‘Lost In Translation’ in Bangkok! (UPDATED)

feature photo

: Sebuah Catatan Pribadi dari Liputan ke Bangkok

Selasa, 2 September 2008. Saya baru saja menuntaskan shift editing dari jam 4 subuh hingga 12 siang di kantor baru. Yang ada di kepala hanya bantal dan kasur hehe.. Dalam perjalanan pulang, saya menerima telepon dari kantor yang meminta saya untuk segera packing dan berangkat ke Bangkok dengan pesawat jam 4 sore. Tugas: meliput kekisruhan politik di Thailand yang sudah memasuki masa genting karena PM mengumumkan berlakunya keadaan darurat!

Tidak ada waktu untuk bertanya “Why me?”, tidak ada pula waktu untuk bertanya “How?”. Saya anggap saja itu sebagai kehormatan sekaligus tantangan tersendiri. Mengapa?

Tantangan Pertama: baru sebulan lebih saya bertugas di tempat baru, radio 938Live, sebuah radio berita di Singapura.  Bahkan baru beberapa hari saya ‘magang’ untuk jadi editor dalam bahasa Inggris, dan kini saya harus meliput dalam Bahasa Inggris. Ya mungkin bagi mereka yang mimpi saja sudah dalam Bahasa Inggris, ini bukan masalah besar. Tapi it’s a big deal buat saya..

Tantangan Kedua: ini pertama kali saya meliput ke wilayah yang sama sekali baru buat saya dan mendadak pula. Tidak ada waktu untuk menjalin kontak dengan nara sumber ataupun teman-teman jurnalis di sana karena dalam dua jam saya sudah harus ada di bandara. Ditambah lagi, tujuan peliputan saya adalah negara yang bukan berbahasa Inggris, dan bahkan saya pun tidak menguasai bahasa Thailand kecuali Sawat dee kraap.. haha

Singkat kata, saya dan Deng Qin Yi, seorang kawan dari bagian pemberitaan bahasa China mendarat di Bandra Suvarnabhumi dengan sedikit bertanya-tanya, bagaimana situasi di sana saat keadaan darurat diberlakukan.

Hal pertama yang kami lakukan mencari tahu situasi di sana sebisa mungkin. Dengan gaya SKSD (sok kenal sok dekat) kami menghubungi beberapa jurnalis lokal. Kami juga nekat berkeliling kota, khususnya ke kawasan Government House (daerah perkantoran pemerintah) yang selama 100 hari terakhir diduduki oleh massa dari People’s Alliance For Democracy atau PAD yang mengingatkan pada masa pendudukan gedung DPR/MPR oleh mahasiswa tahun 98. Itupun setelah menawar supir taksi yang akhirnya mau mengantarkan ke sana dengan bayaran 300 Baht atau hampir 4 kali lipat dari biaya taksi biasa, karena sudah malam dan jarang ada supir taksi yang mau ke sana. Toh bayaran sebesar itu jadi sangat masuk akal karena kami sempat dihadang pendukung PAD dan juga beberapa anggota pro pemerintah. Untung si supir taksi yang bahasa Inggrisnya juga pas-pasan membantu menjelaskan.

Setelah sedikit banyak mengetahui keadaan, ditambah informasi dari internet, mengudaralah laporan pertama malam itu juga yang saya lakukan dari dalam taksi. Sebuah laporan yang dibuat dengan sangat terburu-buru karena mengejar tenggat waktu dan juga bahasa yang berlepotan haha

Keesokan harinya baru kami menyadari bahwa situasi tidak se menakutkan yang dibayangkan. Turis masih berdatangan meski sempat khawatir akan adanya rencana mogok pekerja di bandara, masyarakat juga masih santai-santai seperti biasa. Situasi tegang memang terasakan di Government House yang diduduki demonstran, meskipun nampak sekali bahwa suasana di sana lebih mirip pasar malam dengan orang berjualan macam-macam hal mulai dari perlengkapan demonstrasi sampai pasar malam. Ini saya gambarkan dalam laporan-laporan saya seperti laporan yang satu ini.

Untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap, saya juga sempat menemui seorang analis politik dari Chulalongkorn University. Dari beliaulah saya benar-benar mendapat update tentang situasi yang tengah terjadi.

Tantangan berikutnya adalah menghubungi seorang petinggi demonstran dan juga pihak pemerintah. Untuk petinggi demonstran, saya sempat menunggui ‘dedengkot’ mereka Sonthi Limthongkul yang memang sangat fasih berbahasa Inggris. Sayang, penantian itu berakhir pada wawancara super singkat karena ia buru-buru dilarikan para pengawalnya. Tapi toh beruntung karena keesokan harinya saya mendapat wawancara ekslusif dengan Somsak Kosaisuk, juga seorang petinggi demonstran yang sangat populer di kalangan masyarakat Thailand.  Sebuah wawancara yang tidak mudah karena keterbatasan Bahasa Inggris beliau.

Sayang kami tidak berhasil mendapatkan wawancara dengan pihak pemerintah. Beberapa nara sumber yang kami peroleh tidak bersedia dikutip. Sementara upaya menunggui seorang petinggi dari parlemen Thailand juga berujung kekecewaan karena beliau tidak muncul di tempat yang telah dijanjikan. Okelah..

