyak juga tipe ponsel yang punya kemampuan merekam secara digital. Tapi memang rata-rata kualitasnya kurang bagus apalagi untuk kepentingan radio.</p>
<p>Nah, untuk mempermudah mengulas sebuah alat rekam digital, saya akan coba ambil satu contoh spesifikasi alat rekam digital yang ada di pasaran dan kita kupas satu persatu plus beberapa tambahan lain. Saya memilih contoh spesifikasi alat rekam digital dari merek <em>Tascam DR-O7</em> seperti berikut ini:</p>
<ul>
<li><em>Writes WAV files at 44.1 or 48kHz, 16 or 24-bit</em></li>
<li><em>MP3 File Recording from 32kbps to 320 kbps</em></li>
<li><em>Built-in Stereo Condenser Microphone</em></li>
<li><em>3.5mm Stereo Mic Input</em></li>
<li><em>3.5mm Stereo Line Input and Output</em></li>
<li><em>USB 2.0 Jack</em></li>
<li><em>Records to SD or SD-HC Card Media</em></li>
<li><em>2GB SD Card Included</em></li>
<li><em>Switchable Low Cut Filter, Analog Limiter and Auto Gain Setting on Input</em></li>
<li><em>Variable-Speed Audition Function Slows Down Music Without Changing the Pitch</em></li>
<li><em>Voice activated recording</em></li>
<li><em>Powered by Two AA Batteries (included) or Optional PS-P520 Power Adapter</em></li>
<li><em>Dimensions: 2.2&#8243; W x 5.3&#8243; H x 1.1&#8243; H</em></li>
<li><em>Weight: 4.4 oz (with batteries)</em></li>
</ul>
<p>Nah, mari kita bahas spesifikasi itu satu-satu, saya coba bagi dalam beberapa kelompok sebagai berikut:</p>
<p><strong>FILE AUDIO</strong><br />
Ada alat rekam digital yang punya kemampuan menyimpan dalam berbagai format file.  Tapi yang paling &#8220;aman&#8221; adalah memastikan bahwa alat rekam digital yang anda pilih itu bisa menyimpan dalam format mp3 dan wav. Mengapa saya sebut aman? Alasannya sederhana saja. Kebanyakan perangkat lunak untuk mengedit file suara bisa meladeni format mp3 dan wav.</p>
<p>Bagian lain yang juga penting adalah sampling rate, bit depth dan bitrate karena ini terkait dengan masalah kualitas audio.</p>
<p>Mengambil spesifikasi yang saya jadikan contoh di atas:</p>
<ul>
<li><em>&#8220;Writes WAV files at 44.1 or 48kHz, 16 or 24-bit&#8221;</em></li>
</ul>
<p>Ini berarti alat tersebut bisa merekam pada pilihan sampling rate 44.1 kHz dan 48kHz. Ini sampling rate standar sekualitas CD. Di bawah itu, maka kualitas suaranya akan rendah. Jadi pastikan paling tidak sampling rate nya ada di angka itu kalau mau kualitas yang bagus. Faktor lain adalah bit-depth. Bit depth standar untuk file audio adalah 16 bit. Sebagai perbandingan, 8 bit menghasilkan suara dengan kualitas telepon. Di atas 16 bit adalah 24 dan 32.</p>
<ul>
<li><em>&#8220;MP3 File Recording from 32kbps to 320 kbps&#8221;</em></li>
</ul>
<p>File MP3 biasanya juga dilihat berdasarkan bit rate nya. Jadi spesifikasi alat rekam yang saya jadikan contoh di atas bisa merekam file mp3 dengan jangkauan bitrate antara 32 hingga 320 kbps. File MP3 dengan kualitas standar adalah 128 hingga 192 kbps. Jadi pastikan bitrate nya ada di kisaran itu.</p>
<p><strong>MIKROFON</strong><br />
Setiap alat rekam digital tentu dilengkapi dengan mikrofon. Mari kita lihat contoh spesifikasi yang saya sertakan</p>
<ul>
<li><em>&#8220;Built-in Stereo Condenser Microphone&#8221;</em></li>
</ul>
<p>Ini berarti alat rekam itu menggunakan mikrofon kondenser stereo yang sangat sensitif pada suara. Ini merupakan mikrofon standar pada kebanyakan alat rekam. Ada juga yang menggunakan mikrofon dynamic yang sebenarnya lebih &#8216;bandel&#8217; untuk penggunaan luar. Tapi rasanya jarang ditemukan. Ada juga produk yang menjelaskan apakah mikrofon internal di alat rekam itu jenis <em>uni-directiona</em>l (menerima suara dari satu arah) atau <em>bi-directional</em> (dua arah) atau malah <em>omni-directional</em> (yang sensitif menerima suara dari berbagai arah). Ini tentu akan tergantung kebutuhan anda di lapangan. Untuk wawancara mungkin akan bagus menggunakan jenis uni-directional.</p>
<p><strong>SPIKER</strong><br />
Beberapa alat rekam digital dilengkapi dengan loudspeaker internal. Perlu atau tidaknya tentu tergantung preferensi masing-masing. Tapi dari pengalaman saya menggunakan beberapa produk alat rekam digital, speaker itu fungsinya tidak terlalu maksimal karena suaranya yang tidak keras. Toh kita juga bisa menggunakan headphone. Tapi lagi-lagi itu kembali kepada preferensi masing-masing.</p>
<p><strong>&#8216;COLOKAN</strong>&#8216;</p>
<ul>
<li><em>&#8220;3.5mm Stereo Mic Input&#8221;</em></li>
</ul>
<p>Selain mikrofon built in, pastikan alat rekam digital itu memiliki &#8216;colokan&#8217; atau input untuk mikrofon luar atau tidak. Kebanyakan alat rekam digital yang saya tahu menggunakan colokan 3,5mm. Ada juga yang  lebih besar lagi, bahkan ada yang memiliki dua input mikrofon. Contoh spesifikasi di atas berarti menunjukkan bahwa alat tersebut menggunakan line untuk jack mikrofon stereo ukuran 3,5mm.</p>
<ul>
<li><em>&#8220;3.5mm Stereo Line Input and Output&#8221;</em></li>
</ul>
<p>Spesifikasi di atas berarti line input dan outputnya cocok untuk jack ukuran 3.5mm. Selain input mikrofon, anda mungkin juga memerlukan line input dan output. Ini penting kalau suatu waktu kita harus merekam dari sumber audio tertentu dengan menggunakan kabel. Misalnya dalam konferensi pers yang langsung mengambil audio dari mixer di ruang kontrol. Seorang teman wartawan radio pernah bilang, line-in ini penting buat &#8216;cloning&#8217; hehehehehe Oops..  Oya, akan lebih bagus lagi kalau anda bisa mendapatkan line input digital. Ini jarang dan pastinya mahal, tapi menjanjikan kualitas suara yang cring..!</p>
<p>Bicara line output, ada juga yang menyediakan baik line output, line untuk headphone.</p>
<ul>
<li><em>&#8220;USB 2.0 Jack&#8221;</em></li>
</ul>
<p>Ini adalah colokan USB yang akan diperlukan untuk mentransfer file suara ke komputer. Pastikan pula jenis USB nya adalah versi 2.0 dan bukannya versi sebelum itu karena kemampuan transfer filenya yang lambat. Rasanya nyaris tidak ada alat yang pakai USB di bawah versi itu saat ini. Tapi tidak ada salahnya memastikan.</p>
<p>Saya pribadi jarang menggunakan fasilitas transfer via USB ini, karena lebih sering melakukan transfer file lewat alat pembaca kartu digital.</p>
<p><strong>MEDIA PENYIMPAN</strong><br />
Kebanyakan alat rekam digital menggunakan media penyimpan memory card eksternal atau juga menggunakan media penyimpan internal. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Tapi rasanya ini bukan terlalu masalah. Kalau anda mau menggunakan media penyimpan internal, ya pastikan kapasitasnya cukup besar atau sesuai dengan kebutuhan anda. Sementara kalau anda memilih alat yang memory card eksternal, pastikan jenis memory card itu adalah jenis yang umum tersedia. Jangan sampai anda kesulitan mencari cadangan memory card nantinya. Salah satu yang paling umum adalah jenis Secure Digital atau SD Card. Mari kita lihat contoh spesifikasinya:</p>
<ul>
<li><em>&#8220;Records to SD or SD-HC Card Media&#8221;</em></li>
</ul>
<p>Ini artinya alat rekam tersebut menggunakan memory card jenis SD dan SD-HC. Rata-rata alat rekam menggunakan media penyimpanan jenis SD Card dengan macam-macam kapasitas hingga mulai dari 512Mb sampai 4 Giga. Jika anda ingin menggunakan media penyimpanan di atas kapasitas 4 giga, maka bisa dipastikan bahwa itu adalah jenis SDHC atau Secure Digital High Capacity. Maka pastikan alat rekam itu kompatibel dengan kartu jenis SD-HC (Secure Digital High Capacity).</p>
<ul>
<li><em>&#8220;2GB SD Card Included&#8221;</em></li>
</ul>
<p>Ini artinya bahwa alat rekam tersebut disertai dengan kartu SD Card ukuran 2 gigabyte. Nah, pastikan berapa besar media penyimpanan yang anda dapat bersama alat rekam itu. Soalnya ada yang hanya menyertakan SD Card dengan kapasitas kecil. Salah satu alat rekam digital yang pernah saya gunakan, meski canggih tapi SD card standardnya hanya 512Mb. Berarti anda harus membeli SD card tambahan.</p>
<p>Satu hal penting terkait media penyimpan ini adalah recording time, atau berapa lama kapasitas merekamnya. Jangan mudah terpukau pada alat rekam yang menyodorkan kemampuan merekam yang sangat panjang, karena bisa jadi kualitasnya rendah. Ingat, kualitas suara yang baik, berarti filenya besar.</p>
<p>Misalnya saja, untuk file mp3 kualitas CD, maka besar filenya sekitar 1MB per menit. Maka alat dengan  kapasitas penyimpanan 1 Giga (1000 MB) bisa menyimpan sekitar 16 jam file audio.</p>
<p><strong>BATERE DAN SUMBER LISTRIK</strong></p>
<ul>
<li><em>&#8220;Powered by Two AA Batteries (included) or Optional PS-P520 Power Adapter&#8221;</em></li>
</ul>
<p>Ini artinya alat rekam itu dijalankan dengan dua buah baterai jenis AA dan juga &#8216;colokan&#8217; adapter standar (biasanya harus dibeli terpisah).   Setiap spesifikasi alat elektronik termasuk alat rekam digital tentu akan menyertakan spesifikasi batere (internal atau eksternal) yang digunakan dan apakah ia juga bisa menggunakan adaptor listrik. Tapi yang jauh lebih penting adalah pastikan berapa daya tahan batere ketika digunakan. Ada yang mampu bertahan hingga 3 hingga 6 jam atau lebih. Tapi ada juga yang lebih rendah. Biasanya ini juga akan tercantum dalam spesifikasi alat rekam digital itu.</p>
<p><strong>UKURAN DAN CASING</strong><br />
Ukuran alat rekam digital itu beragam, tapi rata-rata sekitar sebesar genggaman tangan. Ada juga memang yang ukurannya besar, bahkan ada yang ukurannya sebesar tape recorder marantz jaman dulu yang berat itu. Tapi yang umum sekarang adalah yang berukuran kecil/ portable.</p>
<ul>
<li><em>&#8221; Dimensions: 2.2&#8243; W x 5.3&#8243; H x 1.1&#8243; H &#8220;</em></li>
</ul>
<p>Ini artinya, ukuran alat rekam digital tersebut adalah 2,2 x 5,3 x 1,1 inchi. (5,58&#215;13,46&#215;2,79cm)</p>
<ul>
<li><em>&#8221; Weight: 4.4 oz (with batteries) &#8220;</em></li>
</ul>
<p>Ini artinya, berat alat tersebut adalah 4,4 oz atau sekitar 127 gram dengan baterei terpasang.</p>
<p>Satu faktor lain yang harus diperhatikan adalah casing alat rekam tersebut. Ini penting karena seringkali casing yang kualitasnya tidak baik malah menyebabkan gangguan bunyi saat merekam. Bunyi-bunyi itu bisa disebabkan saat menekan tombol waktu merekam atau gesekan tangan pada alat. Lebih bagus lagi kalau alat itu bisa anda coba. Cobalah merekam sambil menekan beberapa tombol atau menggeserkan tangan pada alat itu dan dengar hasilnya lewat headphone. Ada juga yang menggunakan casing dari bahan besi atau malah dilapisi karet. Yang ini tentu lebih baik.</p>
<p><strong>LAIN-LAIN</strong><br />
