Ah, Teori

Teori lahir dari praktek, bukan sebaliknya. Inilah beberapa “teori” radio itu.

Radio 2.0

Integrasi dunia teknologi informasi dan ulasan situs-situs menarik dari dunia radio siaran.

Programa

Belajar dari program-program dan stasiun radio-radio menarik. Semoga terinspirasi.

Sosok

Belajar dari tulisan dan ulasan dari sosok-sosok inspiratif di dunia radio.

Suara

Rekaman-rekaman suara yang diunggah ke web. Ada yang menyebutnya podcast.

Home » Sosok

Radio dan Sejarah Proklamasi

Submitted by on 17 August 2008 – 3:07 am22 Comments | 11,458 views

Tahukah anda bahwa rekaman pembacaan naskah proklamasi oleh Bung Karno, yang hingga kini bisa kita dengar di Monas dan juga banyak beredar di internet itu, tidak direkam pada tanggal 17 Agustus 1945 ? Tahukah anda bahwa kabar tentang proklamasi yang pertama kali disiarkan melalui radio ke seluruh dunia tidak keluar dari mulut Bung Karno langsung?

Ya inilah kepingan sejarah kemerdekaan Indonesia yang melibatkan satu nama yang sangat penting dalam sejarah dunia radio siaran di Indonesia. Beliau adalah almarhum Muhammad Jusuf Ronodipuro, salah seorang pendiri Radio Republik Indonesia (RRI), bahkan yang pertama mengeluarkan slogan : “Sekali di Udara Tetap di Udara!”.

Berikut beberapa informasi tentang peran beliau di masa kemerdekaan Indonesia yang saya sarikan dari berbagai sumber (lihat tautan terkait di akhir artikel ini).

~~~

KABAR TENTANG PROKLAMASI

Banyak orang -ya paling tidak saya- berpikir bahwa  suara Bung Karno membacakan proklamasi itu mengudara juga di radio pada hari yang sama saat Indonesia merdeka. Ternyata bukan begitu ceritanya.

Jumat, 17 Agustus 1945, sekitar jam 17:30 WIB. Saat itu  Pak Jusuf sedang berada di kantornya, Hoso Kyoku (Radio Militer Jepang di Jakarta). Tiba-tiba muncullah Syahruddin, seorang pewarta dari kantor berita Jepang Domei dengan tergesa-gesa. (Catatan: Pak Jusuf sempat meralat kebenaran berita bahwa yang datang itu adalah sejarawan Des Alwi). Syahruddin yang masuk ke kantor Hoso Kyoku dengan melompati pagar itu menyerahkan selembar kertas dari Adam Malik yang isinya “Harap berita terlampir disiarkan”. Berita yang dimaksud adalah Naskah Proklamasi yang telah dibacakan Bung Karno jam 10 pagi.

Masalahnya, semua studio radio Hoso Kyoku sudah di jaga ketat sejak beberapa hari sebelumnya, tepatnya sehari setelah  Hiroshima dan Nagasaki di bom oleh Amerika. Jusuf kemudian berunding dengan rekan-rekannya, diantaranya Bachtiar Lubis (kakak dari Sastrawan dan tokoh pers Indonesia Mochtar Lubis) dan Joe Saragih, seorang teknisi radio.

Beruntung, studio siaran luar negeri tidak dijaga. Saat itu juga dengan bantuan Joe, kabel di studio siaran dalam negeri di lepas dan disambungkan ke studio siaran luar negeri. Tepat pukul 19:00 WIB selama kurang lebh 15 menit Jusuf pun membacakan kabar tentang proklamasi di udara, sementara di studio siaran dalam negeri tetap berlangsung siaran seperti biasa untuk mengecoh perhatian tentang Jepang.

Belakangan tentara Jepang mengetahui akal bulus Jusuf dan kawan-kawannya. Mereka pun sempat disiksa. Beruntung mereka selamat. Malam itu pun radio Hoso Kyoku resmi dinyatakan bubar, tetapi dunia saat itu juga sudah mengetahui kabar tentang proklamasi langsung dari mulut Jusuf Ronodipuro. Sayang rekaman suara ini tidak diketahui lagi keberadaannya, atau jangan-jangan sudah tidak ada mengingat malam itu juga radio tersebut ditutup oleh Jepang.

