Radio Siaran Internasional, Masihkah Relevan?
: Sebuah catatan dari penutupan Radio Singapura Internasional.
31 July 2008 menjadi satu lagi tanggal bersejarah di dunia radio siaran internasional. Malam itu kami para penyiar Radio Singapura Internasional (RSI) dari siaran Bahasa Cina, Inggris, Melayu dan Indonesia berkumpul di studio masing-masing. Satu persatu kami mengucapkan kata-kata perpisahan untuk para pendengar setia yang kebanyakan sudah menjadi seperti teman dekat. Isak tertahan mewarnai setiap ucapan di menit-menit terakhir, dan akhirnya meledak menjadi tangisan ketika tombol “ON AIR” dilepas tepat pukul 10 malam waktu Singapura. Ada rasa sedih mendalam ketika saya yang saat itu bertugas di belakang perangkat siaran melepas tombol merah tersebut untuk terakhir kalinya.
Apa boleh buat, setelah 14 tahun menyambangi pendengarnya di berbagai penjuru dunia, Radio Singapura Internasional akhirnya menghembuskan nafas terakhir, menyusul ‘saudara-saudaranya’ yang sudah mangkat lebih dulu, seperti Swiss International Radio, Slovak Radio, Finnish Public Broadcasting di Finlandia, Deutsche Welle yang menutup siaran Bahasa Jermannya untuk Amerika dan Kanada, bahkan jawara radio dunia sekelas BBC pun sudah perlahan mematikan beberapa siaran internasionalnya, seperti Siaran Bahasa Melayu, lalu transmisi mereka ke Amerika Utara dan kabarnya awal tahun ini juga telah mematikan pemancar untuk wilayah Eropa.
Dalam rilis singkat yang disebarkan kepada media sekitar dua bulan sebelumnya antara lain disebutkan bahwa RSI ditujukan untuk menjangkau pendengar di kawasan serantau serta sekaligus membantu warga Singapura di luar negeri untuk bisa terus mengikuti perkembangan di kampung halaman mereka. Namun, masih menurut rilis media tersebut, seiring dengan efektifitas radio gelombang pendek (Shortwave, SW) yang semakin lama semakin berkurang, ditambah pula dengan perkembangan pesat teknologi serta perubahan pola konsumsi media, maka keputusan mengakhiri transmisi ini pun harus diambil. Sedih rasanya…

~~~
Siaran Gelombang Pendek (SW): Sudah Tidak Relevan?
Nama boleh gelombang “pendek”. Tapi kalau bicara kesederhanaan teknologi, tidak ada –atau mungkin belum ada- frekuensi radio di dunia ini yang memiliki jangkauan global seperti frekuensi gelombang pendek. Ia bisa saja tanpa ‘kulonuwun’ masuk menembus batas negara. Akses internet bisa di di blok, gelombang radio dan televisi bisa di di acak, tapi gelombang pendek tetap akan melenggang santai. Mungkin inilah pertimbangan mengapa ada jalur-jalur frekuensi gelombang pendek masih dipakai untuk komunikasi pesawat terbang dan kapal laut, terutama ketika mereka sudah jauh dari jangkauan radio komunikasi biasa.
Di negara maju, mungkin teknologi ini sudah tidak populer dan wajar kalau banyak yang memutuskan untuk mencabutnya saja sekalian. Tetapi di banyak negara seperti Afrika dan Asia, orang masih mendengarkan siaran SW. Ini mungkin yang menjelaskan mengapa meski telah menutup transmisi ke Eropa dan Amerika (baca: karena teknologi media yang sudah maju) tapi tetap ada radio internasional yang mempertahankan siaran untuk kawasan Asia dan Afrika karena jumlah pendengar yang masih relevan.
Kalau bicara RSI sendiri, mereka diakui memiliki basis pendengar sekitar setengah juta untuk kawasan Asia Tenggara saja, dan kabarnya ada di peringkat-peringkat teratas untuk popularitas pendengar. Ya mungkin para petinggi RSI itu punya perhitungan dan pertimbangan lain untuk menutup siarannya.

Sejarah siaran SW memang tidak lepas citranya sebagai radio dari jaman perang. Itu ada benarnya. Tapi keunggulan siaran gelombang SW juga teruji di masa bencana dan RSI pernah membuktikannya, yang akan saya jelaskan di akhir tulisan ini.
Masihkan kita mempertanyakan relevansi radio SW? Ya mungkin ada yang punya pertimbangan lain, memang. Itu hak mereka lah. Mereka yang punya uang kok..