Fungsi yang saya paparkan di atas rasanya sudah cukup mewakili alat rekam standar yang ada saat ini. Tapi ada juga alat rekam digital yang memiliki fungsi-fungsi lain. Misalnya ada yang sudah dilengkapi dengan limiter, gain setting, multi track recording, voice activated recording dan lain sebagainya. Ini adalah fungsi-fungsi tambahan berbeda antara masing-masing alat dan akan dibahas nanti saat saya mereview beberapa alat rekam digital yang pernah saya gunakan.</p>
<p>Jadi, selamat mencari alat rekam digital. Jangan lupa, kalau ada masukan lain dari pengalaman anda sendiri, mari berbagi dengan meninggalkan komentar di bawah ini.</p>
<p>Dalam tulisan berikutnya saya akan ulas beberapa alat rekam digital yang kebetulan pernah saya gunakan.</p>
<p>Tokyo, 29 April 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=242</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mempersiapkan Tranformasi ke Era Digital</title>
		<link>http://suarane.org/?p=234</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=234#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 15:45:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[RadioNet]]></category>
		<category><![CDATA[Terbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[Mark Ramsey, seorang konsultan radio di Amerika dalam salah satu posting di blognya memasang sebuah presentasi menarik tentang masa depan radio di era digital yang diberi judul 9 Rahasia Untuk Bertransformasi Secara Digital.
Menurut saya ini presentasi yang menarik sekali karena merangkum sejumlah tips penting buat orang radio yang ingin memahami dan mengikuti perkembangan yang terjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mark Ramsey, seorang konsultan radio di Amerika dalam salah satu posting di blognya memasang sebuah presentasi menarik tentang masa depan radio di era digital yang diberi judul 9 Rahasia Untuk Bertransformasi Secara Digital.</p>
<p>Menurut saya ini presentasi yang menarik sekali karena merangkum sejumlah tips penting buat orang radio yang ingin memahami dan mengikuti perkembangan yang terjadi saat ini di kalangan audiens. Silahkan lihat videonya di website <a href="http://www.hear2.com/2009/04/9-secrets-to-radios-digital-transformation.html">hear2.com</a> miliknya atau klik saja video yang saya pasang di akhir artikel ini.</p>
<p>Beberapa poin penting dari presentasi itu yang sangat menarik perhatian saya adalah:</p>
<ul>
<li>Audiens kita sudah berubah. Mereka kini hidup di era dimana pilihan media luar biasa banyaknya dan perhatian mereka jadi mudah teralih. Saat seorang pendengar mematikan radio di mobilnya, misalnya karena sudah sampai di kantor, bisa jadi itulah saat terakhir ia mendengarkan radio kita, karena pilihan semakin banyak dan dengan mudah ia bisa beralih.Dengan kondisi ini, tantangan bagi kita orang radio adalah bukan membuat orang tidak lari dari kita, tapi bagaimana membuat mereka kembali pada kita.</li>
<li>Pelajari pola konsumsi media mereka dan untuk melakukan itu kita harus keluar dari radio dan masuk kembali dengan sudut pandang audiens kita.</li>
<li>Poin lain yang juga tak kalah menarik adalah kita harus menyadari bahwa bisnis kita saat ini bukan lagi sekedar bisnis radio. Ini adalah era konvergensi media. Bukan berarti radio telah mati. Justru tantangannya adalah bagaimana radio bisa menjadi bagian dari konvergensi itu.</li>
<li>Dengan kondisi seperti ini, musuh radio justru adalah rating atau peringkat atau survei atau apalah namanya. Ini karena kita cenderung menyamakan semua orang. Padahal ini adalah era dimana konsumen kita menjadi sangat individualistis.</li>
</ul>
<p>Tantangannya adalah bagaimana memenuhi kebutuhan mereka karena jelas mereka sudah enggan menjadi audiens yang pasif. Dengan makin banyaknya pilihan media, masihkah mereka mau kita atur dengan jadwal siaran? Maukah mereka menunggu jam tertentu untuk mendengarkan acara tertentu?</p>
<p>Mungkin anda akan berpikir bahwa fenomena ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat di Indonesia. Well menurut saya ini cara berpikir yang salah. Contoh saja. Siapa yang pernah menyangka bahwa banyak orang Indonesia yang saat ini tergila-gila pada facebook. Bayangkan betapa besar potensi audiens di facebook kalau kita tahu cara menarik perhatian mereka…</p>
<p>Fenomena facebook menurut saya menunjukkan bahwa kehadiran era media baru di Indonesia akan lebih cepat dari perkiraan kita dan kita harus siap mengantisipasinya.</p>
<p>Satu hal lagi, semua perubahan ini adalah tentang manusia, tentang audiens kita dan bukan tentang teknologi melainkan bagaimana teknologi itu digunakan. Melihat transformasi itu semata dari sudut pandang teknologi justru menurut saya salah besar!</p>
<p>Menarik sekali. Karena itulah saya sangat merekomendasikan anda untuk menyaksikan video berikut Mark Ramsey berikut ini:</p>
<p><object width="500" height="250" data="http://blip.tv/play/g5x0+_kvhrZi%2Em4v" type="application/x-shockwave-flash"><param name="src" value="http://blip.tv/play/g5x0+_kvhrZi%2Em4v" /><param name="allowfullscreen" value="true" /></object></p>
<p>Great presentation, Mark!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=234</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8216;Siaran&#8217; Ipod di Radio FM Anda!</title>
		<link>http://suarane.org/?p=214</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=214#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2009 17:17:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[GapTek]]></category>
		<category><![CDATA[Kabar Kabari]]></category>
		<category><![CDATA[broadcom]]></category>
		<category><![CDATA[fm radio]]></category>
		<category><![CDATA[iphone]]></category>
		<category><![CDATA[ipod]]></category>
		<category><![CDATA[ipod touch]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Tersiar rumor bahwa iphone dan ipod touch generasi terbaru yang akan diluncurkan Apple sekitar Juni atau Juli 2009 ini akan dilengkapi dengan kemampuan penerima siaran radio FM biasa. Ada dugaan bahwa Apple akhirnya akan memenuhi permintaan ramai pihak untuk menambahkan fitur penerima radio di produk pemutar mp3 mereka itu.
Orang radio mungkin akan bilang: “Ah, akhirnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tersiar rumor bahwa <em>iphone</em> dan <em>ipod touch</em> generasi terbaru yang akan diluncurkan <em>Apple</em> sekitar Juni atau Juli 2009 ini akan dilengkapi dengan kemampuan penerima siaran radio FM biasa. Ada dugaan bahwa Apple akhirnya akan memenuhi permintaan ramai pihak untuk menambahkan fitur penerima radio di produk pemutar mp3 mereka itu.</p>
<p>Orang radio mungkin akan bilang: “Ah, akhirnya ada pengakuan bahwa radio masih diperlukan di jaman ipod seperti sekarang, kan?” Buktinya Apple akhirnya ‘menyerah’ dan memasang penerima FM di ipod mereka. Sesuatu hal yang dari dulu mereka hindari kendati produk MP3 player lain seperti <em>Creative</em> sudah dari dulu melakukannya.</p>
<p>Tapi mungkin tidak sepenuhnya orang radio boleh <em>ge er</em>. Iphone dan ipod touch model baru ini kabarnya akan dipasangi chip model baru yang selain bisa menerima sinyal FM, juga akan bisa memancarkan sinyal FM! Ya, MEMANCARKAN!</p>
<p>Apa artinya? Jika ini benar maka kelak iphone dan ipod touch generasi terbaru itu akan bisa memancarkan sinyal FM dan suaranya akan bisa ditangkap dengan radio FM dengan kualitas yang <em>cring</em>! Dengan kata lain, radio FM yang kita punya itu kelak akan bersaing dengan stasiun-stasiun radio dalam artian sebenarnya.</p>
<p>Bayangkan anda menyalakan ipod, mengaktifkan FM transmitternya, mencari gelombang FM yang kosong dan mencocokkan gelombang FM di ipod/ iphone itu dengan radio FM anda. Jadilah radio anda itu ‘menyiarkan’ lagu-lagu yang pastinya lagu pilihan anda, tanpa iklan, tanpa jeda.</p>
<p>Dengan kata lain, penerima radio FM kita ini akan berubah jadi <em>speaker</em> belaka buat ipod. Tapi bayangkan dampaknya.. Sambil nongkrong bareng, kita bisa berbagi ‘siaran’ dari ipod/iphone kita dengan kawan-kawan di sekitar kita. Konsep siaran akan benar-benar menjadi sempit (narrow casting). Radio di mobil mungkin saja tidak lagi disetel untuk mendengarkan <em>morning show</em> kesayangan kita, tapi justru di setel ke gelombang FM di ipod yang memutar lagu-lagu yang moodnya sudah disesuaikan dengan suasana pagi dan suasana hati.</p>
<p>Inikah mimpi buruk orang radio yang akan jadi kenyataan?</p>
<p>Bisa dibilang begitu. Kalau kabar ini benar, maka saya pribadi menganggap ini akan menjadi tantangan terberat bagi siaran radio terrestrial. Tapi buat pencinta radio seperti saya, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh Ipod, yakni kecepatan dan pertemanan.</p>
<p>Ini karena saya tidak mendengarkan radio untuk lagu semata, melainkan juga informasi. Di bidang ini, radio tetap punya kelebihan di banding media lain yaitu kecepatan menyajikan informasi terbaru. Radio juga bisa menjadi teman setia yang fungsinya tidak bisa digantikan oleh benda mati bernama ipod karena bagaimanapun ada unsur manusia disitu.</p>
<p>Tapi itu kan kata saya yang sudah nyaris <em>bangkotan</em> dan memang dilahirkan di era radio. Tantangannya justru adalah bagaimana membuat generasi yang lahir di era ipod dan internet untuk tetap mendengarkan siaran radio kita.</p>
<p>Siapkah kita orang radio mengantisipasi itu?</p>
<p>Bagi saya pribadi mengantisipasinya hanya bisa dilakukan dengan memfokuskan diri  pada konten, konten dan konten, baru kemudian mengintegrasikannya dengan perkembangan teknologi.</p>
<p>Kalaupun ada pihak yang harus benar-benar khawatir dengan teknologi baru dari Apple ini, menurut saya itu adalah  orang-orang yang masih sibuk memubazirkan investasi waktu dan dana untuk memikirkan pengembangan radio digital atau DAB atau apapun namanya dan melupakan konten.</p>
<p>Ah tapi itu kan cuma pendapat saya yang dilahirkan di era radio AM dan FM hehehe</p>
<p><strong>Tautan terkait: </strong></p>
<ul>
<li><strong><a href="http://www.broadcom.com/collateral/pb/4329-PB00-R.pdf" target="_blank">Broadcom.com</a></strong> &#8211; Ini dia chip yang kabarnya akan dipasang di iphone dan ipod touch terbaru, yang dilengkapi dengan teknologi receiver dan transmitter FM.</li>
<li><strong><a href="http://blogs.computerworld.com/how_apple_will_kill_satellite_radio_this_summer" target="_blank">computerworld.com</a></strong> &#8211; Ulasan Mike Elgan dari Computer World tentang rumor iphone dan ipod touch model baru itu. Simak baik-baik paragraf kedua</li>
