Dari Email, MMS, Pos Sampai Uang Bungkus Ulang
: Suka Duka Di Balik Upaya Berinteraksi Dengan Pendengar
Catatan: Sebagaimana halnya dalam dunia bisnis dimana pelanggan adalah raja, di dunia radio sang raja itu adalah para pendengar yang bukan hanya mendengar secara pasif, tapi juga punya keinginan berinteraksi. Dalam konteks radio lokal mungkin ini bukan masalah. Tapi apa jadinya ketika mereka harus berinteraksi di sebuah radio yang secara fisik terletak beribu-ribu kilometer di seberang laut? Inilah sekelumit cerita dari upaya sebuah radio siaran internasional untuk menjangkau pendengarnya dari berbagai kawasan dunia.
Sebagai seseorang yang bekerja di sebuah radio siaran internasional, salah satu tugas kami adalah menjaring lebih banyak pendengar untuk bisa mendengarkan dan juga berinteraksi. Masalahnya surat sering tiba terlambat atau malah tersasar karena pendengar salah mencatat alamat surat yang didengarkannya dari siaran SW yang kresek-kresek. Jalan keluarnya adalah email!
Maka sibuklah kami mengimbau teman-teman pendengar untuk berkirim email ke alamat yang kami buat sesingkat mungkin dan mudah dihafal, walau harus didengarkan melalui siaran radio SW yang selalu gerimis. Berhasil? Ya mailbox kami mulai kedatangan email, tapi tak sedikit surat masuk yang marah-marah karena merasa imbauan kami untuk beralih ke email itu menyinggung perasaan mereka. Ini karena banyak pendengar siaran radio SW kami banyak yang bertempat tinggal di desa-desa atau menjadi TKI di luar Indonesia seperti saya
. “Saya ini orang kampung, orang bodoh, mas. Bukan orang pintar seperti anda yang sudah pandai main internet dan imel,” tulis salah satu surat dari pendengar yang saya terima suatu hari. Oke kalau itu masalahnya, maka saya bertekad untuk mengajari mereka yang merasa tidak pandai ini untuk berkirim email.
Sayapun merancang sebuah acara radio yang intinya memberikan penjelasan tahap demi tahap tentang cara membuat email dengan layanan email gratisan seperti Yahoo atau Hotmail di warnet-warnet yang kini sudah tersebar sampai ke pelosok-pelosok. Naskah acara itu kemudian di transkrip dan di adaptasi ke dalam beratus-ratus lembar selebaran cetak yang kami kirim ke alamat para pendengar.
Pada saat yang sama, website radio kami juga dilengkapi dengan form pengiriman yang memungkinkan para pendengar untuk berinteraksi dengan kami cukup dengan mengisi formulir online yang tersedia. Dengan sekali klik, surat mereka sudah akan masuk ke mailbox kami.
Hasilnya? Alhamdulillah, mailbox kami mulai bertambah ramai dari sebelumnya.
Namun tetap saja itu belum memuaskan beberapa pendengar lain yang mengeluhkan ketiadaan warnet di daerah mereka yang terpencil.
Menyadari bahwa akses handphone yang disertai layanan pra bayar yang murah juga sudah merasuk sampai ke pelosok-pelosok, bahkan lebih cepat dari internet, kami kemudian memperkenalkan layanan sms premium yang sayangnya baru bisa bekerjasama dengan beberapa provider telekom di Singapura, Indonesia dan Malaysia. Toh itu saja sudah cukup mendatangkan puluhan bahkan ratusan sms setiap malamnya selama siaran kami yang hanya dua jam per hari itu.
Lagi-lagi, keluhan masih saja berdatangan, kali ini dari pendengar yang datang dari luar Singapura, Indonesia dan Malaysia yang tidak bisa berkirim sms ke nomor premium yang kami sediakan, dan bahkan ada juga yang menambahkan sekaligus tidak bisa berkirim email. Jalan keluarnya adalah menyediakan nomor handphone biasa yang bisa dikirimi sms dari mana saja di atas bumi ini. Namun kendalanya adalah nomornya panjang, tidak seperti nomor premium yang cuma empat digit dan mudah dicatat oleh pendengar melalui gelombang SW yang ya.. ya.. memang kresek-kresek..