Sebuah laporan ringan juga saya buat tentang situasi di dalam Government House yang dikuasai demonstran. Sebuah laporan yang membuat tercengang banyak kawan-kawan di SIngapura, diantaranya karena saya menggambarkan situasi yang sangat tidak higienis, banyak yang sakit karena harus tidur di tenda-tenda yang tidak memadai, tapi tidak sedikit yang membawa keluarga lengkap, plus televisi dan antena parabola, bak piknik saja haha

Secara umum, saya menikmati liputan itu. Dalam hati saya merasa seperti inilah pengalaman kawan-kawan media asing yang tidak berbahasa Indonesia ketika mereka meliput di Jakarta dengan segala keterbatasan pemahaman Bahasanya. Saya terbiasa menggunakan bahasa ‘Tarzan’ dengan beberapa nara sumber. Bahkan untuk menjelaskan Government House saja kepada supir taksi bukan hal mudah. Bahasa standar akhirnya adalah ‘no like government‘ kalau mau liputan ke daerah demonstran anti pemerintah, dan ‘like government‘ untuk ke daerah yang pro pemerintah hahaha..

Dari segi bahasa Inggris, pada akhirnya saya meminta kawan-kawan editor di Singapura untuk sebisa mungkin memeriksa semua laporan saya sebelum mengudara, karena saya sadar, meski sedikit banyak bisa berbahasa Inggris, cara berpikir saya belum sepenuhnya dalam Bahasa Inggris. Inilah rasanya kelemahan kita jurnalis Indonesia jika ingin berkiprah di dunia internasional. Ayo rekan-rekan jurnalis, mari kita asah kemampuan Bahasa Inggris kita dari sekarang..

Terimakasih untuk pengalaman berharga ini. Sayapun jadi punya banyak kontak di Thailand dan semoga ini bermanfaat..

Berikut beberapa contoh laporan saya dalam bentuk MP3, jika berkenan mendengarkan. Laporan lain juga bisa disimak di situs 938live.sg sementara foto-foto hasil jepretan saya di sela-sela kegiatan liputan bisa dilihat di facebook saya atau klik saja disini. Oya, saya juga membuat sebuah esai foto yang saya simpan disini. Semoga berkenan..

Oya, terimakasih juga Enda Nasution yang sempat saya ganggu untuk minta kontak KBRI, sekiranya ada apa-apa saat saya liputan di sana. Alhamdulilah, semua lancar-lancar saja. Thanks Enda..! :)

Terimakasih juga buat kawan baik saya Emillia Amin dan Firman yang membantu mempertemukan saya dengan sejumlah analis politik yang memberi saya pemahaman yang lebih luas tentang situasi politik di Thailand. Terimakasih juga buat facebook yang membantu saya menemukan kontak beberapa aktifis politik Thailand, serta tak ketinggalan terimakasih buat audacity untuk software editingnya yang kembali terbukti bisa diandalkan!

***

UPDATE 10/09/08: Perdana Menteri Samak Sundaravej akhirnya digulingkan berdasarkan keputusan pengadilan. Semua gara-gara acara masak memasak yang dia pandu di televisi Thailand, yang dianggap sebagai ‘conflict of interest’ karena seorang Perdana Menteri menerima uang dari acara tersebut.. haha.. Seratus hari lebih berdemonstrasi menduduki Gedung Pemerintah, dan dia jatuh gara-gara acara masak di televisi. Beritanya ada disini. Sementara kalau mau lihat seperti apa acara masak-memasak yang dia pandu, silahkan lihat di youtube di sini: http://www.youtube.com/watch?v=UFzhey1YXv0

 
 
 

Popularity: 64% [?]

Ada 9 Tanggapan. »

  1. [...] Lost in Translation in Bangkok (suarane.org) [...]

  2. hanya ada 1 kata mas: SERU!

  3. Memang segala sesuatu yang pertama sangat menantang dan banyak dengan kejutan. So pasti kepercayaan yang diemban dapat dilaksanakan dengan baik Mas, Sukses ya Pak.

    Salam kenal dari saya

  4. Happy to be of help Pak. Sekarang sudah boleh selalu-selalu ke BKK buat liputan yah….

  5. Wah… sekarang di 983Live ya mas. Selamat yah.

    btw, ngerti apa orang bangkok omongin kagak yah?

  6. Kerja mendadak gitu biasanya jadi tantangan tersendiri ya, Pak? Pak Jaf aja yang udah gape bahasa Inggris masih bingung, bagaimana dengan kami…???? :D *membaca saja sulit*

  7. Ass. Pak… Met Idul Fitri yaaa… ingat dulu pernah dapat kiriman kartu Lebaran dari Pak Jaf (desainnya dengan foto2 penyiar RSI) hehehe. Maju terus, pantang mundur!

  8. Wah, lama baru bertandang lagi ke tempat ini. Selamat bertugas di tempat yang baru. Kisah perjalanannya sangat menarik, seakan-akan saya sendiri mengalami. Sungguh, Dulu saya pernah bercita-cita jadi jurnalis, tapi semua tinggal hayalan. Saat ini saya hanya mengelola blog kecilku dengan artikel dan reportase tanpa digaji :)

  9. Sekedar Info kalau kebetulan ada temen-temen sesama moslem di Suriname

    yang pengen denger Ngaji Bahasa jawa bisa download Ngaji audionya di
    http://www.lidahwali.com atau http://www.4shared.com/dir/9847299/a61ba4c7/sharing.html

    Dwi Joko S
    Matur suwun

Tulis Tanggapan Anda