~~~

CIKAL BAKAL RADIO REPUBLIK INDONESIA

Gara-gara luka-luka dipukuli tentara Jepang, Jusuf Ronodipuro berobat ke seorang dokter bernama Abdurrahman Saleh. Mengetahui apa yang baru dilakukan oleh Jusuf, Abdurrahman Saleh kemudian menyarankan agar Jusuf membuat pemancar radio sebagai sarana komunikasi pemerintahan Indonesia yang baru dengan rakyat.

Kabarnya diperlukan waktu tiga hari bagi Jusuf dan kawan-kawannya untuk merakit pemancar itu. Laboratorium milik dokter Abdurrahman Saleh di belakang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, RSCM, pun kemudian dipakai sebagai ruang siaran. Maka berdirilah radio Voice of Indonesia yang siaran 2 jam sehari, satu jam dalam bahasa Indonesia, satu jam dalam Bahasa Inggris.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa untuk masuk ke studio ‘radio gelap’ tersebut harus melewati kamar mayat RSCM yang baunya busuk, sehingga setiap habis siaran bajunya pun tertular bau busuk itu dan harus direndam selama 2 hari untuk menghilangkan baunya.

Tetapi dari ruangan berbau busuk mayat itulah, Voice of Indonesia mengudara dan menjadi media utama untuk mengabarkan perjuangan Indonesia kepada rakyat dan juga ke masyarakat internasional. Bung Karno sendiri pertama kali berpidato di radio tersebut pada tanggal 25 Agustus 1945 sementara 4 hari kemudian Bung Hatta juga mengudara dari studio yang sama.

Voice of Indonesia kemudian menjadi cikal bakal Radio Republik Indonesia. Abdurrahman Saleh adalah direktur RRI yang pertama, dan Jusuf Ronodipuro kemudian dikenal sebagai orang pertama yang memperkenalkan slogan “Sekali Di Udara, Tetap Di Udara!

~~~

MEREKAM PEMBACAAN NASKAH PROKLAMASI

“Proklamasi itu hanya satu kali!” begitu kata Ir. Sukarno dengan nada marah kepada Jusuf Ronodipuro pada suatu hari di awal tahun 1951. Dalam pengakuan kepada salah seorang kerabat dekatnya Louisa Tuhatu, Jusuf Ronodipuro dengan rendah hati mengatakan, kebetulan sekali saat RRI baru saja membeli peralatan baru dan mendadak pula muncul ide di benaknya untuk merekam suara Bung Karno membacakan proklamasi.

Meskipun sempat ‘ciut’ juga dimarahi oleh Sang Pemimpin Besar Revolusi, tetapi Jusuf tetap bersikukuh. “Betul, Bung. Tetapi saat itu rakyat tidak mendengar suara Bung,” bujuknya. Bung Karno pun bersedia merekam suaranya tengah membacakan naskah proklamasi. Ini terjadi hampir 6 tahun setelah proklamasi yang asli dibacakan.

Nah, kebenaran cerita ini sempat menjadi kontroversi tersendiri. Bahkan -bisa ditebak- nama seorang Roy Suryo pun sempat terbawa-bawa disini. Tapi sudahlah. Itu urusan dia hehe.

Toh ada beberapa bukti yang bisa memperkuat kebenaran cerita ini. Kalau anda dengar pembacaan naskah proklamasi, maka akan terdengar kualitas rekaman yang relatif bersih, tidak ada suara-suara latar apapun. Senyap, seolah direkam di studio. Yang ada hanya suara Bung Karno. Padahal diasumsikan saat itu suasana saat proklamasi dibacakan sangatlah ramai. Nada suara Bung Karno pun tidak berapi-api seperti biasanya saat ia berpidato, bahkan ada kesan santai.

Bukti lain diceritakan oleh Louisa Tuhatu, orang terdekat Jusuf Ronodipuro di blognya (silahkan temui tautannya di akhir artikel ini). Anda mungkin tahu bahwa dalam naskah asli proklamasi yang hingga kini masih tersimpan rapi, tercetak tanggal “ hari 17 boelan 8, tahoen 05 “, sesuai penanggalan Jepang yakni tahun 2605 yang sama dengan tahun 1945. Tetapi dalam pembacaan saat rekaman, Bung Karno menyebutkan tahun 1945 dan bukannya tahun 05 atau 2605.

Silahkan bandingkan tanggal pada naskah, dengan tanggal pada rekaman pembacaan naskah proklamasi di bawah ini:

naskahproklamasi.jpg

Demikianlah sekelumit catatan sejarah tentang sosok Jusuf Ronodipuro dan bagaimana radio berperan besar pada masa proklamasi kemerdekaan.

Muhammad Jusuf Ronodipuro meninggal pada tanggal 27 Januari 2008 dalam usia 88 tahun. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Berita wafatnya beliau tidak banyak beredar, karena pada hari yang sama banyak media lebih terfokus pada kematian Suharto.

Toh Indonesia akan selalu mengenang beliau sebagai salah seorang yang paling berperan mewartakan kemerdekaan Indonesia kepada seluruh dunia, selain juga berbagai jasa lainnya yang bisa anda baca selengkapnya dalam tautan di bawah ini.

Semoga Allah membalas semua jasamu di alam sana, Pak Jusuf!

Sekali Di Udara, Tetap di Udara!!!

*disarikan dari berbagai sumber oleh Rane Hafied (suarane.org). Jika ditemukan ada fakta sejarah yang salah, mohon disampaikan ke penulis dengan mengisi kotak komentar di bawah ini atau mengirim email ke jafmail @gmail.com. Terimakasih.

