Radio SW Sebagai Sebuah Keniscayaan

feature photo

Oleh: Budi Setiawan (budisetiawan23.multiply.com)
Catatan: Ini adalah tulisan dari seorang rekan baik yang dulu sama-sama ‘berjuang’ di Radio Singapura International (alm) namun memutuskan untuk kembali ke Jakarta beberapa waktu lalu. Sekarang beliau bekerja di salah satu jaringan radio swasta di Jakarta. Thanks, bos!

Radio SW dimanapun adalah belalai propaganda pemerintah disuatu negara, termasuk RSI Siaran Indonesia yang merupakan bagian kehidupan penting kehidupan saya. Perasaan sedih menyelimuti saya ketika Rane mengabarkan RSI akan tutup.

Ingatan melintas ketika 21 Mei 1998 saya bergabung dengan RSI dimasa Indonesia tengah chaos karena kerusuhan rasial. Saya ingat benar air mata tiba tiba jatuh begitu saja ketika Cathay Pacific take off dan dari jendela saya melihat asap tebal menyelimuti Jakarta mengiringi kejatuhan Suharto. Dan ketika bergabung dengan RSI, saya bertemu dengan Pak Chandra Mualim, Fransiska Beding dan Fira Basuki. Ketika itu RSI Indonesia belum mengudara dan kami hanya membantu mempersiapkan naskah serta wawancara dalam bahasa inggris atau Indonesia dengan topik Indonesia.

Harap diingat, ketika kerusuhan rasial melanda Indonesia dan terjadi eksodus besar besaran kaum etnis Tionghoa Indonesia ke berbagai negara, Singapura adalah negara tempat mereka ”mengungsi” baik fisik maupun finansial. Kerusuhan Mei dalam perspektif Singapura adalah sebuah ”revolusi” yang menjungkirbalikkan hubungan bilateralnya dengan Indonesia. Tentu kita sudah maklum, kedekatan dua negara kala itu sangatlah dekat bahkan dalam tingkat pemimpin hubungan itu sudah sampai pada tingkat personal. Kedekatan itu bisa dibaca dalam buku “Lee Kuan Yew: From Third World to First

Nah, ketika reformasi melanda Indonesia yang menumbangkan para pemimpin yang punya kedekatan dalam segala hal tersebut, pemerintah Singapura memerlukan media yang menjadi perpanjangan suara mereka. Secara politis, perpanjangan suara itu sangat penting untuk menyuarakan posisi Singapura pasca kejatuhan Soeharto. Barangkali, disitulah relevansi munculnya keputusan untuk mendirikan Radio Siaran Internasional. Bahkan ketika itu, Mediacorp dahulu bernama TCS Television Corporation of Singapore menyiarkan program televisi yang bebas ditangkap oleh para bola Indonesia.

Keputusan pemerintah Singapura menggunakan media elektronik yakni radio dan televisi sangatlah penting karena menepis persepsi buruk yang mungkin saja diterima berkaitan dengan pergantian rezim di Indonesia. Disatu pihak, ada keperluan bagi Singapura untuk menyuarakan kebijakannya melalui radio, dalam hal ini Radio Singapura Internasional Siaran Indonesia. Tidak heran jika tugas pertama saya ketika itu adalah membina hubungan dengan radio radio di Indonesia untuk mau menjadi afiliasi. Pada waktu itu, saya mengajukan usulan agar aspek ekonomi bisnislah yang ditonjolkan dalam semua program RSI Indonesia disamping juga aspek aspek politik yang baik langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan kepentingan pemerintah Singapura.

Bergulir dari kebijakan kebijakan itulah muncul berbagai acara yang menyajikan program program bisnis dan hal hal yang berkaitan dengan Singapura. Dalam perjalanannya juga, Singapura menghadapi pasang surut hubungan dengan Indonesia sampai pada akhirnya ketika RSI ditutup Indonesia dipimpin oleh presiden Yudoyono disaat hubungan Singapura dan Indonesia memasuki era yang benar benar baru yakni hubungan yang rasional.

Hubungan demikian ini menciptakan era kestabilan hubungan dua negara yang bottom linenya sudah bisa dibaca oleh semua pengambil kebijakan. Bottom line yang dimaksud adalah apapun perbedaan pendapat yang terjadi solusinya tidak menimbulkan gejolak hubungan seperti yang pernah terjadi di era Habibie, Gus Dur atau Megawati. Disatu satu sisi, pandangan Singapura ke Indonesia sudah ditangani dengan intensifnya pemerintah Singapura mengundang wartawan media terkenal, bahkan infotainment yang dibiayai oleh STB yang harus diakui lebih efektif dan efisien.