Yang jelas, masih ada yang percaya gelombang SW itu masih relevan. Bahkan ada yang kemudian mengembangkan teknologi yang memungkinkan frekuensi gelombang pendek membawa sinyal digital sehingga kualitas suaranya bersaing dengan radio FM. Bayangkan betapa dahsyatnya memadukan daya jangkau SW yang luar biasa jauh dengan kualitas suara yang ‘cring’ dan biaya yang jauh lebih murah ketimbang teknologi satelit.
Memang perlu waktu, khususnya bagi pendengar untuk bisa membeli perangkat penerimanya dengan harga murah, tapi teknologi Digital Radio Mondialle sudah ada dan sudah dipakai beberapa siaran radio yang dulu bahkan sekarang masih bermain di frekuensi SW.
~~~
Ini Jaman Konvergensi, Bung..!
Konvergensi! Kata-kata itu menjadi sedemikian sakti beberapa tahun terakhir ini. Inilah jaman ketika berbagai produk media yang berbeda-beda digabungkan menjadi satu produk yang memiliki kekuatan dari masing-masing produk yang digabungkan itu dan mengubah cara kita mengkonsumsi media. Era kemajuan internet dan multimedia adalah pemicunya.
Radio pun ikut terimbas secara luar biasa. Salah satunya adalah sifat ‘sekali dengar ‘ yang dulu membedakan media radio dengan surat kabar. Tapi era konvergensi kini memungkinkan siapapun untuk juga meng’klipping’ sebuah acara radio –bak menyimpan sebuah guntingan surat kabar– untuk didengarkan di lain waktu saat ada masa luang. Namanya podcasting.
BBC adalah jajaran radio internasional pertama yang memeluk era konvergensi media ini bahkan sempat tersiar kabar bahwa mereka tengah melakukan perombakan besar-besaran dalam organisasinya gara-gara konvergensi ini.
Radio Singapura Internasional sendiri tidak ketinggalan. Mereka mengejar era konvergensi dengan caranya sendiri. Hanya dalam waktu sekitar satu tahun angka pendownload atau pengunduh podcast program-program mereka melonjak drastis bahkan mampu bersaing dengan radio-radio FM yang juga berada di bawah payung Mediacorp, induknya kebanyakan radio di Singapura.
Banyaknya pendengar RSI yang berbasis di desa-desa dan jauh dari teknologi informasi juga bukan penghalang. Menyadari infiltrasi telepon seluler yang sudah sedemikian besar di Indonesia, misalnya, kami di RSI mencoba mengajari pendengar untuk berkirim email melalui MMS. Hasilnya, menjelang ‘kematian’ RSI, jumlah pengirim MMS juga melonjak pesat.
Omelan beberapa pendengar kami di desa-desa yang merasa dikesampingkan karena tidak punya komputer untuk berkirim email kami jawab dengan mengudarakan program tentang cara membuat email di warnet. Jumlah pengirim email pun membengkak. Bahkan ada rasa haru ketika saat siaran terakhir kami, ada seorang pendengar bercerita bagaimana ia mengayuh sepeda sejauh 3 kilometer ke warnet terdekat untuk bisa berkirim email yang terakhir kalinya. Terimakasih, kawan!

Bentuk konvergensi lain yang juga sudah ditempuh adalah bekerjasama dengan stasiun radio FM lokal di negara lain baik dalam bentuk relay, siaran tunda atau bahkan siaran live. BBC, VOA, Deutsche Welle, NHK, RANESI dan RSI sendiri sudah melakukan itu sejak lama dan sukses. Ini konvergensi juga, bukan?
Nah, mungkinkah konvergensi ini adalah jawaban bagi stasiun internasional yang masih menggunakan gelombang pendek yang katanya ketinggalan jaman itu?
Ya mungkin ada yang punya pertimbangan lain, memang. Itu hak mereka lah. Mereka yang punya uang kok..
~~~
Beyond War: Masa Depan Siaran Radio Internasional
Seperti saya singgung sedikit di atas tadi, banyak memang yang mengaitkan siaran radio internasional gelombang pendek atau SW ini dengan zaman perang. Mulai dari era perang dunia pertama sampai ke era perang dingin. Bahkan tidak sedikit yang melihatnya sebagai senjata ampuh untuk melontarkan peluru propaganda atau menyusupkan pesan-pesan ideologis. Wajar saja kalau ada anggapan seperti ini apalagi sifat gelombang SW yang luas jangkauannya dan amat susah untuk ditangkal.