<li><strong><a href="http://www.handhelditems.com/ipod-iphone-transmitter-with-channel-display-charging-function-black-p-13048.html" target="_blank">handhelditems.com</a></strong> &#8211; Yang sudah terlanjur punya ipod touch atau iphone, anda tetap bisa mendengarkannya melalui radio FM dengan alat kecil ini.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=214</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Royalty Free Music</title>
		<link>http://suarane.org/?p=205</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=205#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Apr 2009 17:11:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[RadioNet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[Halo. Lama nggak bersuara disini. Waktu berjalan cepat, dan alhamdulillah saya sudah pindah ke radio lain, kali ini di Tokyo. Ada satu hal menarik yang saya dapat di tempat yang baru ini, yakni penghargaan tinggi kepada karya / hak cipta. Disini tidak sembarangan musik bisa digunakan untuk siaran, walaupun itu cuma jingle-jingle pendek. Cepat atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Halo. Lama nggak bersuara disini. Waktu berjalan cepat, dan alhamdulillah saya sudah pindah ke radio lain, kali ini di Tokyo. Ada satu hal menarik yang saya dapat di tempat yang baru ini, yakni penghargaan tinggi kepada karya / hak cipta. Disini tidak sembarangan musik bisa digunakan untuk siaran, walaupun itu cuma jingle-jingle pendek. Cepat atau lambat, hal seperti ini akan banyak dihadapi oleh kita orang radio.</p>
<p>Nah, terkait dengan itu, kali ini saya mau berbagi link berupa musik-musik yang masuk kategori <em>Royalty Free</em> atau bebas royalti. Bisa digunakan untuk podcast, videocast, presentasi atau kepentingan lain. Bagus juga untuk kawan-kawan di Radio Komunitas yang mencari musik-musik untuk kepentingan program atau siaran sekalian mulai belajar menghargai karya cipta orang lain, karena tidak sembarangan musik bisa digunakan. Ada dua link yang ingin saya bagi disini, tapi jangan lupa perhatikan aturan penggunaannya yang akan saya jelaskan di akhir artikel.</p>
<ol>
<li><strong><a href="http://jimmyg.us/FreeMusic/tabid/99/Default.aspx" target="_blank">Jimmy G</a>. </strong>Ini favorit saya karena saya pribadi sangat suka pada musik-musik akustik yang banyak ditemui di situs itu. Komposisi-komposisi pianonya bagus sekali dan cocok untuk musik latar. Yang menarik karena Jimmy menyertakan informasi yang cukup komprehensif dari tiap lagu, mulai dari tempo musik, jenis alat musik yang digunakan. Namun anda harus terlebih dulu mendaftar di situsnya untuk bisa mendownload musik-musik di sana.</li>
<li><strong><a href="http://incompetech.com/m/c/royalty-free/" target="_blank">incompetech.com</a></strong>. Mau lebih banyak pilihan, cobalah ke situs ini. Si pemilik situs membagi-bagi kategori musiknya berdasarkan beragam genre, mulai dari horror, silent film score, soundtrack, blues, contemporary, disco dll. Informasi di setiap lagu juga beragam, namun waspadai karena tidak semua bebas digunakan karena ada beberapa karya orang lain.</li>
</ol>
<p><strong>Catatan</strong>: Royalty free music adalah musik yang bebas royalty, tetapi belum tentu semuanya gratis. Ada yang anda harus membeli tapi setelah itu tidak terikat royalty untuk menggunakannya. Namun kedua link yang saya bagi di atas sepenuhnya gratis dan bebas royalty. Memang kita diminta menyumbang 5 dolar jika mau (optional). Kalau tidak mau juga tidak apa-apa, tapi pemilik situs itu meminta kita untuk tetap memberikan credit atau kutipan tentang sumber musik tersebut seperti yang diatur lisensi <strong><a href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0/">Creative Commons</a></strong>. Kalau mau digunakan untuk kepentingan komersil misalnya untuk iklan atau program yang komersil lainnya, anda bisa juga menghubungi sang penciptanya.</p>
<p>Selamat berkarya..!</p>
<p><em><strong>*Sumber gambar: http://jimmyg.us</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=205</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Sarah Palin Dikerjai Orang Radio</title>
		<link>http://suarane.org/?p=202</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=202#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2008 21:30:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[Program]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=202</guid>
		<description><![CDATA[Selamat datang di dunia radio, Tante Sarah Palin! Calon wakil presiden Amerika dari Partai Republik ini diberitakan tertipu mentah-mentah oleh dua orang komedian radio terkenal di Quebec, Kanada, Marc-Antoine Audette dan Sebastien Trudel. Dua orang &#8216;gila&#8217; ini mengaku sebagai Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan ternyata Sarah Palin percaya mentah-mentah.
Dalam rekaman sekitar 6 menit (link untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat datang di dunia radio, Tante <em>Sarah Palin</em>! Calon wakil presiden Amerika dari Partai Republik ini diberitakan tertipu mentah-mentah oleh dua orang komedian radio terkenal di Quebec, Kanada, <em>Marc-Antoine Audette</em> dan <em>Sebastien Trudel</em>. Dua orang &#8216;gila&#8217; ini mengaku sebagai Presiden Perancis <em>Nicolas Sarkozy</em> dan ternyata Sarah Palin percaya mentah-mentah.</p>
<p>Dalam rekaman sekitar 6 menit (link untuk mendownload bisa anda temui di akhir artikel ini), nampak sekali betapa cawapres Amerika ini sama sekali tidak ada rasa curiga. Padahal kalau mau lebih teliti, si Sarkozy palsu ini beberapa kali memberikan informasi yang asal-asalan. Misalnya aktor terkenal Kanada disebutnya sebagai penasehat khusus untuk Amerika dan masih banyak lagi yang bisa anda dengarkan di rekaman itu. Lebih gila lagi karena presiden gadungan ini juga bercerita tentang bagaimana istrinya sangat &#8216;panas&#8217; di ranjang, dan Palin tidak curiga.</p>
<p>Audette dan Trudell memang pakarnya dalam hal acara tipu menipu di radio ini. &#8216;Korban&#8217; mereka juga kelas berat, termasuk diantaranya <em>Mick Jagger, Britney Spears, Celline Dion, Bill Gates </em>dan<em> Presiden Jacques Chirac</em>.. Gila!</p>
<p><img title="maskedav.jpg" src="http://suarane.org/wp-content/uploads/2008/11/maskedav.jpg" alt="maskedav.jpg" hspace="6" vspace="6" align="left" />Sebagai orang radio, banyak pelajaran yang bisa kita petik dari mereka. Pelajaran terpenting dari kedua komedian ini menurut saya adalah keseriusan dalam mengerjakan program radio mereka. Nampak sekali disini betapa <em>Show Prep</em> alias persiapan pra-siaran sangat penting. Kepada sebuah media di Kanada sana, keduanya misalnya mengaku bahwa aksi terhadap Sarah Palin ini merupakan yang paling sulit. Mereka harus melakukan puluhan telepon, bahkan sampai harus melalui pemeriksaan dari <em>Secret Service</em>, alias Paspampresnya Amerika yang memang sudah ditugaskan mengawal para capres dan cawapres. Menurut pengakuan Trudell di BBC (link ada di akhir artikel) mereka memerlukan waktu 5 hari untuk bisa mendapatkan Sarah Palin. Ini menunjukkan betapa seriusnya mereka untuk sebuah acara &#8216;bercandaan&#8217; seperti ini.</p>
<p>Di Indonesia sendiri sebenarnya sering ada acara-acara model begini. Yang paling umum adalah mengerjai orang di telepon biasanya untuk acara ucapan ulang tahun. Tapi dari yang saya pernah dengar, tidak ada yang benar-benar bisa disebut &#8216;memorable&#8217; atau berkesan. Bisa jadi karena persiapan yang kurang atau si &#8216;penipu&#8217; yang kurang meyakinkan. Padahal kalau dikerjakan lebih serius, tentu hasilnya maksimal.</p>
<p>Eits, bukan berarti saya mengajak anda kawan-kawan produser dan penyiar radio untuk juga menelpon Pak SBY atau Jusuf Kalla atau politisi lain dan mengerjai mereka lho. Walaupun seru juga membayangkan Jusuf Kalla dikerjai di udara haha..</p>
<p>Sekali lagi, kata kuncinya adalah Show Prep atau persiapan pra-siaran yang harus matang dan terencana, kalau perlu sampai ke detik-detilnya sekalipun. Jangan pernah sekali-kali menganggap bahwa mentang-mentang acara anda ini hanya acara becandaan, lantas anda menganggap remeh unsur persiapan menjelang siaran. Memang biasanya persiapan pra-siaran kita akan maksimal jika dibantu oleh produser tapi buat radio yang dananya pas-pasan untuk memiliki produser, bukan berarti sang penyiar punya alasan untuk tidak memaksimalkan persiapan mereka dong..</p>
<p>Jadi, mau ngerjain siapa di udara besok? hahahaha!!</p>
<p>Salam,</p>
<p>Rane &#8216;JaF&#8217; Hafied</p>
<p>****</p>
<p><strong>Tautan Terkait:</strong></p>
<ul>
<li><a href="http://u-radio.org/?p=65" target="_blank">Unduh dan dengar MP3 Audio &#8216;aksi penipuan&#8217; itu</a> (u-radio.org)</li>
<li><a href="http://www.youtube.com/watch?v=ic7s8Qy9FhE" target="_blank">Official Video: Sarah Palin Gets Pranked</a> (youtube.com)</li>
<li><a href="http://cnews.canoe.ca/CNEWS/USElection/2008/11/01/7276411-cp.html" target="_blank">Transkrip perbincangan Sarkozy palsu dengan Palin</a> (cnews.canoe.ca)</li>
<li><a href="http://www.justiciers.tv/" target="_blank">Situs The Masked Avengers</a></li>
<li><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Masked_Avengers" target="_blank">Masked Avengers di Wikipedia</a></li>
<li><a href="http://www.detiknews.com/read/2008/11/02/103327/1029712/10/sarah-palin-tertipu-presiden-perancis-gadungan" target="_blank">Berita: Sarah Palin Tertipu Presiden Gadungan</a> (detik.com)</li>
<li><a href="http://news.bbc.co.uk/2/hi/americas/us_elections_2008/7704666.stm" target="_blank">Berita: Sarah Palin duped by prank call</a> &#8211; beserta audio wawancara dengan Si Sarkozy palsu (bbcnews.com)</li>
<li><a href="http://canadianpress.google.com/article/ALeqM5idPXM6GDkOzIX-_At5WVYrBoJ6JQ">Berita: Quebec comedy duo talks porn and politics with oblivious Sarah Palin</a> (The Canadian Press)</li>
<li><a href="http://cnews.canoe.ca/CNEWS/USElection/2008/11/02/7282626-cp.html" target="_blank">Berita: Global reaction to Sarah Palin Prank Call</a> (cnews.canoe.ca)</li>
<li><a href="http://www.britneyspears.bz/bp/news/english/art02-316.shtml" target="_blank">Berita: Britney Spears ditelepon Celine Dion gadungan</a> (britneyspears.bz)</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=202</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8216;Lost In Translation&#8217; in Bangkok! (UPDATED)</title>
		<link>http://suarane.org/?p=194</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=194#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 18:08:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[: Sebuah Catatan Pribadi dari Liputan ke Bangkok