Efektif dan efisien. Dua kata inilah yang sebenarnya menjadi kredo pemerintah Singapura dalam segala hal. Bahkan Perdana menteri Singapura Lee Hsien Loong menegaskan kebijakan pemerintahnya adalah ”no- nonsense policy”. Yang tidak masuk akal pasti akan diganti apapun biayanya. Termasuk wolftv bentukan Mediacorp yang melayani TV on demand dan saluran Sport di TV12. Bagi pemerintah Singapura, daripada mengeluarkan modal yang besar tapi hasilnya tidak banyak, lebih baik rugi tetapi tidak bleeding.

Itulah juga yang mungkin berlaku di Radio Singapura Internasional baik siaran mandarin, melayu, Inggris ataupun Indonesia. Harus diakui RSI belum mampu meraih pangsa anak muda sebagaimana yang diungkapkan Mediacorp dalam pernyataan persnnya mengenai alasan penutupan RSI. Ini disebabkan karena usia RSI yang jauh lebih muda ketimbang BBC, VOA, Radio Belanda, Radio DW.

Disaat radio radio pendahulu sudah menancapkan pengaruhnya sejak lama di Indonesia melalui siaran SW, RSI jelas ketinggalan dalam segi branding. Disatu sisi, RSI ”dipaksa’ berjalan cepat untuk melakukan konvergensi media dengan melakukan penetrasi ke internet. Perlunya waktu yang panjang untuk bersaing serta makin ditinggalkannya SW oleh kalangan anak muda ( bahkan mereka mungkin tidak tahu ada saluran SW di radio) mungkin juga menjadi dasar pertimbangan para pengambil kebijakan di Singapura untuk menutup Radio Singapore Internasional yang Siaran Indonesia dan Mandarinnya memiliki jumlah pendengar terbanyak.

Pertanyaan mengapa BBC, VOA, Radio Belanda, DW, Radio China Internasional, NHK Jepang dan RRI masih memakai frekuensi SW, maka jawabannya adalah karena kebijakan pemerintah yang memang masih memandang penting penggunaan SW sebagai media penyampai informasi kebijakan negaranya ke negara dimana mereka mempunyai layanan bahasa lokal. Inilah juga yang menyebabkan mengapa VOA menghapus siaran bahasa Melayu atau ketika Radio Veritas Asia di Philipina menutup siaran dalam bahasa Aceh. Jadi bukan karena SW tidak bisa menjangkau kalangan anak muda karena sejatinya hal itu memang tidak mungkin bisa tercapai. Anak muda sekarang lebih suka internet dan yang berbau fun. Bukan berita serius sebagaimana yang disajikan saluran radio internasional di SW. Segmen pendengar SW adalah kalangan terdidik yang berada dalam lingkungan yang akses media mereka sangat terbatas. Itulah sebabnya komunitas radio SW kebanyakan bukan di perkotaan. Jika target radio internasional di perkotaan maka mereka akan melakukan afiliasi dengan radio dan TV setempat sekaligus memaksimalkan penggunaan media internet. Jadi mereka boleh dikata ”habis habisan” mempertahankan kepentingan penyampaian informasi kebijakan politik luar negerinya.

Harap juga diingat, Singapura letaknya berdekatan dengan Indonesia, tidak seperti Amerika, Inggris, China atau Jepang. Kepentingan mereka mempertahankan radio internasional disaluran SW adalah sebagai rangka bangunan media penyampa informasi saja yang didukung dengan kekuatan afiliasi media lokal serta internet. Singapura dalam menutup RSI nampaknya memandang dia tidak perlu seperti negara lain karena begitu banyak pilihan media untuk menyampaikan kebijakannya, termasuk media dari mulut ke mulut karena turis asal Indonesia tetap yang terbanyak mengunjungi Indonesia.

Kebijakan ini juga menunjukkan trend bisnis radio yang bukan lagi boardcasting tetapi narrow casting. Radio bukan melayani semua pendengar dalam jangkauan yang sangat jauh, melainkan seperti tukang jahit atau toko khusus yang melayani kelompok kepentingan tertentu saja. Hanya dengan cara ini sebuah radio bisa survive. -BS-

* Gambar: http://en.wikipedia.org/wiki/Image:Shortwave_Radio.jpg

Popularity: 61% [?]