Tapi selalu ada dua sisi mata uang, bukan? Ia bisa dipakai untuk perang, tapi bisa dipakai juga untuk menyebarkan kebaikan, perdamaian dan lain sebagainya.
Yang paling aktual adalah ketika bencana Tsunami dahsyat melanda sebagian kawasan Asia Tenggara, RSI Siaran Bahasa Indonesia misalnya menerima SMS dari beberapa pendengar yang mengabarkan adanya gempa hebat. Informasi ini pun disebarluaskan. Sekitar beberapa menit kemudian masuk lagi sms yang mengabarkan adanya gelombang air dahsyat. Lagi-lagi informasi ini pun mengudara.
RSI pun berperan mengabarkan informasi soal keluarga yang hilang bahkan sempat menjadi ajang komunikasi antara warga Aceh yang tengah merantau di negara lain untuk menghubungi sanak saudara dan kerabat mereka di kampung halaman. Semua ini terjadi di saat medium komunikasi ‘andalan’ seperti radio FM dan televisi bahkan ponsel semuanya hancur luluh di obok-obok gempa dan air bah..
Kalau gelombang SW yang punya daya terobos yang jauh itu bisa dipakai untuk menyebarkan propaganda perang, mengapa tidak dipakai untuk menyebarkan propaganda masa damai?
Seorang kawan penyiar part time di RSI misalnya bercerita bagaimana di salah satu daerah di Sumatera Barat, ada seorang kerabatnya yang rajin sekali mendengarkan RSI karena anaknya tengah menuntut ilmu di Singapura. Ia tahu dan hafal sekali seluk beluk negara SIngapura meskipun belum pernah ke sana.

Dalam konteks yang lain, RSI misalnya pernah punya acara tentang seluk beluk mendapatkan beasiswa di Singapura, tentang bagaimana tinggal di Singapura, mulai dari mencari rumah, sekolah dan lain sebagainya. Pernah pula punya acara yang memberikan tips tentang bagaimana mendirikan bisnis di SIngapura, bagaimana mendirikan bisnis online, bagaimana cara mengejar ketertinggalan di dunia internet, atau sekedar informasi tentang peristiwa teraktual di Singapura sampai ke event-event yang tengah berlangsung di SIngapura dan itu disalurkan melalui gelombang SW, podcast dan juga melalui kerjasama dengan radio-radio swasta di Indonesia. Hasilnya cukup menggembirakan. Promosi yang ampuh, bukan?
Seorang mantan penyiar radio internasional, saya ingat sekali, pernah menulis tentang apa yang mendorongnya menjadi penyiar. Salah satunya adalah karena ia bisa bermanfaat bagi orang lain, khususnya di pedesaan. Ia pernah mengasuh sebuah acara tentang pertanian yang ditujukan kepada para petani di Indonesia.
Saya sepakat dengannya, bahkan tulisannya itu mengilhami saya untuk menciptakan beberapa acara semasa kerja di RSI, karena saya percaya radio itu sifatnya bukan hanya informasional, tapi juga fungsional.. Membawa manfaat bagi orang lain.. Bukankah itu juga sekaligus propaganda yang baik? Ya, mau disebut propaganda juga boleh, karena kata itu bukan hanya milik ahli perang, bukan?
Jadi masihkah siaran internasional relevan di masa saat ini? Ya mungkin ada yang punya pertimbangan lain, memang. Itu hak mereka lah. Mereka yang punya uang kok..
Terakhir, saya pribadi ingin mengucapkan ribuan terimakasih kepada para pendengar Radio Singapura Internasional, khususnya siaran Bahasa Melayu dan Indonesia.
Saya bahagia bisa berbagi apa yang punya dengan anda, dan semoga itu bermanfaat..
Saya bangga dan merasa terhormat bisa melayani anda !!
~~~
Singapura, 1 Agustus 2008
La Rane ‘JaF’ Hafied
Mantan Penyiar RSI Siaran Indonesia, per 31 Juli 2008.
Disclaimer: Semua tulisan ini berangkat dari opini serta pengalaman pribadi penulis dan sama sekali tidak mewakili institusi dan organisasi manapun, termasuk tempat di mana penulis pernah bekerja atau juga tengah bekerja. Penulis bertanggung jawab sepenuhnya atas tulisan di atas.