Selasa, 2 September 2008. Saya baru saja menuntaskan shift editing dari jam 4 subuh hingga 12 siang di kantor baru. Yang ada di kepala hanya bantal dan kasur hehe.. Dalam perjalanan pulang, saya menerima telepon dari kantor yang meminta saya untuk segera packing dan berangkat ke Bangkok dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>: Sebuah Catatan Pribadi dari Liputan ke Bangkok</strong></p>
<p>Selasa, 2 September 2008. Saya baru saja menuntaskan shift editing dari jam 4 subuh hingga 12 siang di kantor baru. Yang ada di kepala hanya bantal dan kasur hehe.. Dalam perjalanan pulang, saya menerima telepon dari kantor yang meminta saya untuk segera packing dan berangkat ke Bangkok dengan pesawat jam 4 sore. Tugas: meliput kekisruhan politik di Thailand yang sudah memasuki masa genting karena PM mengumumkan berlakunya keadaan darurat!</p>
<p>Tidak ada waktu untuk bertanya &#8220;Why me?&#8221;, tidak ada pula waktu untuk bertanya &#8220;How?&#8221;. Saya anggap saja itu sebagai kehormatan sekaligus tantangan tersendiri. Mengapa?</p>
<p>Tantangan Pertama: baru sebulan lebih saya bertugas di tempat baru, radio 938Live, sebuah radio berita di Singapura.  Bahkan baru beberapa hari saya &#8216;magang&#8217; untuk jadi editor dalam bahasa Inggris, dan kini saya harus meliput dalam Bahasa Inggris. Ya mungkin bagi mereka yang mimpi saja sudah dalam Bahasa Inggris, ini bukan masalah besar. Tapi <em>it&#8217;s a big deal</em> buat saya..</p>
<p>Tantangan Kedua: ini pertama kali saya meliput ke wilayah yang sama sekali baru buat saya dan mendadak pula. Tidak ada waktu untuk menjalin kontak dengan nara sumber ataupun teman-teman jurnalis di sana karena dalam dua jam saya sudah harus ada di bandara. Ditambah lagi, tujuan peliputan saya adalah negara yang bukan berbahasa Inggris, dan bahkan saya pun tidak menguasai bahasa Thailand kecuali <em>Sawat dee kraap</em>.. haha</p>
<p>Singkat kata, saya dan Deng Qin Yi, seorang kawan dari bagian pemberitaan bahasa China mendarat di Bandra Suvarnabhumi dengan sedikit bertanya-tanya, bagaimana situasi di sana saat keadaan darurat diberlakukan.</p>
<p><img src="http://suarane.org/wp-content/uploads/2008/09/padsuprt.jpg" align="left" hspace="5" vspace="5" />Hal pertama yang kami lakukan mencari tahu situasi di sana sebisa mungkin. Dengan gaya SKSD (sok kenal sok dekat) kami menghubungi beberapa jurnalis lokal. Kami juga nekat berkeliling kota, khususnya ke kawasan Government House (daerah perkantoran pemerintah) yang selama 100 hari terakhir diduduki oleh massa dari People&#8217;s Alliance For Democracy atau PAD yang mengingatkan pada masa pendudukan gedung DPR/MPR oleh mahasiswa tahun 98. Itupun setelah menawar supir taksi yang akhirnya mau mengantarkan ke sana dengan bayaran 300 Baht atau hampir 4 kali lipat dari biaya taksi biasa, karena sudah malam dan jarang ada supir taksi yang mau ke sana. Toh bayaran sebesar itu jadi sangat masuk akal karena kami sempat dihadang pendukung PAD dan juga beberapa anggota pro pemerintah. Untung si supir taksi yang bahasa Inggrisnya juga pas-pasan membantu menjelaskan.</p>
<p>Setelah sedikit banyak mengetahui keadaan, ditambah informasi dari internet, <a href="http://938live.sg/portal/site/938Live/menuitem.43735da1634c4377d21b2910618000a0/?vgnextoid=eb13aeeef232c110VgnVCM1000001f0aa8c0RCRD&amp;vgnextfmt=default" target="_blank">mengudaralah laporan pertama malam itu juga</a> yang saya lakukan dari dalam taksi. Sebuah laporan yang dibuat dengan sangat terburu-buru karena mengejar tenggat waktu dan juga bahasa yang berlepotan <em>haha</em></p>
<p>Keesokan harinya baru kami menyadari bahwa situasi tidak se menakutkan yang dibayangkan. Turis masih berdatangan meski sempat khawatir akan adanya rencana mogok pekerja di bandara, masyarakat juga masih santai-santai seperti biasa. Situasi tegang memang terasakan di Government House yang diduduki demonstran, meskipun nampak sekali bahwa suasana di sana lebih mirip pasar malam dengan orang berjualan macam-macam hal mulai dari perlengkapan demonstrasi sampai pasar malam. Ini saya gambarkan dalam laporan-laporan saya seperti <a href="http://938live.sg/portal/site/938Live/menuitem.43735da1634c4377d21b2910618000a0/?vgnextoid=adaf5a778762c110VgnVCM1000001f0aa8c0RCRD&amp;vgnextfmt=default" target="_blank">laporan yang satu ini</a>.</p>
<p><img src="http://suarane.org/wp-content/uploads/2008/09/padsuprt2.jpg" align="right" hspace="5" vspace="5" />Untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap, saya juga sempat menemui <a href="http://938live.sg/portal/site/938Live/menuitem.43735da1634c4377d21b2910618000a0/?vgnextoid=37cb14185782c110VgnVCM1000001f0aa8c0RCRD&amp;vgnextfmt=default" target="_blank">seorang analis politik dari Chulalongkorn University</a>. Dari beliaulah saya benar-benar mendapat update tentang situasi yang tengah terjadi.</p>
<p>Tantangan berikutnya adalah menghubungi seorang petinggi demonstran dan juga pihak pemerintah. Untuk petinggi demonstran, saya sempat menunggui &#8216;dedengkot&#8217; mereka Sonthi Limthongkul yang memang sangat fasih berbahasa Inggris. Sayang, penantian itu berakhir pada wawancara super singkat karena ia buru-buru dilarikan para pengawalnya. Tapi toh beruntung karena keesokan harinya saya mendapat <a href="http://938live.sg/portal/site/938Live/menuitem.43735da1634c4377d21b2910618000a0/?vgnextoid=314321497eb2c110VgnVCM1000001f0aa8c0RCRD&amp;vgnextfmt=default" target="_blank">wawancara ekslusif dengan Somsak Kosaisuk</a>, juga seorang petinggi demonstran yang sangat populer di kalangan masyarakat Thailand.  Sebuah wawancara yang tidak mudah karena keterbatasan Bahasa Inggris beliau.</p>
<p><img src="http://suarane.org/wp-content/uploads/2008/09/padsuprt3.jpg" align="left" hspace="5" vspace="5" />Sayang kami tidak berhasil mendapatkan wawancara dengan pihak pemerintah. Beberapa nara sumber yang kami peroleh tidak bersedia dikutip. Sementara upaya menunggui seorang petinggi dari parlemen Thailand juga berujung kekecewaan karena beliau tidak muncul di tempat yang telah dijanjikan. Okelah..</p>
<p>Sebuah laporan ringan juga saya buat tentang situasi di dalam Government House yang dikuasai demonstran. Sebuah laporan yang membuat tercengang banyak kawan-kawan di SIngapura, diantaranya karena saya menggambarkan situasi yang sangat tidak higienis, banyak yang sakit karena harus tidur di tenda-tenda yang tidak memadai, tapi tidak sedikit yang membawa keluarga lengkap, plus televisi dan antena parabola, bak piknik saja haha</p>
<p>Secara umum, saya menikmati liputan itu. Dalam hati saya merasa seperti inilah pengalaman kawan-kawan media asing yang tidak berbahasa Indonesia ketika mereka meliput di Jakarta dengan segala keterbatasan pemahaman Bahasanya. Saya terbiasa menggunakan bahasa &#8216;Tarzan&#8217; dengan beberapa nara sumber. Bahkan untuk menjelaskan Government House saja kepada supir taksi bukan hal mudah. Bahasa standar akhirnya adalah &#8216;<em>no like government</em>&#8216; kalau mau liputan ke daerah demonstran anti pemerintah, dan &#8216;<em>like government</em>&#8216; untuk ke daerah yang pro pemerintah hahaha..</p>
<p>Dari segi bahasa Inggris, pada akhirnya saya meminta kawan-kawan editor di Singapura untuk sebisa mungkin memeriksa semua laporan saya sebelum mengudara, karena saya sadar, meski sedikit banyak bisa berbahasa Inggris, cara berpikir saya belum sepenuhnya dalam Bahasa Inggris. Inilah rasanya kelemahan kita jurnalis Indonesia jika ingin berkiprah di dunia internasional. Ayo rekan-rekan jurnalis, mari kita asah kemampuan Bahasa Inggris kita dari sekarang..</p>
<p>Terimakasih untuk pengalaman berharga ini. Sayapun jadi punya banyak kontak di Thailand dan semoga ini bermanfaat..</p>
<p><img src="http://suarane.org/wp-content/uploads/2008/09/padsuprt4.jpg" align="right" hspace="5" vspace="5" />Berikut beberapa contoh laporan saya dalam bentuk MP3, jika berkenan mendengarkan. Laporan lain juga bisa disimak di situs <a href="http://www.938live.sg" target="_blank">938live.sg</a> sementara foto-foto hasil jepretan saya di sela-sela kegiatan liputan bisa dilihat di facebook saya atau <a href="http://www.facebook.com/album.php?aid=55276&amp;l=3276b&amp;id=761846336" target="_blank">klik saja disini</a>. Oya, saya juga membuat sebuah <a href="http://photogoblog.wordpress.com/2008/09/07/talk-to-the-hand-113-2/" target="_blank">esai foto yang saya simpan disini</a>. Semoga berkenan..</p>
<p>Oya, terimakasih juga <em><a href="http://enda.goblogmedia.com" target="_blank">Enda Nasution</a></em> yang sempat saya ganggu untuk minta kontak KBRI, sekiranya ada apa-apa saat saya liputan di sana. Alhamdulilah, semua lancar-lancar saja. Thanks Enda..! <img src='http://suarane.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Terimakasih juga buat kawan baik saya <em>Emillia Amin</em> dan <em><a href="http://bangfir.wordpress.com/" target="_blank">Firman</a></em> yang membantu mempertemukan saya dengan sejumlah analis politik yang memberi saya pemahaman yang lebih luas tentang situasi politik di Thailand. Terimakasih juga buat <em><a href="http://facebook.com" target="_blank">facebook</a></em> yang membantu saya menemukan kontak beberapa aktifis politik Thailand, serta tak ketinggalan terimakasih buat <a href="http://audacity.sourceforge.net/" target="_blank"><em>audacity</em></a> untuk software editingnya yang kembali terbukti bisa diandalkan!</p>
<p align="center">***</p>
<p><img src="http://anotherfool.files.wordpress.com/2008/09/samakmasak.jpg" align="right" hspace="5" vspace="5" /><strong>UPDATE 10/09/08:</strong> Perdana Menteri Samak Sundaravej akhirnya digulingkan berdasarkan keputusan pengadilan. Semua gara-gara acara masak memasak yang dia pandu di televisi Thailand, yang dianggap sebagai &#8216;conflict of interest&#8217; karena seorang Perdana Menteri menerima uang dari acara tersebut.. haha..  Seratus hari lebih berdemonstrasi menduduki Gedung Pemerintah, dan dia jatuh gara-gara acara masak di televisi. Beritanya <a href="http://www.bangkokpost.com/breaking_news/breakingnews.php?id=130526" target="_blank">ada disini</a>. Sementara kalau mau lihat seperti apa acara masak-memasak yang dia pandu, silahkan lihat di youtube di sini: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=UFzhey1YXv0" target="_blank">http://www.youtube.com/watch?v=UFzhey1YXv0</a></p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=194</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
			<enclosure url="http://media.podcast.sg/newsroom/Audio/020908235200Rane%27s_Report.mp3" length="1635" type="audio/mpeg"/>
<itunes:duration>00:01:01</itunes:duration>
		<itunes:subtitle>: Sebuah Catatan Pribadi dari Liputan ke Bangkok