Jalan keluarnya? Iseng-iseng saya terpikirkan untuk mengajak pendengar mengirim email melalui mms. Saya bukan ahli IT, tapi bukankah kartu pra bayar sekarang juga sudah dilengkapi akses gprs? Waktu itu terpikirkan kalau kirim mms tanpa gambar dan hanya teks apa bisa? Setelah coba-coba, ternyata bisa. Cukup dengan compose message>send multimedia message>tulis pesan> dan masukkan alamat email lalu kirim. Hasilnya, yeaahh.. lagi-lagi mailbox kami kedatangan email yang dikirim dari handphone dari berbagai kawasan. Bahkan kami pernah terkejut menerima mms dari seorang pendengar di Malaysia yang ternyata pendatang ilegal dan tengah lari dari kejaran keamanan. Ia menulis email dari mms untuk mengabari keluarganya bahwa dirinya baik-baik saja, dan ia mengaku menulis pesan itu sambil bersembunyi di bawah jembatan. Buset!
Sementara itu pengirim surat tradisional terus berdatangan, meski tak sedikit yang mengaku perlu waktu beberapa lama –ada yang mengaku sampai sebulan– untuk bisa mencatat lengkap alamat surat yang kami bacakan di udara karena ya.. ya.. ya itu tadi, gelombang SW yang memang kresek-kresek. Ajaibnya, pernah ada satu surat pos yang tiba dengan selamat, padahal di permukaan amplop surat itu bukan alamat surat yang tertera, tapi alamat email. Percaya atau tidak, itu pernah terjadi…
Yang jelas berbagai upaya kami coba untuk menjangkau mereka, untuk menjaring interaksi dari mereka, teman-teman baik kami. Hati kami pun berbunga-bunga nyaris tak percaya bahwa banyak yang menyambut baik uluran tangan persahabatan kami untuk berkorespondensi. Kami juga terhibur dengan berbagai cerita-cerita menarik dari para teman-teman pendengar di berbagai kawasan di dunia dari kampung sampai kota bahkan juga dari tengah hutan lebat atau samudera luas (pelaut). Kami terharu karena mereka masih mau meluangkan waktu berkirim kabar, baik melalui email, website, mms maupun surat pos biasa yang tak jarang permukaan amplopnya sampai nyaris tertutup perangko saking mahalnya biaya pengiriman. Inilah nikmatnya bekerja di radio internasional yang kresek-kresek itu hehe..
Toh pada akhirnya kami harus tetap menggunakan jasa pos biasa untuk mengirim sekedar souvenir tanda persahabatan atau hadiah-hadiah kuis. Manalah bisa souvenir itu dikirim melalui email?
Sayang seribu sayang, upaya itu sering terganggu oleh sesuatu yang konon merupakan peraturan Pos dan Giro di Indonesia. Peraturan yang membuat teman-teman pendengar harus menerima paket atau surat kiriman kami dalam keadaan sudah terbuka, amplop yang sobek-sobek bahkan tak jarang isi yang sudah ludes entah kemana. Bahkan tak jarang diantara teman pendengar kami ada yang harus mengeluarkan biaya yang menurut pihak kantor pos di daerahnya adalah “uang bungkus ulang” atau “biaya antar” dan jumlahnya bisa mencapai antara 5 sampai 50 ribu. Hehhh?? Kami mencoba berpikiran baik bahwa ini mungkin saja menyangkut masalah keamanan atau pajak atau bea cukai atau apa hal lain. Maklum itu surat internasional yang bisa saja disalahgunakan. Tapi kenapa harus ada biaya bungkus ulang? Kenapa pula harus ada “biaya antar”? Memangnya si tukang pos yang mengambilnya sendiri di luar negeri dan mengantarnya ke depan pintu si penerima?
Singapura, 7 Januari 2007
Popularity: 12% [?]


Comment by distrojablai on 6 January 2007:
Mas rane, perbanyaklah bersabar? Itu adalah masukkan yang baik menurut saya. Lagian kagak nambah berat badan kok.
Comment by JaF - Rane on 26 January 2007:
Comment by K. Jodika on 6 March 2007:
Hallo mas Rane,
today tgl 6 maret 007 aku mo akses website rsi.sg koq gak bisa?kemaren-kemaren juga gak bisa? kenapa ya…
Oya usul besok acara temu pelanggan eh pendengar quiznya jangan gampang-gampang ya, kira-kira hanya yg dengerin radio saja yang bisa jawab.
Comment by Admin on 7 March 2007:
Halo Jodika. Iya tuh websitenya lagi down. Sudah saya lapor ke bagian IT. Dateng kan ke acara di Jogja..
Comment by iwan_renata on 14 May 2009:
saya juga berkerja di bagian penyiaran radio
di aceh kira”kapan kita bisa berkomonikasi