TAUTAN TERKAIT:
- Foto-foto dari suasana saat siaran terakhir RSI Bahasa Melayu/Indonesia (facebook.com) – Bisa dilihat tanpa harus memiliki account facebook, kok..
- ‘Last Men Standing‘, masih foto tentang hari-hari terakhir RSI (facebook.com) – Bisa dilihat juga tanpa harus memiliki account facebook
- Situs Radio Singapura Internasional (RSI) – yang masih tersisa
- Posting blog RSI Siaran Inggris tentang rencana penutupan itu (daily.rsi.sg) – Mudah-mudahan belum ditutup
- Posting blog RSI Siaran Indonesia tentang rencana penutupan itu (daily.rsi.sg/xtra) – Mudah-mudahan belum ditutup
- Posting di blog Mas Alex, pimpinan salah satu radio mitra RSI di Indonesia (radioclinic.com) – Thanks Mas
- Press release tentang penutupan RSI (Channelnewsasia.com)
- Berita tentang penutupan RSI (Channelnewsasia.com)
- Berita tentang penutupan RSI (Xinhua)
- Pengumuman tutupnya RSI (Shortwave Central)
- Laporan penerimaan saat siaran terakhir RSI Siaran Bahasa Inggris dari seorang DX’er di Clewiston, Florida, Amerika Serikat (hard-core-dx.com)- Goodbye to another SW broadcaster, tulisnya..
- Laporan penerimaan saat siaran terakhir RSI Siaran Bahasa Melayu dari seorang DX’er di Victoria, British Columbia, Kanada (hard-core-dx.com) – menarik untuk dicatat bagaimana si pelapor mendengar suara keceriaan yang tidak dia pahami artinya. Saat itu kami memang siaran dengan penuh tawa, mengenang masa lalu, sampai 30 menit menjelang penutupan, keceriaan itu lenyap senyap…
Popularity: 59% [?]


Comment by alex santosa on 2 August 2008:
yang saya sesalkan, adalah keputusan media corp mematikan siaran sebuah radio berdasarkan pertimbangan hardware / perangkat. menurut saya faktor penentu siaran sebuah radio bisa dinilai masih relevan atau tidak adalah dari isi siarannya. masalah dana, sebenarnya bisa saja dicari jika ada niat. dari hasil survey terakhir yang dilakukan oleh nielsen, jumlah pendengar radio PASFM di jam 19.00 – 20.00 dimana kabar dari singaupra disiarkan, adalah yang terbanyak kedua diantara seluruh jam siaran yang ada. jumlah pendengar terbanyak ada di jam 07.00 – 08.00. sangat disayangkan.
Comment by dida on 2 August 2008:
Walaupun hanya menikmati RSI dari ‘klipingan2′ audio, saya turut kehilangan sekali bang rane. Sepakat dengan om Alex. Tidak ada solusi lain ya..? Mudah2an dapat media sebagai penyalur cita-cita abang untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.
Comment by tuteh on 3 August 2008:
maaf, baru tau
>> cup.. cup.. ciluk.. baaa!!!
Pingback by Last Farewell For RSI.. « JaF’s The Name on 3 August 2008:
[...] Last Farewell For RSI.. 4 08 2008 Oke.. oke.. ini yang terakhir deh. Sumpah!! Teman-teman di facebook, di youtube, di suarane.org semua sudah ‘protes’ gara-gara dihujani posting-posting sedih tentang perpisahan dengan teman-teman Radio Singapura Internasional (RSI), sehubungan dengan ditutupnya radio itu untuk selama-lamanyanya.. [...]
Comment by ary on 3 August 2008:
radio gelombang pendek memang satu – demi satu menghilang. tapi, jika persoalannya adalah teknologi toh sebenarnya bisa diantisipasi, sebagaimana terjadi sekarang. Sayang memang.
>> ya emang sayang.. tapi mungkin si bos ada pertimbangan kali ya mas..
Comment by BARRY on 4 August 2008:
Dulu sempat mengikuti siaran ini. Kaget saat mengetahui tentang penutupan siaran
>>Thanks Mas..
Comment by sandynata on 4 August 2008:
saya bangga nama saya pernah disebut saat siarannya om rane.. hahahah…
>> hehehe.. siaran percobaan dengan kron yak..
Makasih banget bos!
Comment by Subadrio on 4 August 2008:
Saya turut melepas RSI,
oh ya mas,apakah ada tempat tongkrongan para mantan penyiar RSI yang doeloe? Kalau ada kasih kabar dong mas…..