Selasa, 2 September 2008. Saya baru saja menuntaskan shift editing dari jam 4 subuh hingga 12 siang di ...</itunes:subtitle>
		<itunes:summary>: Sebuah Catatan Pribadi dari Liputan ke Bangkok

Selasa, 2 September 2008. Saya baru saja menuntaskan shift editing dari jam 4 subuh hingga 12 siang di kantor baru. Yang ada di kepala hanya bantal dan kasur hehe.. Dalam perjalanan pulang, saya menerima telepon dari kantor yang meminta saya untuk segera packing dan berangkat ke Bangkok dengan pesawat jam 4 sore. Tugas: meliput kekisruhan politik di Thailand yang sudah memasuki masa genting karena PM mengumumkan berlakunya keadaan darurat!

Tidak ada waktu untuk bertanya "Why me?", tidak ada pula waktu untuk bertanya "How?". Saya anggap saja itu sebagai kehormatan sekaligus tantangan tersendiri. Mengapa?

Tantangan Pertama: baru sebulan lebih saya bertugas di tempat baru, radio 938Live, sebuah radio berita di Singapura.nbsp; Bahkan baru beberapa hari saya 'magang' untuk jadi editor dalam bahasa Inggris, dan kini saya harus meliput dalam Bahasa Inggris. Ya mungkin bagi mereka yang mimpi saja sudah dalam Bahasa Inggris, ini bukan masalah besar. Tapi it's a big deal buat saya..