 ~~~

Tautan Terkait :

- Blog Louisa Tuhatu
Salah seorang kerabat dekat Jusuf Ronodipuro

-  Antara.co.id
In Memoriam Jusuf Ronodipuro

- Kompas.co.id
Jusuf Ronodipuro, Penyebar Kabar Proklamasi

- Biografitokoh.com
Jusuf Ronodipuro, Pemekik Awal Semboyan RRI

~

Sumber Gambar:

- Jusuf Ronodipuro muda: Wiki Bahasa Jawa (dengan beberapa penambahan)

- Naskah Proklamasi:  Wikipedia  (dengan beberapa pengeditan)

~

 Sumber Audio:

- Di reproduksi dari rekaman kaset (sumber NN)

Popularity: 100% [?]

22 Comments »

  • kang gery says:

    sejarah yang terlewat seperti ini penting untuk diangkat, maksih mas rane

  • adhi says:

    salam merdeka!
    Sebuah sejarah yang menjadi motivasi kami generasi muda indonesia berkarya dalam dunia siaran radio bersama RRI “Sekali diUdara tetap diudara”

    salam Pro2 RRI surabaya

    note : mohon ijin untuk mengutip sejarah ini mas.. :)

    >> Silahkan mas Adhi.. Salam merdeka juga dan salam kenal, tentunya.. (JaF/Rane)

  • goiq says:

    waaah saya orang radio juga, tp masih amatir. heheheehhe.. informasi yang tidak semua orang tahu.

  • tuteh says:

    Sekali merdeka, semoga terus merdeka! :p
    Paaaaak… met puasa yaaaa… salam buat Nyonya ‘Marisha Haque’ :p hehehe

  • agus dhanang purnomo says:

    TETEP MERDEKA COOOOOOOI

  • Raynia says:

    Mas Rane,

    Rekaman obrolanku dengan Mbak Louisa Tuhatu mengenai penggalan sejarah ini sudah ku upload di webku, silahkan mas… thanks buat inspirasinya, mudah mudahan berguna buat teman kita yang lain ya…

    Warm Regards
    Nia

  • a says:

    harus nya semangat bangsa indonesia harus tetap seperti dahulu

  • anak kecil tapi ngerti sejarah says:

    sayu sbgai ‘nak2 generasi penerus bangsa sangat berterimakasih kepad:
    -Ir.soekarno
    -bung hatta
    -dan,bung rane

  • daniel esaputra says:

    merdeka…!merdeka…!