>> Tempat tongkrongan gimana maksudnya Ri? Di internet? Kalau di internet, ke facebook aja. Banyak anak2 RSI di situ..
Sayang, saya tidak sempat mendengar RSI tuk siaran terakhir kali, namun ketika saya cek situs RSI pada tanggal 2 agustus kemaren ternyata sudah dipegang kembali ama MeediaCorp.
Terima Kasih atas kerjasama dan semua persabahatan yang terjalin selama ini. Semoga persahabatan tersebut terus terjalin kembali.
>> Terimakasih kembali. Ri, anda salah satu pendengar terbaik kita. Siapa nyangka akhirnya ketemu di Padang, malah bikin acara segala ya Ri.. Makasih banget udah bantu waktu itu..
Mas Rane, mas ntar datang pada acara Pesta Blogger 2008 bukan? Saya dan teman-teman dari Padang Insya Allah akan datang.
>> Insya Allah.. kalau tidak ada halangan saya datang..
Sampai jumpa di Pesta Blogger 2008.
Salam,
Subadri
Comment by Abang Edwin SA on 5 August 2008:
Duh sayang ya, kalau tertarik mau gak melanjutkan siarannya di radio kami? It’s an internet radio dengan pendengar yang bisa tune-in ya dari seluruh dunia. namanya Voice Of Jakarta (VOJ). VOJ ini baru aja di ressurection lagi setelah sempat mati suri karena kami mesti pulang for good dari NYC ke Jakarta. Sekarang saya bekerja di Singapore oleh karena itu mulai saya hidupkan lagi. So far baru ada 3 DJ yang mulai siaran, jadi slot waktunya masih banyak.
Ini webnya: http://www.voiceofjakarta.com
salam.
abang edwin sa
bangwin@yahoo.com
>> Wah, minat juga tuh Bang.. Tapi cuma after office bisanya.. Caranya gimana.. Ntar deh saya email.. Dulu saya pernah dengan VOJ ini sebelum menghilang.. Hidup lagi tho?
Comment by amril on 5 August 2008:
Turut berduka atas “berpulang”-nya RSI. Sebagai salah satu mantan respondennya, saya turut merasakan apa yang dirasakan Bung Rane dan
kawan-kawan penyiar di RSI.
>> Terimakasih, Daeng.. Terimakasih..
Tetap Semangat ya Daeng..
>>Tetap!! Tetap! EWAKO..!
Comment by Fadli Chan on 5 August 2008:
Saya juga mengucapkan ribuan terima kasih telah berkenalan dengan Mas Rane ‘n RSI.
>> Jutaan terimakasih kembalinya..
Untung ajah tahun kemaren ikutan temu pendengar di Jogja dech..
>> Iya.. malah jadi juara RSI Idol ya hehehe
Sayang sekali ya harus tutp siaran, padahal pendengarnya ratusan bahkan ribuan ekor (eh orang).
Selain itu pdhl Radio tetangga menginginkan lebih banyak pendengar, tapi apalah daya Men, sudah dadi keputusane om mediacorp. S’benarnya Kalo tetap berjalan secara harmonis dengan p’kembangan jaman kan sangat oK juga.
Gak sekalian MediaCorp na di bubarin he..he.. (mode on: maaf, kabur….)
>> HAHAHAHA.. No comment ah!
Selamat berpisah
>> Jangan pisah dong. Teteup kontak..
Pingback by Radio AM, kemana kau pergi? « Broadcasting Management on 3 September 2008:
[...] bukanlah radio gelombang SW pertama yang turun dari udara. Mengutip tulisan di suarane.org, sebelumnya tercatat Swiss International Radio, Slovak Radio, Finnish Public Broadcasting di [...]
Comment by Suwandi Bagas on 8 September 2008:
aku sedih, rsi tutup
Comment by bangsari on 15 September 2008:
waduh, jadi ikut sedih juga. sampeyan itu orang yang kerja dengan keihlasan luar biasa. meski tau radio sw semakin menyusut, semakin tidak didengar orang.
saya rasa sampeyan itu tak kalah ikhlasnya dengan para darwis….
Comment by wuryantopo A Sidik @dosQradio Cileungsi on 16 September 2008:
turut mereasa kehilangan, namun saya berharap tetap dapat mendengan berita dan nada lagu dari rsi via internet misalnya.
Comment by Achenk on 25 October 2008:
wah…sayang sekali saya belum sempat dengar siaran nya, kayak nya seru ya acara nya ???