Tantangan Kedua: ini pertama kali saya meliput ke wilayah yang sama sekali baru buat saya dan mendadak pula. Tidak ada waktu untuk menjalin kontak dengan nara sumber ataupun teman-teman jurnalis di sana karena dalam dua jam saya sudah harus ada di bandara. Ditambah lagi, tujuan peliputan saya adalah negara yang bukan berbahasa Inggris, dan bahkan saya pun tidak menguasai bahasa Thailand kecuali Sawat dee kraap.. haha

Singkat kata, saya dan Deng Qin Yi, seorang kawan dari bagian pemberitaan bahasa China mendarat di Bandra Suvarnabhumi dengan sedikit bertanya-tanya, bagaimana situasi di sana saat keadaan darurat diberlakukan.

Hal pertama yang kami lakukan mencari tahu situasi di sana sebisa mungkin. Dengan gaya SKSD (sok kenal sok dekat) kami menghubungi beberapa jurnalis lokal. Kami juga nekat berkeliling kota, khususnya ke kawasan Government House (daerah perkantoran pemerintah) yang selama 100 hari terakhir diduduki oleh massa dari People's Alliance For Democracy atau PAD yang mengingatkan pada masa pendudukan gedung DPR/MPR oleh mahasiswa tahun 98. Itupun setelah menawar supir taksi yang akhirnya mau mengantarkan ke sana dengan bayaran 300 Baht atau hampir 4 kali lipat dari biaya taksi biasa, karena sudah malam dan jarang ada supir taksi yang mau ke sana. Toh bayaran sebesar itu jadi sangat masuk akal karena kami sempat dihadang pendukung PAD dan juga beberapa anggota pro pemerintah. Untung si supir taksi yang bahasa Inggrisnya juga pas-pasan membantu menjelaskan.

Setelah sedikit banyak mengetahui keadaan, ditambah informasi dari internet, mengudaralah laporan pertama malam itu juga yang saya lakukan dari dalam taksi. Sebuah laporan yang dibuat dengan sangat terburu-buru karena mengejar tenggat waktu dan juga bahasa yang berlepotan haha

Keesokan harinya baru kami menyadari bahwa situasi tidak se menakutkan yang dibayangkan. Turis masih berdatangan meski sempat khawatir akan adanya rencana mogok pekerja di bandara, masyarakat juga masih santai-santai seperti biasa. Situasi tegang memang terasakan di Government House yang diduduki demonstran, meskipun nampak sekali bahwa suasana di sana lebih mirip pasar malam dengan orang berjualan macam-macam hal mulai dari perlengkapan demonstrasi sampai pasar malam. Ini saya gambarkan dalam laporan-laporan saya seperti laporan yang satu ini.

Untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap, saya juga sempat menemui seorang analis politik dari Chulalongkorn University. Dari beliaulah saya benar-benar mendapat update tentang situasi yang tengah terjadi.

