Visual Radio??
Anda yang punya ponsel Nokia mungkin pernah menemui fungsi “Visual Radio” dan bahkan mungkin pernah mencobanya tapi gagal. Penasaran?
Banyak yang berpikir bahwa visual radio ini adalah semacam radio streaming melalui ponsel. Salah! Visual radio yang dimaksud adalah sebuah layanan data berupa gambar dan teks yang di sinkronkan dengan program radio FM analog yang biasa anda dengar melalui ponsel anda itu.
Mudahnya begini: sejak lama anda sudah bisa mendengarkan radio melalui banyak jenis ponsel, bukan? Nah, Nokia kemudian mengembangkan perangkat lunak yang memungkinkan anda berinteraksi dengan radio yang anda dengar itu, melalui layanan data di ponsel anda melalui akses GPRS dan secara seenaknya disebut visual radio. Oke, kata ‘seenaknya’ itu subjektifitas saya saja lah (Tapi mana ada sih radio yang visual.. hehe)
Dengan fungsi Visual Radio ini, saat anda mendengar sebuah program radio, anda misalnya bisa:
- Melihat judul judul dan informasi tentang sebuah lagu yang sedang diputar
- Ikut bermacam-macam kuis secara online
- Menerima informasi berupa tulisan atau gambar, misalnya info cuaca, lalu lintas atau berita terbaru, atau foto penyiar yang sedang online
- Membeli ringtone atau mp3 sebuah lagu yang tengah diputar
Layanan Visual Radio hanya ada di ponsel Nokia jenis tertentu dan hanya bisa didapati di stasiun radio yang sudah bekerjasama dengan penyelenggara visual radio. Konon, di dunia ini baru Singapura, Helsinki dan India yang sudah punya layanan ini.
Di Singapura misalnya, saya pernah mencoba layanan Visual Radio di Radio 987 FM. Cukup menarik. Misalnya, ada satu acara yang disebut Ask Mr. Cupid dimana kita bisa berkonsultasi tentang masalah cinta dengan pembawa acara dengan mengisi formulir yang tersedia di layanan visual radio mereka dan kemudian dibacakan di udara.
Well, salut buat Nokia yang sudah mengembangkan layanan ini, karena secara teknologi, Visual Radio memang canggih. Tapi itu saja tidak cukup. Tantangannya justru terletak pada masalah kreatifitas. Untuk acara konsultasi cinta seperti contoh di atas misalnya, kita bisa saja memanfaatkan SMS atau email atau telepon langsung, kenapa tidak?
Harus ada alasan yang pasti bagi pendengar untuk mau menggunakan layanan ini karena mereka harus mengeluarkan biaya untuk akses GPRS nya dan sejauh ini, dari yang pernah saya coba, saya tidak menemukan alasan yang pas untuk menggunakannya. Sesekali saja kalau saya sedang mendengar lagu yang tidak tahu judulnya, saya akan akses ke sana untuk mencari tahu. Itupun kadang ternyata tidak sinkron. Lagunya apa, judul yang nongol apa
Alternatif Visual Radio Sederhana
Teknologi Visual Radio memang canggih karena ia bisa di sinkronkan dengan program yang berjalan, sehingga semuanya dilakukan oleh komputer. Bisa terbayang berapa besar investasi yang harus dikeluarkan sebuah stasiun radio untuk memiliki layanan ini.
Tapi dengan segala hormat kepada para pengembang teknologi Visual Radio di Nokia, saya justru mempertanyakan apa bedanya layanan ini dengan misalnya mendengarkan radio sambil mengakses situs radio tersebut melalui GPRS? Bukankah biayanya lebih murah?
Beberapa waktu lalu, misalnya, saya pernah bereksperimen menggabungkan fungsi microblogging dengan siaran radio analog. Dalam hal ini saya menggunakan layanan microblogging dari kronologger.com. Hasilnya cukup menjanjikan. Beberapa pendengar dan teman-teman kronologger saling berinteraksi, kirim salam, dan minta lagu melalui kronologger.com. (hasil eksperimen tersebut bisa dengarkan di download di akhir artikel ini).