  • DzN says:

    Maz, tanya…
    Koq ada sumber juga yang mengatakan bahwa Proklamasi itu disiarkan oleh radio Amatir pada masa itu ya?!
    Klo gak salah pemancar radio yang dibuat untuk menyiarkan proklamasi itu justru bukan Jusuf Ronodipuro melainkan Gunawan.
    Yang bener yang mana ya mas?
    Trima kasih sbelumny atas bantuanny…

  • Taufik Yulianto, S.Pt., S.sos says:

    Selamat Hari Bakti RRI ke 64, 11 September 1945-11 september 2009. Sekali di Udara Tetap di Udara, slogan yang pertama kali diperkenalkan Jusuf Ronodipuro. akan senantiasa melekat di jiwa angkasawan/ti RRI sampai kapanpun. Semoga elemen bangsa tidak pernah melupakan sejarah arti penting keberadaan RRI di alam kemerdekaan 45, 64 tahun silan. Untuk anda dimanapun berada, perdiketahui bahwa Tema hari radio tahun 2009 ini adalah “PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BERBASIS RADIO”

  • wawu says:

    Wah, ini materi yg bagus untuk melengkapi bahan penulisan buku 8 sejarah “WINDU RRI SURAKARTA”.

  • andini says:

    the best indonesia,cuz bisa dpt kmrdkaan sndri

  • Rudy Hartono says:

    Its the best kak Rane, berita ini juga mau aku sadurrrr,, bisa khan ?? Merdeka RRI-ku..

  • Rane says:

    Rudy: silahkan rud..:)

  • helmy says:

    Salam Merdeka,,
    Terimah kasih atas para pejuang yang t’lah berjasa penu bagi bangsa indonesia. Hingga bisa menjadi bangsa yang bEbas dari jajahan. Namun tidak berarti bebas dari korupsi….!!!
    harapan saya ke depan, Indonesia bisa lebih maju lagi Dan bisa terbebas dari korupsi. AmieeeEEnnNN..

  • rama says:

    pada jaman dahulu kalah pada tanggal 1999 lahir bangsa yaitu indonesia itu terdiri dari orang cinna,malesia,inggeris,indonesia,dll

  • stepanus says:

    Artikel informatif ini menambah wawasan sejarah bagi kita generasi sekarang, terlepasa dari kontroversi. Sejarah sendiri tak pernah bersih dari kontroversi. Yang terpenting adalah pelajaran yang bisa kita petik untuk jaman kita.

    salam hot dari Palu

    Salam kembali buat teman2 di Palu

  • sandy says:

    salam bangsa indonesia merdeka!!!!!!

  • SAYA agak terkejut, ketika seorang saksi sejarah mengatakan bahwa Proklamasi Kemerdekaan terselenggara di Rengasdengklok 16 Agustus 1945 dan oleh karena itu peringatan Hari Kemerdekaan adalah yang di Rengasdengklok dan bukannya pada 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 Jakarta.

    Sekilas, saya menyukai adanya perbedaan karena perbedaan itu adalah rahmat.Tetapi selama masih belum bisa membuktikan secara otentik, maka kita sepakat untuk memilih 17 Agustus 1945 sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Memang sulit untuk membuktikan apakah sumber-sumber itu otentik atau tidak, karena para pelaku sejarah sudah banyak yang tua-tua, daya ingat mereka sudah turun, bahkan ada yang sudah meninggal dunia.

    Sumber terakhir itu juga mengatakan, Soekarno dan Hatta membacakan proklamsi yang ditulisnya dan menaikkan bendera sang saka merah putih di Rengasdengklok. Ditegaskan, Soekarno setuju saja dengan argumen para pemuda yang mengamankannya ke Rengasdengklok.