Tantangan berikutnya adalah menghubungi seorang petinggi demonstran dan juga pihak pemerintah. Untuk petinggi demonstran, saya sempat menunggui 'dedengkot' mereka Sonthi Limthongkul yang memang sangat fasih berbahasa Inggris. Sayang, penantian itu berakhir pada wawancara super singkat karena ia buru-buru dilarikan para pengawalnya. Tapi toh beruntung karena keesokan harinya saya mendapat wawancara eks...</itunes:summary>
		<itunes:keywords>Esai</itunes:keywords>
		<itunes:author>rane@hafied.org</itunes:author>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:block>No</itunes:block>
	</item>
		<item>
		<title>Radio dan Sejarah Proklamasi</title>
		<link>http://suarane.org/?p=191</link>
		<comments>http://suarane.org/?p=191#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 10:07:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rane</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suarane.org/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Tahukah anda bahwa rekaman pembacaan naskah proklamasi oleh Bung Karno, yang hingga kini bisa kita dengar di Monas dan juga banyak beredar di internet itu, tidak direkam pada tanggal 17 Agustus 1945 ? Tahukah anda bahwa kabar tentang proklamasi yang pertama kali disiarkan melalui radio ke seluruh dunia tidak keluar dari mulut Bung Karno langsung?
Ya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahukah anda bahwa rekaman pembacaan naskah proklamasi oleh Bung Karno, yang hingga kini bisa kita dengar di Monas dan juga banyak beredar di internet itu, tidak direkam pada tanggal 17 Agustus 1945 ? Tahukah anda bahwa kabar tentang proklamasi yang pertama kali disiarkan melalui radio ke seluruh dunia tidak keluar dari mulut Bung Karno langsung?</p>
<p>Ya inilah kepingan sejarah kemerdekaan Indonesia yang melibatkan satu nama yang sangat penting dalam sejarah dunia radio siaran di Indonesia. Beliau adalah almarhum <strong>Muhammad Jusuf Ronodipuro</strong>, salah seorang pendiri Radio Republik Indonesia (RRI), bahkan yang pertama mengeluarkan slogan : &#8220;Sekali di Udara Tetap di Udara!&#8221;.</p>
<p>Berikut beberapa informasi tentang peran beliau di masa kemerdekaan Indonesia yang saya sarikan dari berbagai sumber (lihat tautan terkait di akhir artikel ini).</p>
<p align="center">~~~</p>
<p><span style="font-weight: bold" class="Apple-style-span">KABAR TENTANG PROKLAMASI</span></p>
<p>Banyak orang -ya paling tidak saya- berpikir bahwa  suara Bung Karno membacakan proklamasi itu mengudara juga di radio pada hari yang sama saat Indonesia merdeka. Ternyata bukan begitu ceritanya.</p>
<p>Jumat, 17 Agustus 1945, sekitar jam 17:30 WIB. Saat itu  Pak Jusuf sedang berada di kantornya, Hoso Kyoku (Radio Militer Jepang di Jakarta). Tiba-tiba muncullah Syahruddin, seorang pewarta dari kantor berita Jepang Domei dengan tergesa-gesa. (Catatan: Pak Jusuf sempat meralat kebenaran berita bahwa yang datang itu adalah sejarawan Des Alwi). Syahruddin yang masuk ke kantor Hoso Kyoku dengan melompati pagar itu menyerahkan selembar kertas dari Adam Malik yang isinya &#8220;Harap berita terlampir disiarkan&#8221;. Berita yang dimaksud adalah Naskah Proklamasi yang telah dibacakan Bung Karno jam 10 pagi.</p>
<p>Masalahnya, semua studio radio Hoso Kyoku sudah di jaga ketat sejak beberapa hari sebelumnya, tepatnya sehari setelah  Hiroshima dan Nagasaki di bom oleh Amerika. Jusuf kemudian berunding dengan rekan-rekannya, diantaranya <span style="font-style: italic">Bachtiar Lubis</span> (kakak dari Sastrawan dan tokoh pers Indonesia Mochtar Lubis) dan <span style="font-style: italic">Joe Saragih</span>, seorang teknisi radio.</p>
<p>Beruntung, studio siaran luar negeri tidak dijaga. Saat itu juga dengan bantuan Joe, kabel di studio siaran dalam negeri di lepas dan disambungkan ke studio siaran luar negeri. Tepat pukul 19:00 WIB selama kurang lebh 15 menit Jusuf pun membacakan kabar tentang proklamasi di udara, sementara di studio siaran dalam negeri tetap berlangsung siaran seperti biasa untuk mengecoh perhatian tentang Jepang.</p>
<p>Belakangan tentara Jepang mengetahui <span style="font-style: italic">akal bulus</span> Jusuf dan kawan-kawannya. Mereka pun sempat disiksa. Beruntung mereka selamat. Malam itu pun radio Hoso Kyoku resmi dinyatakan bubar, tetapi dunia saat itu juga sudah mengetahui kabar tentang proklamasi langsung dari mulut Jusuf Ronodipuro. Sayang rekaman suara ini tidak diketahui lagi keberadaannya, atau jangan-jangan sudah tidak ada mengingat malam itu juga radio tersebut ditutup oleh Jepang.</p>
<p align="center">~~~</p>
<p><span style="font-weight: bold">CIKAL BAKAL RADIO REPUBLIK INDONESIA</span></p>
<p>Gara-gara luka-luka dipukuli tentara Jepang, Jusuf Ronodipuro berobat ke seorang dokter bernama Abdurrahman Saleh. Mengetahui apa yang baru dilakukan oleh Jusuf, Abdurrahman Saleh kemudian menyarankan agar Jusuf membuat pemancar radio sebagai sarana komunikasi pemerintahan Indonesia yang baru dengan rakyat.</p>
<p>Kabarnya diperlukan waktu tiga hari bagi Jusuf dan kawan-kawannya untuk merakit pemancar itu. Laboratorium milik dokter Abdurrahman Saleh di belakang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, RSCM, pun kemudian dipakai sebagai ruang siaran. Maka berdirilah radio <span style="font-style: italic">Voice of Indonesia</span> yang siaran 2 jam sehari, satu jam dalam bahasa Indonesia, satu jam dalam Bahasa Inggris.</p>
<p>Beberapa sumber menyebutkan bahwa untuk masuk ke studio &#8216;radio gelap&#8217; tersebut harus melewati kamar mayat RSCM yang baunya busuk, sehingga setiap habis siaran bajunya pun tertular bau busuk itu dan harus direndam selama 2 hari untuk menghilangkan baunya.</p>
<p>Tetapi dari ruangan berbau busuk mayat itulah, Voice of Indonesia mengudara dan menjadi media utama untuk mengabarkan perjuangan Indonesia kepada rakyat dan juga ke masyarakat internasional. Bung Karno sendiri pertama kali berpidato di radio tersebut pada tanggal 25 Agustus 1945 sementara 4 hari kemudian Bung Hatta juga mengudara dari studio yang sama.</p>
<p>Voice of Indonesia kemudian menjadi cikal bakal Radio Republik Indonesia. Abdurrahman Saleh adalah direktur RRI yang pertama, dan Jusuf Ronodipuro kemudian dikenal sebagai orang pertama yang memperkenalkan slogan &#8220;<span style="font-style: italic">Sekali Di Udara, Tetap Di Udara!</span>&#8221;</p>
<p style="font-weight: bold" align="center">~~~</p>
<p style="font-weight: bold">MEREKAM PEMBACAAN NASKAH PROKLAMASI</p>
<p>&#8220;Proklamasi itu hanya satu kali!&#8221; begitu kata Ir. Sukarno dengan nada marah kepada Jusuf Ronodipuro pada suatu hari di awal tahun 1951. Dalam pengakuan kepada salah seorang kerabat dekatnya Louisa Tuhatu, Jusuf Ronodipuro dengan rendah hati mengatakan, kebetulan sekali saat RRI baru saja membeli peralatan baru dan mendadak pula muncul ide di benaknya untuk merekam suara Bung Karno membacakan proklamasi.</p>
<p>Meskipun sempat &#8216;ciut&#8217; juga dimarahi oleh Sang Pemimpin Besar Revolusi, tetapi Jusuf tetap bersikukuh. &#8220;Betul, Bung. Tetapi saat itu rakyat tidak mendengar suara Bung,&#8221; bujuknya. Bung Karno pun bersedia merekam suaranya tengah membacakan naskah proklamasi. Ini terjadi hampir 6 tahun setelah proklamasi yang asli dibacakan.</p>
<p>Nah, kebenaran cerita ini sempat menjadi kontroversi tersendiri. Bahkan -bisa ditebak- nama seorang Roy Suryo pun sempat terbawa-bawa disini. Tapi sudahlah. Itu urusan dia hehe.</p>
<p>Toh ada beberapa bukti yang bisa memperkuat kebenaran cerita ini. Kalau anda dengar pembacaan naskah proklamasi, maka akan terdengar kualitas rekaman yang relatif bersih, tidak ada suara-suara latar apapun. Senyap, seolah direkam di studio. Yang ada hanya suara Bung Karno. Padahal diasumsikan saat itu suasana saat proklamasi dibacakan sangatlah ramai. Nada suara Bung Karno pun tidak berapi-api seperti biasanya saat ia berpidato, bahkan ada kesan santai.</p>
<p>Bukti lain diceritakan oleh Louisa Tuhatu, orang terdekat Jusuf Ronodipuro di blognya (silahkan temui tautannya di akhir artikel ini). Anda mungkin tahu bahwa dalam naskah asli proklamasi yang hingga kini masih tersimpan rapi, tercetak tanggal &#8220;<span style="font-style: italic"> hari 17 boelan 8, tahoen 05</span> &#8220;, sesuai penanggalan Jepang yakni tahun 2605 yang sama dengan tahun 1945. Tetapi dalam pembacaan saat rekaman, Bung Karno menyebutkan tahun 1945 dan bukannya tahun 05 atau 2605.</p>
<p>Silahkan bandingkan tanggal pada naskah, dengan tanggal pada rekaman pembacaan naskah proklamasi di bawah ini:</p>
<p><img src="http://suarane.org/wp-content/uploads/2008/08/naskahproklamasi.jpg" alt="naskahproklamasi.jpg" /><br />
</p>
<p>Demikianlah sekelumit catatan sejarah tentang sosok Jusuf Ronodipuro dan bagaimana radio berperan besar pada masa proklamasi kemerdekaan.</p>
<p>Muhammad Jusuf Ronodipuro meninggal pada tanggal 27 Januari 2008 dalam usia 88 tahun. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Berita wafatnya beliau tidak banyak beredar, karena pada hari yang sama banyak media lebih terfokus pada kematian Suharto.</p>
<p>Toh Indonesia akan selalu mengenang beliau sebagai salah seorang yang paling berperan mewartakan kemerdekaan Indonesia kepada seluruh dunia, selain juga berbagai jasa lainnya yang bisa anda baca selengkapnya dalam tautan di bawah ini.</p>
<p>Semoga Allah membalas semua jasamu di alam sana, Pak Jusuf!</p>
<p><em><strong>Sekali Di Udara, Tetap di Udara!!! </strong></em></p>
<p><em>*disarikan dari berbagai sumber oleh Rane Hafied (suarane.org). Jika ditemukan ada fakta sejarah yang salah, mohon disampaikan ke penulis dengan mengisi kotak komentar di bawah ini atau mengirim email ke jafmail @gmail.com. Terimakasih.</em></p>
<p align="center"> ~~~</p>
<p><strong>Tautan Terkait :</strong></p>
<p><a href="http://louisa-tuhatu.blogspot.com/2008/01/jusuf-ronodipuro.html" target="_blank"><strong>- Blog Louisa Tuhatu</strong></a><br />
Salah seorang kerabat dekat Jusuf Ronodipuro</p>
<p><a href="http://www.antara.co.id/arc/2008/1/30/in-memoriam--jusuf-ronodipuro-perginya-sang-pejuang-angkasawan-dan-diplomat/" target="_blank"><strong>-  Antara.co.id</strong></a><br />
In Memoriam Jusuf Ronodipuro</p>
<p><a href="http://www.kompas.com/ver1/Hiburan/0608/17/122523.htm"><strong>- Kompas.co.id</strong></a><br />
Jusuf Ronodipuro, Penyebar Kabar Proklamasi</p>
<p><a href="http://www.biografitokoh.com/ensiklopedi/j/jusuf-ronodipuro/index.shtml"><strong>- Biografitokoh.com</strong></a><br />
Jusuf Ronodipuro, Pemekik Awal Semboyan RRI</p>
<p>~</p>
<p><strong>Sumber Gambar:</strong></p>
<p>- Jusuf Ronodipuro muda: <a href="http://jv.wikipedia.org/wiki/Jusuf_Ronodipuro" target="_blank">Wiki Bahasa Jawa</a> (dengan beberapa penambahan)</p>
<p>- Naskah Proklamasi:  <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Proklamasi_Kemerdekaan_Republik_Indonesia" target="_blank">Wikipedia</a>  (dengan beberapa pengeditan)</p>
<p>~</p>
<p><strong> Sumber Audio:</strong></p>
<p>- Di reproduksi dari rekaman kaset (sumber NN)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suarane.org/?feed=rss2&amp;p=191</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
			<enclosure url="http://u-radio.org/wp-content/uploads/2008/08/proklamasi.mp3" length="836227" type="audio/mpeg"/>
<itunes:duration>0:52</itunes:duration>
		<itunes:subtitle>Tahukah anda bahwa rekaman pembacaan naskah proklamasi oleh Bung Karno, yang hingga kini bisa kita dengar di Monas dan juga banyak beredar di internet itu, ...</itunes:subtitle>
		<itunes:summary>Tahukah anda bahwa rekaman pembacaan naskah proklamasi oleh Bung Karno, yang hingga kini bisa kita dengar di Monas dan juga banyak beredar di internet itu, tidak direkam pada tanggal 17 Agustus 1945 ? Tahukah anda bahwa kabar tentang proklamasi yang pertama kali disiarkan melalui radio ke seluruh dunia tidak keluar dari mulut Bung Karno langsung?

