Propaganda?

“Wah, ente sekarang jadi agen propaganda nih?”
Propaganda! Sudah lama saya tak mendengar kata-kata ini sampai seorang teman lama, entah bercanda entah serius, tiba-tiba menggunakan kata ini ketika tahu saya bekerja di sebuah radio siaran internasional.

“Ah, kayak ente nggak aja..”, itu saja jawaban saya padanya. Maklum ia juga kerja di salah satu lembaga internasional yang salah satunya bergerak di bidang training atau bahasa kerennya ‘pemberdayaan’ untuk radio-radio di Indonesia. “Gue sih nyari duit aje, bos..!”, balasnya sambil ‘nyengir’. Pembicaraan soal propaganda berakhir prematur sementara saya terus saja terganggu dengan istilah ini. Apa yang salah dengan propaganda?”

Propaganda: Sebuah proses penyebaran doktrin atau informasi yang merefleksikan pandangan atau kepentingan dari mereka yang menyebarkannya. Ini penjelasan versi dictionary.com. Sementara menurut ensiklopedi Brittanica, istilah propaganda sendiri mulai dikenal dari hasil karya Congregatio de Propaganda Fide’, sebuah organisasi yang didirikan oleh sejumlah Kardinal Katolik Roma di tahun 1622 untuk menjalankan penyebaran misi ajaran mereka di negara-negara non kristen. Jadi bagi beberapa kalangan, propaganda ini terkait dengan misi keagamaan.

‘Terimakasih’ kepada Adolf Hitler, istilah ini kemudian mendapat konotasi negatif. Di bab 6 dari bukunya “Mein Kampf”, Hitler menuliskan perlunya propaganda untuk mempersuasi pihak lain, untuk menggerakan massa. Saking percayanya, Hitler sampai menunjuk seorang menteri khusus untuk urusan propaganda ini. Namanya Joseph Goebbels. Jabatannya: Menteri Urusan Propaganda dan Pencerahan Nasional. (kata pencerahan ini menarik karena mengingatkan saya pada salah satu departemen yang dulu ada di Indonesia yang tugasnya juga melakukan pencerahan alias penerangan.. hehe)

Tugas utamanya Goebbels dan Departemennya ada dua: Pertama, memastikan tak ada orang di Jerman yang punya akses kepada hal-hal yang bisa merusak kepentingan atau misi Nazi. Kedua, memastikan bahwa misi dan pola pandang Nazi berhasil disebarkan dengan cara yang se persuasif mungkin. Untuk menjamin kelancaran tugasnya itu, Goebbels di bantu oleh SS dan Gestapo yang tak lain adalah satuan polisi yang paling ditakuti di jaman Nazi. Namanya polisi, tugasnya pasti sudah jelas lah. Selain dengan SS dan Gestapo, Goebbels juga dibantu oleh sosok orang yang bernama Albert Speer yang kemudian dikenal sebagai salah satu penjahat perang paling kejam dari masa Nazi. Speers ini yang konon ditugaskan melakukan penyebaran ajaran Nazi kepada masyarakat.

Ah, ini yang mungkin membuat saya merasa ‘terganggu’ dengan istilah propaganda karena mengingatkan saya pada jaman-jaman Hitler dan juga jaman-jaman orde baru dimana kegiatan ini memang sangat kental mewarnai kehidupan masyarakat. Jadi ‘kangen’ Pak Harmoko juga.. :-)

Tapi kembalilah pada artian dasar dari propaganda (dan buang jauh bayangan Hitler atau mungkin Pak Harmoko), maka kita akan menemukan kenyataan bahwa sebetulnya setiap hari kita dikelilingi oleh praktek propaganda. Media adalah salah satu yang menjalankan praktek ini. Sekali lagi buang jauh-jauh muka ‘Jojon’ ala Jerman di benak anda, dan anda akan menyadari itu.

Saya termasuk orang yang tidak terlalu percaya pada konsep media bebas, apalagi kalau sudah di embel-embeli dengan kata “yang bertanggung jawab”. Setiap hari, setiap saat kita melakukan propaganda terhadap hal-hal yang kita percayai, dan ingin agar orang lain juga mempercayai. Ia bisa berupa nilai-nilai politik, nilai agama, etika sampai ke hal sehari-hari seperti memilih sabun cuci mana yang lebih bisa mencuci sendiri, atau shampoo mana yang bisa membuat rambut anda melayang-layang dengan indahnya ditiup angin. Semua sibuk berpropaganda. Yang membedakan hanyalah pada cara mereka mengemasnya. Sebut satu media saja yang tidak melakukan propaganda, dan saya akan merubah semua apa yang saya percayai.

Jadi kembali pada pertanyaan awal saya, “Apa yang salah dengan propaganda?”

Kalau dikaitkan dengan apa yang dilakukan Hitler, mungkin wajar saja saya terganggu. Tapi kalau dikaitkan dengan sebuah proses penyebaran informasi yang merefleksikan suatu pandangan tertentu dari si penyebar informasi, rasanya sah-sah saja. Saya selalu percaya bahwa di dunia ini sudah terlalu banyak orang yang selalu berusaha untuk membuat orang percaya pada apa yang ia percayai, karena seringkali ia sendiri tidak percaya diri dengan apa yang dipercayainya sampai kemudian ada yang ikut percaya pada apa yang dipercayanya. Bingung? Coba ulang kalimat terakhir tadi..
Jadi kenapa mesti terganggu dengan istilah propaganda? Mungkin karena sudah terlalu lama kita terjebak dalam istilah-istilah yang kita buat sendiri.

Atau mungkin akan lebih aman mengutip kata-kata teman saya di awal tadi: “Gue sih nyari duit aje, bos..!”.

Ah, jangan ah…!!

Singapura, 14 Oktober 2003

Popularity: 5% [?]

Tulis Tanggapan Anda