Ada 9 Tanggapan. »

  1. memang anak muda zaman sekarang tidak mengenal band SW. Dua bulan lalu saya membeli radio 11 band, FM, MW, SW1-9. Karena adik saya mengambil jurusan bahasa inggris, radio kuberikan pada adikku. Dan apa yang terjadi..? adikku kaget, dia berpikir kok bisa menerima sinyal radio dari amerika, inggris, belanda dsb. Adikku bertanya pada saya, pake alat apa kok bisa menerima sinyal radio dari luar negeri. Saya bilang tidak pakai apa-apa. Dan adikku senang sekali menerima radio itu, karena untuk melatih listening sekaligus mendengarkan berita-berita dari luar negeri.
    Sekalian mau tanya sama mas budi, dimana mencari pesawat radio yang 20 band..? kalo bisa di daerah jakarta saja, sekalian nama toko dan alamatnya ya.
    sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih.
    salam.

  2. Oh, jadi rsi udah almarhum? Innalilahi… Lama gak denger sw. Salah satu kelemahan sw, sinyalnya yg amat tidak stabil, apalagi di perkotaan…kalah sama band lain. Kalau di pedalaman, masalahnya ya blankspot itu, wajar jika sw semakin lama semakin rontok. Tapi …saya jadi rindu ama suara mas budi, mas rane, mbak fika rosmeri..

  3. memang pemancar radio sw ada dimana?ada di luar negeri?kalau ada yang tau alamat radio SW yang masih “on” di jakarta e-mail saya di trans_14@yahoo.co.id atau rezatv.blogspot.com atau muhammadrezanursaid.ictstudentclub.com makasih atau sms di 081380784111 ya…info nya… Saya suka dunia broadcasting…

  4. emang radio 20 band ada? setau saya cuma 11 band, kalo 11 band ada merk sony harganya 650 ribuan di jual di toko GE alias glodok ekeltronik di sarina thamrin dan di jln.arteri pondok indah, kebayoran lama

  5. Radio di Indonesia yang masih on salah satunya Voice of Indonesia.
    Bisa didengar di 9.525 kHz, mulai pukul 17:00 hingga pukul 04:00 WIB.

  6. Beberapa tahun lalu di Jabodetabek dan Lampung masih banyak siaran radio swasta yang mengudara di jalur SW. Entah kalau sekarang, saya sudah jarang mendengarkan.
    Diantaranya Radio Ron di Kampung Gondrong, Ciledug, Kota Tangerang, Radio Swara Mitra, Rama Radio, Radio Am-Go Station (semuanya di Jakarta & Tangerang, Radio Orisa di Lampung, dll saya lupa.
    Malahan saya juga punya QSL dari Radio Swara Mitra SW.

  7. Sebenarnya saya juga senang mengikuti radio dengan sw.Malahan bisa korespondensi waktu itu. Tetapi sekarang susah mengakses, gelombangnya tidak stabil malah sering kalah dengan radio lokal.Namun masih beruntung, banyak radio swasta lokal yang merelay siaran radio luar, bbc,voa, dll. Ada hal hal yang aktual yang dapat menambah wawasan sehingga memperlambat kepikunan.

  8. Wuih, senang sekali membacanya, kebetulan saya ingin membelikan hadiah untuk orang tua saya, adakah yang bisa memberikan informasi dimana bisa dibeli radio sw ini, tks

    Banyak mas. Di toko elektronik kayaknya masih banyak yang jual radio SW

  9. mendengarkan (istilah kami DX-ing) siaran SW tetap mengasyikkan. di kalangan DXer justru kondisi yang tidak stabil (karena propagasai matahari)menimbulkan rasa tersendiri. bayangkan, kita di indonesia bisa memantau siaran afrika. lebih bangga lagi ketika QSL card kita dapatkan. untuk anda yang pengin tahu soal SW, baik kegiatan DXing maupun receivernya, bisa gabung di Indonesian DX Club, idxc@hotmail.com atau buka web http://www.idxc.org kami punya buku panduan monitor.

    Rane: Persis! Itulah menariknya siaran SW yang sejak sebelum zaman internet sudah lebih dulu mendunia. Pertanyaan saya sebagai seorang dxers juga adalah, bagaimana kita harus menerima tantangan perkembangan zaman saat ini seiring makin majunya berbagai teknologi media, terutama internet? Rasanya larut dalam kejayaan masa lalu tidak akan membawa kita maju. Tapi apa yang bisa harus kita lakukan? Menarik nih mas kalau kita bisa angkat topik ini di idxc.org.. Saya punya banyak sekali teman2 dxers yang juga mempertanyakan hal yang sama. .

Tulis Tanggapan Anda