Ya inilah kepingan sejarah kemerdekaan Indonesia yang melibatkan satu nama yang sangat penting dalam sejarah dunia radio siaran di Indonesia. Beliau adalah almarhumnbsp;Muhammad Jusuf Ronodipuro, salah seorang pendiri Radio Republik Indonesia (RRI), bahkan yang pertama mengeluarkan slogan : "Sekali di Udara Tetap di Udara!".

Berikut beberapa informasi tentang peran beliau di masa kemerdekaan Indonesia yang saya sarikan dari berbagai sumber (lihat tautan terkait di akhir artikel ini).
~~~
KABAR TENTANG PROKLAMASI

Banyak orang -ya paling tidak saya- berpikir bahwa nbsp;suara Bung Karno membacakan proklamasi itu mengudara juga di radio pada hari yang sama saat Indonesia merdeka. Ternyata bukan begitu ceritanya.

Jumat, 17 Agustus 1945, sekitar jam 17:30 WIB. Saat itu nbsp;Pak Jusuf sedang berada di kantornya, Hoso Kyoku (Radio Militer Jepang di Jakarta). Tiba-tiba muncullah Syahruddin, seorang pewarta dari kantor berita Jepang Domei dengan tergesa-gesa. (Catatan: Pak Jusuf sempat meralat kebenaran berita bahwa yang datang itu adalah sejarawan Des Alwi). Syahruddin yang masuk ke kantor Hoso Kyoku dengan melompati pagar itu menyerahkan selembar kertas dari Adam Malik yang isinya "Harap berita terlampir disiarkan". Berita yang dimaksud adalah Naskah Proklamasi yang telah dibacakan Bung Karno jam 10 pagi.

Masalahnya, semua studio radio Hoso Kyoku sudah di jaga ketat sejak beberapa hari sebelumnya, tepatnya sehari setelah nbsp;Hiroshima dan Nagasaki di bom oleh Amerika. Jusuf kemudian berunding dengan rekan-rekannya, diantaranya Bachtiar Lubis (kakak dari Sastrawan dan tokoh pers Indonesia Mochtar Lubis) dan Joe Saragih, seorang teknisi radio.

Beruntung, studio siaran luar negeri tidak dijaga. Saat itu juga dengan bantuan Joe, kabel di studio siaran dalam negeri di lepas dan disambungkan ke studio siaran luar negeri. Tepat pukul 19:00 WIB selama kurang lebh 15 menit Jusuf pun membacakan kabar tentang proklamasi di udara, sementara di studio siaran dalam negeri tetap berlangsung siaran seperti biasa untuk mengecoh perhatian tentang Jepang.

Belakangan tentara Jepang mengetahui akal bulus Jusuf dan kawan-kawannya. Mereka pun sempat disiksa. Beruntung mereka selamat. Malam itu pun radio Hoso Kyoku resmi dinyatakan bubar, tetapi dunia saat itu juga sudah mengetahui kabar tentang proklamasi langsung dari mulut Jusuf Ronodipuro. Sayang rekaman suara ini tidak diketahui lagi keberadaannya, atau jangan-jangan sudah tidak ada mengingat malam itu juga radio tersebut ditutup oleh Jepang.
~~~
CIKAL BAKAL RADIO REPUBLIK INDONESIA

Gara-gara luka-luka dipukuli tentara Jepang, Jusuf Ronodipuro berobat ke seorang dokter bernama Abdurrahman Saleh. Mengetahui apa yang baru dilakukan oleh Jusuf, Abdurrahman Saleh kemudian menyarankan agar Jusuf membuat pemancar radio sebagai sarana komunikasi pemerintahan Indonesia yang baru dengan rakyat.

Kabarnya diperlukan waktu tiga hari bagi Jusuf dan kawan-kawannya untuk merakit pemancar itu. Laboratorium milik dokter Abdurrahman Saleh di belakang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, RSCM, pun kemudian dipakai sebagai ruang siaran. Maka berdirilah radio Voice of Indonesia yang siaran 2 jam sehari, satu jam dalam bahasa Indonesia, satu jam dalam Bahasa Inggris.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa untuk masuk ke studio 'radio gelap' tersebut harus melewati kamar mayat RSCM yang baunya busuk, sehingga setiap habis siaran bajunya pun tertular bau busuk itu dan harus direndam selama 2 hari untuk menghilangkan baunya.

Tetapi dari ruangan berbau busuk mayat itulah, Voice of Indonesia mengudara dan menjadi media utama untuk mengabarkan perjuangan Ind...</itunes:summary>
		<itunes:keywords>Esai,,Sosok</itunes:keywords>
		<itunes:author>rane@hafied.org</itunes:author>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:block>No</itunes:block>
	</item>
	</channel>
</rss>