Dari situ saja saya membayangkan betapa serunya sebuah radio yang juga memiliki layanan mirip visual radio dengan menggunakan teknologi microblogging seperti kronologger, twitter, jaiku dan lain sebagainya untuk bisa berinteraksi dengan pendengar. Dari segi investasi biaya, menurut saya jauh lebih murah memanfaatkan akses GPRS daripada SMS. Layanan-layanan itupun tersedia secara gratis.
Ide lain adalah dengan mengembangkan situs radio versi WAP, dimana pendengar juga bisa melihat informasi tentang sebuah acara, melihat foto penyiar, judul lagu, berita dan juga berinteraksi, semua dengan memanfaatkan ponsel dan akses GPRS. Menarik bukan?
Yang jelas, sebagai seorang yang bekerja di sebuah radio internasional yang menggunakan gelombang SW, teknologi GPRS ini adalah jawaban yang sangat membantu. Betapa tidak? Satu SMS untuk rekues lagi biayanya antara 1500 sampai 3 ribu rupiah. Sementara kalau mereka kirim via MMS biayanya bisa dibawah 500 rupiah sekali kirim. Dengan menggunakan microblogging, misalnya, pendengar bahkan bisa berinteraksi dengan sesama pendengar, dengan tetap tidak meninggalkan siaran radio kita. Menarik?
Teknologi memang terus berkembang. Orang kini sudah banyak memanfaatkan MMS dan mengakses situs internet melalui layanan GPRS atau bahkan 3G dan orang radio harus bisa pandai memanfaatkan itu.
Kata kuncinya cuma satu: KREATIFITAS!
Dengan kreatifitas, soal biaya bisa diatasi. Dengan kreatifitas, orang punya alasan untuk menggunakannya, dan saya yakin orang radio dimanapun dikenal karena kreatifitasnya.. Bukan begitu, bukan?
Link Terkait:
- Situs Visual Radio
- Visual Radio di Singapura
- Visual Radio di Wikipedia
- Eksperimen siaran dengan Kronologger.com (dengan contoh siaran dalam mp3)
- Layanan Microblogging Kronologger.com
- Artikel tentang membiasakan pendengar berkirim MMS
Popularity: 33% [?]


Comment by mtamim on 21 January 2009:
dulu saya pernah membayangkan ada alat radio portabel yang mana siaran nya ditumpangi data yg dapat diakses pendengar(bisa ditampilkan berita terbaru dll). pikir saya dulu murah dan gratiss. dan ternyata nokia sekarang sudah mmebuatnya
tapi benar sekali, utk invest di teknologi ini stasiun radio butuh dana besar, perangkatnya di sisi user juga khusus.. lebih mudah dan murah memanfaatkan GPRS dengan microblogging dll. pulsanya murah perangkatnya juga murah, tinggal kuncinya di KREATIFITAS!!
salam
Pingback by Teknologi Yang Sia-sia « Blog Adyaswara on 11 April 2009:
[...] Ini fitur canggih yang ditawarkan Nokia. Sebagai gambaran, misalnya seorang penyiar sebuah radio FM membawakan acara Top Ten musik, kita para pendengar bisa berinteraksi dengan penyiar itu melalui layanan Visual Radio ini, misal melihat foto sang penyiar, mengrim salam, mengirim komentar, mendownload lagu, mengisi poling, dll. Tentu stasiun radio ini harus juga mempunyai teknologi yang mendukung layanan ini. Konon, layanan ini baru bisa dinikmati di tiga tempat, Singapura, Helsinki dan India (Sumber = http://suarane.org [...]
Comment by Adyaswara on 11 April 2009:
Mas Rane, artikel ini menjadi inspirasi bagi tulisan di blog saya berjudul Teknologi Yang Sia-sia, terima kasih.
Oya, saya minta izin copy paste banner “blog juga karya cipta” punya mas rane, hehe…udah di pasang. Tapi saya taruh link blog mas di situ, maaf ya minta izinnya belakangan.