    Hal ini bertolakbelakang dari buku yang saya tulis: Dasman Djamaluddin,Butir-butir Padi B.M.Diah (Jakarta:Pustaka Merdeka, 1992), halaman 75-76, sejak semula Bung Karno marah dan memegang batang lehernya serta membuat gerakan seakan-akan menggorok leher. Dengan demikian, ia hendak menunjukkan bahwa ia tidak setuju meskipun disembelih sekali pun.”Biar pun saya digorok, saya tidak akan melakukan Proklamasi,” ujar Bung Karno. Selanjutnya diungkapkan bahwa Bung Hatta setuju dengan sikap Bung Karno.

    Perlu diketahui B.M.Diah yang bukunya saya tulis adalah juga saksi sejarah. Beliau adalah salah seorang saksi sejarah, satu-satunya seorang wartawan yang hadir ketika Bung Karno-Hatta merumuskan proklamasi pada tanggal 16 Agustus 1945 malam di Rumah Maeda (sekarang menjadi Museum Naskah Perumusan Naskah Proklamasi) di jalan Imam Bonjol no.1 Jakarta. Beliau pula yang menyaksikan, Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi setelah ditulis Bung Karno. B.M.Diah berdiri tepat di belakang Sayuti Melik yang sedang mengetik.

    Jadi untuk sementara saya mengatakan, bahwa rumusan naskah proklamasi itu baru diperbincangkan tanggal 16 Agustus 1945 malam di rumah Maeda, bukannya di Rengasdengklok.Kalau sudah diproklamsikan di Rengasdengklok, mengapa Bung Karno dua kali membacakan Proklamasi. Kalau benar (sekali lagi benar), bukankah di dalam hukum berlaku hal-hal yang baru menafikan hal-hal yang lama ? Jadi yang dipergunakan adalah yang baru? Semoga menjadi bahan masukan. Terimakasih (http://dasmandj.blogspot.com)

    Pak Dasman, terimakasih sekali. Sebuah sisi menarik lain dari sejarah. Sangat menarik untuk kami yang muda2 ini pak. Salam.

  • historian says:

    informasi yg sangat bermanfaat, seharusnya hal2 eperti ini harus di masukkan kedalam Kurikulum pembelajaran anak2 sekolah…

  • Artikel sejarah yang bermanfaat…
    Selamat Ulang Tahun Indonesiaku…
    Semoga di usia yang ke-67 ini, engkau bangkit menjadi bangsa yang maju berkembang dengan segala potensi SDM yang mumpuni. Semoga kami para penghuni tanah ini, sekaligus pewaris dari para pejuang dan ulama dapat turut serta memanfaatkan SDA dengan sebaik-baiknya, mengoptimalkan peran fungsi sebagai warga negara yang baik sehingga kepercayaan dirimu diakui oleh bangsa lainnya. Banyak doa kami untukmu hingga sudah tak muat lagi dalam kantung pe
    rmohonan. Secara tulus ikhlas kami ucapkan banyak terima kasih atas apa yang telah engkau berikan kepada kami. Secara sesal diri kami pun mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena kami belum bisa memberikan yang terbaik untukmu. Indonesiaku, semoga engkau hangus leburkan para Koruptor dan mengangkat para pendidik yang berjuang untuk mencerdaskan bangsa. Salam hangat kami untuk Ir.Soekarno (Bapak Proklamator serta Presiden Republik Indonesia sepanjang masa), sampaikan pula kepada Bung Hatta, Wali Songo (khususon Sultan Syarif Hidayatullah), Syekh Nawawi Al-Bantani, Raja Ali Haji, Budi Utomo, Ki Hajar Dewantara, RA. Kartini, Chairil Anwar, Sanusi Pane, Seluruh Ulama dan Seluruh Pahlawan tanpa terkecuali. Sampaikan bahwa kami merindukan mereka.

    Tubagus Rangga Efarasti (Gelas Kosong)
    Bumi Indonesia, 17 Agustus 2012

    Klik di sini: http://tubagusranggaefarasti.blogspot.com/2012/08/dirgahayu-republik-indonesia-ke-67.html untuk men-download MP3 Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 Negara Republik Indonesia.

    ***

7 Pingbacks »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.