Comment by suryaningsih on 5 April 2009:
pagi ini adalah pagi yang menyedihkan …
aku ketinggalan informasi ne …
padahal hampir satu tahun lebih RSI g siaran lagi
salam kangen buat temen2 mantan pendengar setia RSI … lam kangen juga buat mantan penyiar RSI dimana pun berada add face book ku di surya_ningsih84@yahoo.com ya???
makasihhh …
Comment by dodon on 13 April 2009:
gila,,,,,
sudah dari dulu aku nyari siaran rsi yang tayang tiap malam di radio di daerahku
tapi aku gak tau, kenapa kok bulun2 ini gak ada lagi,
ternyata,,,,
padahal aku suka banget acara rsi
Comment by khamid on 11 October 2009:
Semasa di kampung ayah saya selalu mendengarkan rsi dengan volume yang lumayan kuat jadi anggota keluarga yang lain pun terpaksa akur untuk ikut sama mendengarkan nya.bahkan kalau ayah kesulitan mendengarkan pakai radio sw biasa,saya akan menghidupkan radio transceiver ssb yang lebih bagus dalam penerimaan nya untuk kami dengarkan bersama sama.setelah saya merantau ke malaysia,saya sempatkan untuk berkirim e mail melalui rsi,meski saya tidak sempat mengikuti siarannya.program acaranya cukup menarik terutama buat kawula muda.terima kasih buat semua mantan penyiar rsi siaran indonesia.sekarang ini saya selalu mendengar radio lokal di kota saya melalui fasilitas radio streaming lewat internet.tapi kenapa kebanyakan pendengarnya kok dari kawasan pulau sumatera?
Comment by Indera Syahril on 2 December 2009:
Saya adalah pendengar setia RSI dari Malaysia.. Saya amat teruja mengikuti siaran dari negara kecil Singapura ini meskipun terdapat banyak siaran lain di negara saya sendiri..
Sedihnya bila mendapat berita bahawa RSI akan berpisah dengan khalayak pendengarnya untuk selamanya… Saya masih ingat ketika waktu mula-mula bekerja dahulu sekitar tahun 2000, saya ikuti siaran RSI selepas pulang waktu bekerja dalam pukul 6.45 petang… Pada ketika itu, rancangan kegemaran saya ialah “Musik Kala Senja”.. Aduh, cukup tersentuh hati bila terdengar lagu-lagu yang meruntun jiwa dan cukup menenangkan sekali…..
Kini, RSI tiada lagi… Tiada lagi suara ceria DJ-DJ nya mahupun jingle RSI sendiri… Sayang sekali, masa aku untuk bersamamu hanya sesingkat itu… Masa tidak mungkin bisa berundur….
Cadangan saya, moga kenalan tetangga (Singapura, Brunei, Indonesia, Filipina dan Thailand) yang bisa mendownload jingle RSI, boleh bersama-sama kita mendengarnya semula!! Walaupun hanya jinglenya sahaja….
Salam perkenalan di sebalik perpisahan dengan RSI…… Ikhlas dari saya……
Comment by Rane on 13 December 2009:
Encik Indra. Terimakasih sudah berkunjung. Memang RSI sudah tiada.. tapi semoga persahabatna itu tetap terjalin ya
Comment by uliah darojah on 15 December 2009:
duch dah lama nich gk ikutan acRa RSI cz sbuk bngt dengan kuliah,…
gmna nich kBar para penyiarnya an pendengarnya?mdh2n baek2 zz smuanya
bwt yang m ngerayain natal met natal y,….Ka penyiar kirimin kalender 2010,majalah,an buku bahasa inggris donk buat bahan bacaan sehari hari
Uliah Darojah
JL Sukasenang VI No 9 Bandung 40124
Comment by andri on 4 March 2010:
gw suka kali radio RSI siaran indonesia.sekarang udah pindah lagi di padang gak ada lagi dengar nya lagi””””
paling suka pada tika rosmeri…kotak pendengar……….
olehkah minta majalah nya;;;;;;;;;;;heeeeeeee
andri padang jln penggambiran permai blok F20.sumatra barat
Comment by Aries Subagyo on 27 May 2010:
RSI tutup karena gagal mencapai sasarannya. Kenapa gagal? Karena mengecewakan pendengarnya. Respon terhadap surat pendengar jauh dibandinng station lainnya. Belum termasuk janji-janji yang tinggal janji. Saya termasuk orang yang dikecewakan. Bang Rane, masih ingat saya Bang? hehehehe…